Thariqat Membebaskan Orientasi Materialisme

Kenapa?
Manusia itu sesungguhnya memiliki dua rumah. Pertama adalah rumah jasadnya, dalam bentuk dunia ini. Kedua adalah rumah ruhnya, yaitu alam tinggi. Oleh karena hakikat manusia terletak pada ruhnya, maka manusia merasakan keterasingan di dunia ini. Perasaan terasing inilah yang kemudian memicu sebuah “pencarian spiritual” (spiritual quest) dari seorang manusia, dan dengan itu pula ia memulai perjalanan spiritualnya menuju Tuhannya. Namun karena Tuhan sebagai “tujuan akhir perjalanan manusia” bersifat rohani, manusia harus berjuang menembus rintangan-rintangan materi agar ruhnya menjadi suci.

Harus dibaca juga..

Karena itulah kita, setiap muslim, harus berthariqah atau bertarekat?
Istilah tarekat bisa dipahami dalam dua pengertian: Pertama, tarekat dalam pengertian jalan spiritual menuju Tuhan, dan ini meliputi metode sufistik dalam mendekatkan diri kepada Tuhan. Kedua, dalam pengertian, persaudaraan suci di mana berkumpul sejumlah murid dan seorang mursyid, yang dibantu oleh para wakil mursyid. Nah, berkaitan dengan pembicaraan kita sebelumnya, tarekat dalam pengertian pertama ini yang perlu kita fahami dari perspektif etimologinya terlebih dahulu. Tarekat yang berasal dari kata thariqah artinya adalah jalan kecil (path), dan dalam konteks Timur Tengah berarti jalan setapak menuju waadi (oase). Terkadang jalan kecil tersebut tertutup oleh pasir yang terbawa angin padang pasir yang bertiup kencang. Untuk mengenali jalan kecil tersebut diperlukan pengetahuan yang detil terhadap tempat tersebut, sehingga kita masih dapat mengenal jalan menuju oase itu meski sama sekali telah tertimbun oleh pasir. Dari sini dapat kita fahami bahwa jalan spiritual menuju Tuhan yang kita sebut dengan tarekat ini, tidak mudah kita kenal seperti mudahnya kita mengenal jalan raya yang bernama syari’ah. Itulah sebabnya banyak orang yang tidak bisa melihat melihat adanya jalan tersebut dan menganggap tarekat sebagai sesuatu yang tidak berguna, dibanding jalan raya yang mudah dikenal (fiqh; red). Nah, untuk menjawab perasaan terasing yang memicu sebuah “pencarian spiritual” (spiritual quest) dari seorang manusia, ia membutuhkan tarekat sebagai jalan spiritualnya menuju Tuhannya.

Apa yang menyebabkan seseorang tidak dapat melihat tarekat sebagai jalan kecil menuju oase ?
Umumnya mereka yang sudah tercebur dalam pola pikir materialisme yang membuat tumpul indra dan akalnya. Bagi orang yang tidak mampu melihat jalan tersebut dengan indra dan akalnya (karena memang tidak bisa dilihat semata-mata dengan mata lahir), mereka akan beranggapan bahwa orang-orang yang sedang meniti jalan kecil yang tertutup pasir itu adalah orang gila yang sedang mengikuti halusinasi atau ilusi dan tersesat, sehingga tidak pernah sampai pada tujuan.

Itu sebabnya para sufi menawarkan berbagai cara dalam menggambarkan pengalaman dijalan kecil, jalan spiritual menuju Tuhan ?
Tepat sekali. Sebagian sufi ada yang menggambarkannya dengan istilah maqamat atau stasiun-stasiun, yaitu fase-fase atau babak-babak, dari titik awal sampai titik akhirnya. Ibarat seseorang yang sedang melakukan perjalanan menuju sebuah kota, mereka harus melewati berbagai stasiun dengan tanda-tandanya yang harus mereka kenali, dan mengetahui juga di mana posisi mereka saat ini. Dengan demikian seseorang dapat mengevaluasi kemajuan yang diraih dalam perjalanan tersebut. Ada juga sufi yang menggambarkan perjalanan spiritual secara tidak langsung dengan menyebutkan maqamat secara formal dan tegas, tetapi menggambarkannya secara simbolis, berupa novel spiritual, atau perumpamaan atau dengan deskripsi prosa yang tidak dengan spesifik menamakan tahap-tahap perjalanan mereka, seperti Farid al-Din ‘Aththar, dengan bukunya Mantiq al-Thayr, Ibn ‘Arabi dalam bukunya Risalat al-Anwar dan Jalal al-Din Rumi, terutama dalam al-Matsnawi.

Oleh karena jalan ruhaniah yang dilalui setiap penempuh dunia ruhani adalah jalan kecil yang tertutup pasir maka perlu kehadiran seorang mursyid untuk mendampingi ?
Mursyid artinya penunjuk jalan, yaitu penunjuk jalan bagi seorang yang sedang melakukan perjalanan spiritual. Tetapi karena sebagian besar manusia tidak mengetahui jalan tersebut, mursyid diperlukan bagi mereka yang hendak meniti jalan spiritual. Karena tanpa seorang mursyid, seseorang yang belum mengetahui jalan bisa saja, bahkan kemungkinan besar akan kesasar dan tidak pernah mencapai tujuannya. Oleh karena itu, kehadiran seorang mursyid sangat diperlukan kalau ia ingin betul-betul sampai ke tempat tujuan. Lebih lagi, kalau kita menyadari bahwa perjalanan spiritual bukanlah perjalanan yang mudah tapi perjalanan yang panjang, terjal dan berliku-liku yang sangat membutuhkan orientasi yang sangat jelas, determinasi yang membaja dan bimbingan serta nasihat yang senantiasa diperlukan seorang untuk meneruskan perjalanan spiritualnya sehingga sampai ke tempat tujuan.

Menyoal mursyid, ada ungkapan popular, “hendaknya Anda dengan mursyid seperti mayat ditangan yang memandikannya.” Bisa Anda jelaskan ?
Ungkapan tersebut telah menimbulkan penafsiran yang ekstrim, di mana sebagai mayat kita tidak boleh mempertanyakan otoritas, wewenang sang mursyid, bahkan seolah-olah kita tidak boleh menanyakan sesuatu apa pun dan memasrahkan semuanya kepada sang mursyid. Nah penafsiran macam ini dapat menyesatkan, sekaligus menimbulkan image negatif terhadap tasawuf.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

agen slot onlineAplikasi Capsa Susun onlineDaftar Bandar Ceme Onlineion casinoBaccarat Onlineion casinoBaccarat Onlinedaftar situs judi slot online terpercayaBandar Togelsbobet casinoSabung Ayamhttps://run3-game.net/https://www.foreverlivingproduct.info/https://rodina.tv/Bandar Sakong OnlineAgen Slotndomino99newmacau88ndomino99fifaslot88newmacau88newmacau88Live Casinocapsa susunhttps://daftardadu.online/