Tasawuf PANDANGAN Syaikh Abdul Qadir Al-Jaelani (bag 2)

Janganlah kalian melanggar lalu kalian tidak mengamalkan apa yang terdapat di dalam al Quran lalu kalian menciptakan amaliah serta ibadah untuk diri kalian sendiri sebagaimana Allah Swt berfirman mengenai orang-orang yang telah sesat dari jalan yang lurus:

Harus dibaca juga..

“Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan Rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. dan mereka mengada-adakan rabbaniyyah Padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.”

Ia juga berkata:
Wahai kaum mintalah nasehat kepada al Quran, yaitu dengan mengamalkannya dan janganlah kalian berdebat di dalamnya. Akidah adalah kalimat yang pendek sedangkan amaliyah begitu banyak. Kalian harus beriman kepadaNya. Benarkanlah dengan hati kalian dan beramalah dengan anggota tubuh kalian. Sibukkanlah diri kalian dengan sesuatu yang bermanfaat bagi kalian dan janganlah kaIian menoleh kepada akal yang memiliki kekurangan dan hina.

Wahai kaum Sufi…

Dalil naqli tidak dapat dianalisa mengunakan akal, dan nash al Quran tidak dapat ditinggalkankan lalu digantikan dengan qiyas. Seorang saksi tidak dapat ditinggalkan begitu saja dan anda hanya bersandar pada sekedar dakwaan harta manusia. Suatu dakwaan tidak dapat diambil dengan tanpa bukti. Nabi Muhammad Saw bersabda:

“Apabila orang-orang mengambil dakwaan mereka, maka niscaya suatu kaum dapat mengklaim darah suatu kaum dan harta mereka tetapi saksi bagi yang melakukan dakwaan dan sumpah bagi orang yang mengingkarinya.”

Syaikh Abdul Qadir al Jaelani berkata saat ia memberikan wasiat kepada anaknya Syaikh Abdur Razaq (kakekku) untuk berkomitmen pada Thariqah:

“Hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah Swt dan berbuat taat kepadaNya. Janganlah engkau takut kepada siapapun selain Allah Swt. Janganlah engkau berharap pada seseorang selain Allah Swt. Seluruh kebutuhan hendaklah disandarkan kepada Allah Swt dan mintalah semuanya kepadaNya. Janganlah engkau percaya kepada seseorang selain kepada. Allah Swt dan janganlah engkau bergantung kecuali kepadaNya. Hendaklah engkau berpegangan kepada tauhid, tauhid dan tauhid. Sesungguhnya terpadunya segala sesuatu pada tauhid.”

Lalu beliau berkata: “Lewatlah kalian melalul berita tentang sifat Allah yang ada. Hukum dapat berubah sementara ilmu pengetahuanNya tidak dapat berubah. Hukum dapat dihapus dan ilmu tidak dapat dihapus.

Aku berwasiat kepadamu wahai anakku untuk bertakwa kepada Allah dan berbuat taat kepadaNya, menetapkan syariat dan menjaga batas-batasnya. Ketahuilah wahai anakku sesungguhnya thariqah kita ini didasarkan pada al Quran dan Sunnah, lapang dada, kedermawanan, mencegah keburukan, mengemban derita, dan mewngulurkan tangan  menolong sesame kawan.

Di sana terdapat banyak nash-nash al Quran juga yang menunjukkan keselamatan Thariqah Syaikh Abdul Qadir Jaelani dan generasi setelahnya dari penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian orang yang mengklaim tasawuf.

Adapun pemahaman arti tasawuf menurut Syaikh Abdul Qadir al Jaelani, beliau telah memberikan definisi dengan ungkapannya:

Tasawuf adalah berbuat benar pada Allah Swt, beretika dengan baik kepada makhluk Allah Swt.

Ia juga mendefinisikan tasawuf dengan ucapannya: Tasawuf adalah takwa kepada Allah Swt, berbuat taat kepadaNya, melaksanakan syariat yang bersifat lahiriah, kelapangan dada, kemurnian jiwa, keceriaan wajah, berusaha murah hati, mencegah bahaya dan mengembannya, miskin, menjaga kehormatan para syaikh, bergaul dengan baik kepada sesama saudara, nasehat bagi yang muda dan tua, meninggalkan pertikaian, berlemah lembut, konsisten, mendahulukan kepentingan orang lain, menjauhkan diri dari menyimpan persediaan makanan, tidak bergaul pada orang yang bukan peringkat mereka dan saling membantu di dalam masalah agama dan dunia.

Dari sini menjadi jelas bagi kita bahwa Syaikh Abdul Qadir al Jaelani ra mengartikan tasawuf dengan pengaturan hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannnya dengan benar dalam beribadah kepadaNya di satu sisi, dan pengaturan hubungan manusia dengan manusia lainnya dengan muamalah yang baik dan berprilaku yang lurus dari sisi Iainnya.

Dan akhimya aku ingin memberikan wasiat pada kalian semua para peserta, kongres Sufi yang diorganisir oleh  Nahdhlatul Ulama, melalui wasiat kakek yaitu Sayyid Abdul Qadir al Jaelani dan (hendaklah kIta) mengajarkan kepada anak-anak (kita) kemajuan di bidang teknologi dan dinamikanya di bawah panji tasawuf yang hakiki dan mendidik tasawuf yang sejati.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.