Surat Sufi Imam Syadzili kepada Sidi Ali bin Makhluf

Syeikh Abul Hasan Asy-Asyadzily
Imam Syadzili berkirim surat kepada Sidi (tuanku) Ali bin Makhluf di Tunis. Almarhum dimakamkan di sebuah ketinggian (burj) di Tunis. Berikut ini petikan surat tersebut:

Harus dibaca juga..

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam. Shalawat kesejahteraan dan salam kedamaian semoga senantiasa terlimpah kepada junjungan kita, Muhammad, penutup para utusan.

 

Dari Ali bin Abdullah yang dikenal dengan nama Syadzili kepada anandanya yang baik budi, diberkati, murni nan suci, terbebaskan dari jalur-jalur kerusakan, Ali bin Makhluf ash-Shaqali.
Assalamu‘alaikum warahmatullah wabarakatuhu.

Ketahuilah, semoga Allah senantiasa menyokongmu dengan keluasan dan kebeningan wawasan, sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai siapa gerangan para wali kekasih Allah, Beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang jika mereka dipandang, maka disebut (nama) Allah.” Pahamilah dengan baik makna sabda Rasulullah: “Jika mereka dipandang”! Maka, berpalinglah dari pandangan materi ke pandangan immateri dan nilai-nilai, jauh dan pandangan alla awam termasuk di dalamnya pandangan hewan-hewan yang tak memiliki matahati (bashIrahj, Mereka itulah orang-orang yang dinyatakan Allah SWT dalam firman: “Dan kamu melihat berhala-berhala mereka itu memandang kepadamu padahal ia tidak melihat.” (QS. Al-A’raf [7]: 198) Carilah petunjuk melalui cahaya Allah yang dititipkan di dalam hati, yang hanya dengannyalah para wali Allah memandang, berekspresi, mendapat taufik, dan akhirnya mencermati dan menggapai kebenaran.

Hal ini terlihat nyata pada diri manusia yang terharum dan tercerahkan dengan cahaya-Nya, yang keharumannya menjadikan harum segala sesuatu (yang dimaksud adalah diri Rasulullah SAW—ed.). Pilihan dan kegemaran beliau terhadap wewangian dan segala yang baik merupakan sesuatu yang menakjubkan. Dan, menurut kesepakatan para ulama, aroma beliau melebihi wewangian segala sesuatu yang wangi.

Cobalah pahami dan masuk ke dalam khazanah pengetahuan Rasulullah SAW. Toh, apalah status dinimu hingga tidak kamu amini apa yang beliau sabdakan berikut: “Demi Allah, tiadalah makanan melainkan untuk kita, tiadalah minuman melainkan untuk kita, tiadalah pernikahan melainkan untuk kita, begitujuga tiadalah wewangian melainkan untuk kita.” Beliau dengan demikian merupakan pangkal segala wewangian, dan magnet keindahan segala sumber mineral, Sebab, beliau adalah mineralnya segala mineral. Petiklah lentera cahaya beliau, ciduklah bahtera cinta beliau, minumlah telaga pengetahuan beliau. Berbekallah dengan kepatuhan kepada beliau, niscaya segala sesuatu akan tunduk dan patuh kepadamu.

Demi Allah, beliau adalah manifestasi ilmu ladunni, amal saleh, dan rezeki yang selaksa. Ya Allah, jadikanlah segala sesuatu dalam genggaman tangannya dan zuhudkanlah ia bersama kepemilikan terhadapnya. Ya Allah, jadikanlah ia termasuk dalam keluarga Ibrahim. Sungguh telah Engkau anugerahkan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Engkau berikan kepadanya kerajaan yang besar. Dan, jadikanlah ia termasuk keluarga Muhammad.

Perhatikanlah kezuhudan ini, Hapuslah ia dari dirimu dan tutupilah ia dari sesamamu kecuali terhadap Dzat yang memberimu status tersebut. Sebab, di manakah lagi engkau bisa menemukannya setelah bagian cahaya profetik kenabian dan sumber ke-shiddiqiyyah-an jika bukan dan Dzat pemilik al-Ism al-A’zham (nama agung) yang bersanding dengan titah “kun”, dan yang mengatur prima qadha’ dan takdir semesta.

Kepada-Nyalah ridha tunggal tanpa reserve (pengecualian) tercurahkan. Dari-Nyalah qadha’ dan takdir mencabang hingga Locus pembagian dan hal-hal yang saling berlawanan, ketika Syara’ memberikan rambu-rambu apa yang Dia cintai dan apa yang Dia benci. Barang siapa menyepelekan atau meragukan ini, maka perhatikanlah permisalan Adam a.s., entitas pertama manusia yang menjadi pangkal seluruh anak manusia. Adakah kau temukan padanya sesuatu yang dibenci Syara’? Tidak! Dia merangkum segala jenis manusia: Yang beriman dan kafir, yang taat dan pemaksiat, yang mengesakan dan menyekutukan, yang ikhlas dan munafik. Barulah ketika muncul perbedaan dan keragaman, Syara’ mewacanakan cinta dan benci, ridha dan murka. Jadi, asal-muasal segala sesuatu adalah diridhai dan dicintai.

Dan dialah Adam, Sedangkan keturunannya sebagaimana yang telah aku jelaskan kepadamu.

Begitu juga perihal qadha’ awal (prima qadha’) bersama takdir-takdir yang berbeda-beda. Para nabi, rasul, dan tokoh-tokoh sentral terkemuka telah menekuninya dengan rahasia-rahasia mereka, dan mereka tidak menyaksikan apa-apa selain Allah dan qadha’-Nya. Mereka pun menjelaskan, menjabarkan, dan mensyariatkan kepada orang-orang di bawah mereka sampai datang perintah Allah kepada orang yang Dia kehendaki dan kaum pembenar (shiddIq), yang bersih, yang tulus untuk menyingkap pengetahuan ini beserta pengetahuan mengenai prinsip, pengetahuan mengenai (alam) roh, dan pengetahuan mengenai (alam) barzakh sebelum permulaan eksistensi semesta.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.