Sanad (Silsilah) Talqin Kaum Sufi

 

Harus dibaca juga..

Ketika Tuan Guru Muhammad asy-Syanawi —rahimahullah— membimbingku dzikir secara lisan, ia menyenandungkan bait syair berikut:

Aku bingung di malarnku, selagi aku hidup.

Jika aku mati, maka siapa yang akan bingung setiap malamnya setelahku, Kemudian dia berkata kepadaku: Sudah menjadi tradisi para guru tarekat sufi, setelah mereka men-talqin muridnya akan menyebutkan sanad (silsilah) talqin  yang mereka dapatkan dari guru sebelumnya, dan menyebutkan sanad mengenakan serpihan kain (khirqah) kepada sang murid sebelum sang guru mengenakan serpihan kain tersebut kepada sang murid. Dia juga memberi tahu saya, bahwa di NegaraYaman sana terdapat jamaah yang memiliki sanad talqin bacaan shalawat kepada Rasulullah Saw. Mereka membimbing bacaan shalawat kepada sang murid, sehingga mereka sibuk untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Sang murid akan terus memperbanyak shalawat kepada Nabi, sampai akhirnya ia bisa bertemu dengan Rasulullah Saw. secara sadar dan berbicara secara lisan. Ia bisa bertanya kepada Nabi tentang beberapa kejadian sebagaimana seorang murid yang bertanya kepada gurunya. Tingkatan spiritual sang murid ini ternyata naik begitu cepat dalam waktu hanya beberapa hari, sehingga ia tidak butuh lagi bimbingan dari para guru sufi, karena langsung dibimbing oleh Rasulullah Saw. sendiri.

Syekh Muhammad asy-Syanawi melanjutkan pembicaraannya: Guru kebenaran dalam menempuh jalur tarekat tersebut adalah ia bisa bertemu dengan Nabi Saw —sebagaimana yang kami sebutkan. Kalau ia tidak berhasil bertemu dan berkumpul dengan Nabi Saw. maka jalur tarekatnya jelas tidak benar. Dan diantara orang yang bisa berhasil bertemu dengan Nabi Saw. adalah Syekh Ahmad az-Zawawi ad-Damanhuri, dimana wirid shalawatnya kepada Nabi Saw. setiap harinya sebanyak lima puluh ribu kali shalawat dengan lafal berikut:

“Ya Allah, semoga shalawat (rahmat) tetap Engkau berikan kepada Junjungan kita Muhammad, seorang Nabi yang Llmmi dan kepada keluarga serta para Sahabatnya, dan juga salam sejahtera kepadanya.”

Dan diantara orang yang juga berhasil menempuh jalur ini adalah Syekh Nuruddin asy-Syanwani, pendiri majelis shalawat yang ada di Jami al-Azhar. Termasuk juga orang yang berhasil menempuh jalur ini adalah Syekh Muhammad Dawud al-Mauzalawi, Syekh Muhammad al-SAil ath-Thanaji, Syekh Jalaluddin as-Suyuthi dan sekelompok orang yang kami sebutkan dalam Mukadimah Kitab al-Vhud 4- Muhammadiyyah dan generasi terdahulu dan sekarang.

Saya mengambil tarekat shalawat mi melaluij alur Syekh Nuruddin asy-Syanwani yang mengatakan: “Bahwa diantara syarat-syaratnya adalah makan makanan yang halal, tidak menyibukkan diri dengan apa pun selain apa yang diizinkan oleh Syariat.” Maka segala puji hanya milik Allah, Tuhan Pemelihara alam.

 

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.