Salah Faham Dalam Mengartikan Wacana-wacana Sufi

Jika hadits Rasulullah saw, perlu ditakwili, padahal hadits tersebut telah mencapai tingkat sastra tertinggi bahkan paripurna sebagai kalimat untuk mengetahui makna terdalamnya agar dipahami ummatnya, tentu saja setiap ilmu pengetahuan, juga memiliki istilah-istilah (terminologi) khusus yang membutuhkan uraian dan penafsiran. Apakah ahli fisika faham akan istilah kedokteran? Apakah tukang jahit mengenal istilah otomotif?

Harus dibaca juga..

Bagi kaum Sufi memiliki istilah-istilah khusus yang perlu ulasan pula, sehingga untuk memahaminya perlu berguru pada mereka agar tidak salah memahami wacananya, agar pemahamannya tidak melenceng dari Al-Qur’an dan Sunnah, tidak menyimpang dari syariat, karena para Ulama Sufi itulah yang tahu benar spirit terdalam dibalik hakikatnya. Sampai sebagaian kaum Arifin mengatakan, “Kami adalah kaum yang melarang orang lain yang tidak mengikuti Thariqat kami, menganalisa kitab-kitab kami”. Karena tujuan menulis kitab-kitab tersebut memang diperuntukkan kalangan Sufi, sementara orang yang tidak mengenal thariqat Sufi biasanya antipati lalu menjauhi bahkan memusuhi. Karena manusia itu musuh bagi kebodohannya sendiri. Sayyid ali bin Wafa ra, mengatakan, “Siapa yang menulis ma’rifat dan rahasia-rahasia, sesungguhnya tidak ditulis untuk publik, bahkan mereka melarang membacanya kalau mereka bukan ahlinya.”

Tetapi bahwa kaum Sufi yang sangat hati-hati menguraikan apa yang hendak dikatakan bagi mereka yang tidak aham, sama sekali bukan tergolong orang yang “menyembunyikan ilmu”. Semata dikawatirkan jika hal itu dipublikasi malah menjadikan salah paham, bahkan seringkali malah dipahami melenceng dari hakikatnya. Lalu terjadilah kontradiksi dan pertentangan.

Sayyidina Ali karromallahu Wajhah mengatakan, “Sampaikan kepada manusia sesuai dengan pengetahuan mereka, apakah kalian senang jika mereka mendustakan Allah dan RasulNya?”
Syeikh zarud ra, mengatakan, “Dalam disiplin ilmu, ada yang umum ada yang khusus, hal yang sama dalam dunia tasawuf. Seharusnya yang berifat umum itu seputar hukum-hukum Allah yang berkaitan dengan amaliyah dan muamalat, dan selebihnya disampaikan menurut kemampuan orang per-orang.

Al-Junaid pernah ditanya, “Ada dua orang bertanya kepada anda tenang satu masalah yang sama, tapi anda menjawabnya berbeda?” Dia menjawab, “Jawaban itu menurut kadar si penanya. Rasulullah saw, bersabda, “Kami diperintahkan untuk bicara pada manusia menurut kadar akalnya.” (hr. Ad-Dailamy).

Karena itu Syeikh Muhyididin Ibnu ‘Araby mengatakan, dalam Bab 54 pada kitabnya Al-Futuhatul Makkiyyah, “ Ketahuilah bahwa kaum sufi (Ahlullah) tidak membuat istilah-istilah dan isyarat hanya untuk mereka, karena mereka mengenal kebenaran secara gamblang. Tetapi mereka membuat istilah dan isyarat itu agar mencegah salah faham, semata karena belas kasihan agar tidak diingkari oleh mereka yang belum sampai, sehingga jika mereka mengingkari kaum Sufi, mereka malah tersiksa dengan sendirinya, bahkan tidak meraih manfaat selamanya.

Suatu hal yang menakjubkan dalam thariqat ini, bahkan tidak dijumpai kecuali di dalamnya, bahwa tidak satu pun dari kalangan disiplin ilmu, baik dari kaum logika, ahli gramatika, ahli fisika dan matematika, kaum teolog dan filosuf, melainkan mereka punya istilah yang harus tunduk pada disiplin mereka. Kecuali kaum thariqat ini, maka, bagi murid yang benar manakala memasuki thariqatnya dan segala istilah yang ada pada mereka, bermajlis dengan mereka, dan mendengarkan sejumlah isyarat dan istilah mereka, para murid ini mahaminya secara langsung, seakan-akan mereka inilah yang membuat istilah itu, dan mereka bergabung dalam telaga ilmu itu.

Tidak ada yang aneh dalam diri mereka, bahkan mereka menerima secara naluriyah, tidak kontra sama sekali, demikian seterusnya, dan mereka tidak tahu bagaimna mereka mendapatkan hal itu. Ini bagi murid yang benar, tetapi bagi murid pendusta tidak mengerti sama sekali apa yang didengar, tidak tahu apa yang dibaca, dan dalam setiap zaman para Ulama tekstual-skriptural (ahli lahiriyah) senantiasa kontra dengan wacana Sufi. Cukuplah dengan pengalaman Imam Ahmad bin suraij yang menghadiri majlisnya Al-Junaid, kemudian ditanya, “Apakah anda memahami kata-katanya?” Ia berkata, “Saya tidak tahu apa yang dikatakan Junaid, tetapi saya menemukan kata-katanya yang menghujam dalam hati, yang menunjukkan amaliyah batin dan kejernihan dalam jiwa. Kalamnya Junaid bukanlah kalam yang batil.”

Kaum Sufi tidak menggunakan metafora, kecuali pada kalangan yang memang bukan publik Sufistik. Dan bukan rahasia lagi, bahwa munculnya kontra terhadap dunia Sufi sesungguhnya muncul dari kaum yang dengki. Seandainya kaum pendengki itu bisa menghilangkan rasa dengkinya dan menempuh jalan menuju kepada Allah sebagaimana thariqat Sufi, pasti tidak muncul sikap kontra dan kedengkian, bahkan ilmunya semakin bertambah. Tetapi faktanya memang demikian, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Luhur dan Maha Agung.” (lihat Al-Yawaqit wal-Jawahir)

Next Post

Comments 1

  1. anton susilo says:

    saya suka dengan dunia sufi.. tapi saat ini saya ingin belajar tentangnya… karena saya sedih melihat teman” yang sdh mempelajarinya banyak mengumbar kalimat” sufi pd mereka yg awam… bukankah setelah kita memperoleh pengetahuan sufi membawa kita harus lebih tawadhu, wara..

    terimakasih
    Wassalam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.