Prinsip-prinsip Dasar Thariqat Sufi

(Adab Penempuh Jalan  sufi)
SYEIKH Abul Hasan Asy-Syadzily Qs, mengatakan, ”Kekasihku memberikan wasiat kepadaku, beliau berkata, “Janganlah engkau langkahkan kakimu kecuali engkau berharap pahala Allah Swt, dan janganlah duduk atau bermajlis kecuali engkau aman dari maksiat kepada Allah Swt, dan jangan pula bergaul kecuali dengan orang yang anda meminta pertolongan agar bisa taat kepada Allah. Janganlah memilih orang untuk dirimu kecuali orang yang membuat anda bertambah yaqin kepada Allah Swt, dan mereka ini jumlahnya sedikit. (Atau maksudnya seperti itu).

Harus dibaca juga..

Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily Qs, juga berkata, “Siapa yang menunjukkan dunia padamu, berarti telah menipumu. Siapa yang menunjukkan amal padamu berarti telah memberi kepayahan padamu, dan siapa yang menunjukkanmu pada Allah Swt, benar-benar menasehatimu.”

Beliau juga berkata, “Jadikanlah ketaqwaan itu sebagai tempat tinggalmu, lalu kegembiraan diri  tidak membuatmu sedih, sepanjang engkau tidak rela dengan aib jiwa, atau berkubang dosa, atau anda ketakutanmu pada Allah Swt runtuh dalam hatimu.” Kukatakan, “Tiga hal inilah akar dari segala penyakit, bencana dan bahaya.”

Aku melihat para Sufi zaman ini terpedaya oleh lima cobaan:

1. Mendahulukan kebodohan dibanding ilmu pengetahuan,
2. Terpedaya dalam setiap teriakan,
3. Meraih kehinaan dalam setiap perkara,
4. Merasa mulia dengan thariqahnya
5. Berusaha untuk segera dibuka (ruhaninya) namun tanpa memenuhi syaratnya.

Kemudian mereka ini diuji dengan lima hal pula:

1. Mendahulukan bid’ah dibanding sunnah (Nabi Saw)
2. Mengikuti kaum batil dibanding ahli kebenaran
3. Mengikuti hawa nafsu dalam beramal ibadah, dalam berbagai perkara atau perkara utama.
4. Mencari nilai tak berguna dibanding hakikat kebenaran.
5. Munculnya klaim-klaim (pengakuan-pengakuan diri) tanpa sikap yang benar.

Maka muncullah lima perkara:

1. Was-was dalam beribadah,
2. Berkutat dalam belitan kebiasaan (negatif),
3. Mendengar lagu atau syair dan berkumpul-kumpul sepanjang waktu,
4. Mencari perhatian jika ada peluang,
5. Bergaul dengan generasi duniawi, wanita-wanita dan anak-anak.

Mereka terperdaya dengan peristiwa-peristiwa yang menimpa kaum sufi dalam soal-soal di atas, lalu mereka menyebut-nyebut perilakunya. Seandainya mereka benar-benar menyelami hakikatnya, mereka bakal tahu bahwa usaha duniawi  itu hanyalah keringanan bagi orang-orang yang lemah. Bahwa posisi alam asbab (alam duniawi) itu hanyalah sekadarnya saja, tanpa berlebih. Tak ada yang terbelit dalam matarantai duniawi kecuali ia akan jauh dari Allah Swt. Mendengar lagu hanyalah kemurahan (toleransi Allah Swt) bagi yang terkalahkan batinnya, atau sekadar istirahatnya orang yang kamil (paripurna ruhaninya), yang sesungguhnya berada dalam posisi degradasi (penurunan derajat) dalam hamparan Allah Azza wa-Jalla, manakala Sama’ (mendengar musik dan lagu) itu dengan syarat sesuai dengan ahli, posisi dan adabnya.

Sedangkan waswas merupakan bid’ah, yang akarnya adalah bodoh terhadap Sunnah Nabi Saw, atau bebalnya akal sehat.  Orientasi agar diterima makhluk sesungguhnya merupakan bentuk penolakan pada Allah Azza wa-Jalla. Apalagi bagi sang Qari’ yang mencari pesona, atau diktator yang lalai, atau Sufi yang bodoh.

Bergaul dengan orang yang banyak bicara merupakan kegelapan dan kehampaan baik bagi dunia maupun agama. Sedangkan menerima belas kasih mereka merupakan dosa besar.

Abu Madyan al-Ghauts ra, mengatakan, ”Merupakan hadats, bagi orang yang tidak berserasi denganmu di jalan Thariqahmu, walaupun usianya sembilan puluh tahun.”

Kukatakan, ”Yaitu orang yang tidak kokoh dalam kondisi anugerah ruhani, dan ia menerima kondisi itu, lalu bergembira  dan menyukai posisinya.  Inilah yang banyak menimpa kalangan generasi kelompok Sufi dan pemburu majlis-majlis. Maka hati-hatilah dengan sepenuh jiwamu.

Maka siapa saja yang mengklaim memiliki posisi ruhani tertentu, lalu muncul salah satu dari lima di bawah ini, maka ia adalah pendusta atau terpasung.

1. Membiarklan fisiknya untuk maksiat pada Allah Swt,
2. Sok patuh pada Allah swt,
3. Tamak pada makhluk Allah Swt,
4. Membuat ulah terhadap kaum Sufi (Ahlullah).
5. Tidak menghormati kaum muslimin sesuai perintah Allah Swt.
Sedikit sekali mereka berakhir dalam Islam (sedikit yang husnul khotimah).

-SYEIKH Abul Hasan Asy-Syadzily-
Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.