Perdamaian Dunia Dalam Perspektif Sufistik

 

Harus dibaca juga..

HIKMAH-HIMAH SUFI TENTANG PERDAMAIAN

  1. Hanya mereka yang meraih RahmatNya yang bisa hadir sebagai Rahmat bagi semesta manusia. Lalu menebarkan Rahmat itu melalui gerakan perlawanan terhadap diri sendiri, baru perlawanan teradap gerakan anti damai. Cahayanya akan menerangi jiwa-jiwa yang merdeka dari belenggu tuhan-tuhan kecil, dan membakar berhala-berhala nafsu yang memperbudak dan menjajah jiwa kemanusiaannya. Karna itu gerakan kemanusiaan yang hanya berpijak pada keadilan dan persamaan, akan selalu berujung pada protes yang keras, dan kering. Begitu juga seuluruh gerakan kemanusiaan yang hanya mendasarkan kasih saying, ketentraman, kedamaian, akan berakhir sunyi, manja, dan tak berdaya,  tanpa mampu membangkitkan peradaban yang kokoh. Karena di dalam Kasih SayangNya ada KeadilanNya, dan dalam KeadilanNya selalu didahului Kasih SayangNya.
  2. Persaudaraan kemanusiaan hanya bisa diikat oleh ikatan keimanan kepada Tuhan, jika ikatan itu lepas, manusia akan terus berjuang mengikat kembali karena rasa takut dan cintanya kepadaNya. Tanpa demikian, manusia tidak memliki ikatan yang kuat terhadap sesame manusia. Ikatan tali kemanusiaan tanpa Ketuhanan, adalah kepentingan-kepentingan sesaat, yang sering mengguncang perdamaian. 
  3. Mata orang-orang yang benar-benar beriman, akan terus terbuka dengan mata hatinya. Ketika mata kepalanya melihat keragaman, perbedaan, perpecahan, warna warni derajat yang berbeda-beda, dan mengharuskan ia berusaha maksimal untuk menata kehidupan agar benar dan adil, maka ia tetap membuka mata hatinya, bahwa semuanya itu tetap Tunggal dari TuhanNya. 
  4. Ketika mata kepala melihat dimensi ruang dan waktu antara langit dan bumi, maka matahatinya tetap memandang yang tersembunyi dibalik langit dan bumi. Sebab jebakan-jebakan materialism yang tampak bisa menyeret nafsunya untuk menjadi budak, dan berakhir dengan kehancuran bumi dan pertumpahan darah. Sedangkan yang ada dibalik yang tampak, adalah spiritualitas memandang: yaitu adanya Asma, Sifat dan Af’alNya yang nyata, sehingga langit dan bumi seisinya tidak pernah menjadi tirai antara dirinya dengan Tuhannya. Darisaalah harmoni dan perdamaian terbangun.
  5. Nama-nama Tuhan adalah luhur, indah dan agung. Selayaknya diucapkan dengan jiwa yang agung, jiwa beriman yang suci, hati yang suci,  bukan diucapkan oleh hawa nafsu kotor, kepentingan dan emosi. Betapa banyak orang yang menghina nama Tuhan, tetapi kesombongannya justru berkata, “Inilah kepentigan Tuhan!”
  6. Iblis mengawali konfliknya dengan Tuhan dan manusia, melalui kepercayaan dirinya terhadap usaha dan amal bakti serta kepatuhannya selama ini, apalagi bahan baku dan DNA-nya yang lebih superior dibanding Adam. Lahirlah kesombongan luar biasa. Dan kelak sejarah mencatat, kesombongan adalah ancaman terbesar bagi perdamaian manusia. Dari kesombongan pula lahir perlombaan senjata, dan memandang orang lain tak lebih dari makhluk-makhluk rendah.
  7. Keluarga manusia  beriman seperti  satu tubuh kita. Satu organ saling menyayang,  mendukung, berhubugan, dan tidak saling menyiksa, tidak saling iri, karena kesadarannya bahwa ia bergantung pada spirit hati, yang kelak harus mempetanggungjawabkan di hari akhir.
  8. Ta’aruf dalam perintah Tuhan Lita’aarafu (untuk saling kenal mengenal, untuk saling mendidik, untuk saling transfer ilmu pengetahuan, untuk saling menyambung kasih saying, untuk saling mengenalkan kepada Tuhan Yang Esa) adalah landasan peradaban. Dan tujuan peradaban adalah kepatuhan kepada Tuhan (yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling bertaqwa).
  9. Memajukan peradaban ilmu pengetahuan, agar para ilmuwan, semakin mendekati derajat spiritual yang luhur. Karena itu ilmunya haruslah berguna bagi ummat manusia. Ilmu yang berguna asdalah ilmu yang semakin membuat seseorang  memiliki rasa takut penuh cinta kepada Tuhannya. Jika tidak, maka ilmu pengetahuan bisa mencelakan peradaban ummat manusia.
  10. Jiwa manusia tidak akan pernah damai  (muthmainnah) selama jiwa itu tidak pernah kembali dan mengembalikan dirinya pada Tuhannya. Tetapi itu tidak cukup, karena rasa damai dan tenteram bukanlah tujuan perjalanan jiwa. Ia butuh transformasi untuk meraih kesempurnaannya. Setelah kedamaian didapatkan, ia terus rindu akan tujuan akhirnya, lalu ia melewati jalan lurus. Jalan mencari ridhoNya, sampai ia menjadi ikon dari ridho itu sendiri. Baru ia raih, puncakntya, mengenalNya, dalam paripurna DariNya.
  11. Selama kerja peradaban ini diklaim sebagai karya sejarah manusia, manusia akan tetap mengandalkan dirinya, akunya, kemampuannya, dan lahirlah kekuatan-kekuatan gelap yang menakutkan dirinya sendiri. Kelak banyak orang mengaku sebagai tuhan, karena hebatan-kehebatan yang diraihnya, adidaya yang menyihir dunia. Inilah pekerjaan pekerjaan baru bagi pejuang perdamaian yang hakiki;  mereka  yang tangannya adalah TanganNya, matanya adalah PenglihatanNya, teliganya adalah PendengaranNya. 
  12. Setiap hari, kita bermunajat, “Allahumma Antas Salaam, wa minKas Salaam, wailaiKa Ya’udus Salaam Fahayyinaa Rabbanaa bis Salaam, wa Adkhilnal Jannata Daaras Salaam…..”
    “Ya Tuhan Engkaulah Kedamaian, dariMulah segala Kedamaian, dan kepadaMulah kembalinya Kedamaian, maka hidupkanlah kami, oh Tuhan kami dengan Kedamaian, dan masukkanlah kami ke syurga, negeri kedamaian….”
    Mestinya doa ini menghantar kita ke gerbang perdamaian yang luar biasa. Kesalahan besar apa yang menimpa ummat ini sehingga terlibat dalam “tragedy perdamaian” yang menyengsarakan? Apakah mereka lupa akan permohonan yang diucapkan lima kali sehari? 
  13. Ritual sholat adalah pelajaran paling fundamental dalam ilmu perdamaian. Ritual ini diawali dengan Takbirotul Ihram yang berarti menakbiri segala hal selain Allah. Maka ketika ucapan Takbir menggema, sang hamba fana’ keakuannya, egonya, imajinasinya, apalagi kesombongannya. Ia hadir dengan kesucian badan dan hati, menghadap Sang Maha Suci. Lalu diakhiri dengan Salam, dan Rahmat Allah menebar kepada makhluk.  Kemudian dzikir yang pertama diucapkan setelah sholat adalah istighfar, bahkan pemohonan ampunan untuk kedua orang tua dan untuk sesame orang beriman, musmilin muslimat, baik yang hidup maupun yang mati. Istighfar social yang dahsyat. Rasanya tidak ada pedidikan perdamaian paling exlellent disbanding ibadah sholat ini.
  14. Pedidikan Perdamaian juga ada dalam kalimat Al-Baaqiyatus Sholihat: “Subhaanallah walhamdulillah walaailaaha illallah huwa Allahu Akbar laahaulaa walaa quwwata illa billahil aliyyil adzim.”

    Subhanallah (Maha Suci Allah) adalah pengakuan dan proklamasi atas kemerdekaan manusia dari penjajahan nafsunya yang kotor, kebebasan atas belenggu duniawi dan hasrat ukhrowi, kemenangan atas perlawan teradap musuhnya, syetan. Proklamasi akan kehambaannya yang fana,  dan Hanya Dia Yang Maha Suci. Subhanallah adalah terbang tanpa sayap, gerak tanpa tubuh, hasrat tanpa kehendak,  berjalan tanpa kaki, memandang tanpa mata, mendengar tanpa telinga, berkata tanpa lisan, berpejuru tanpa ruang, berwaktu tanpa perubahan, dikehendaki tanpa mengendaki. 

    Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah) adalah manifestasi kehambaan setelah bertemu Tuhannya. Ia mengenal kesatuan dalam keragaman dan keragaman dalam kesatuan yang sempurna. Tak ada yang melebihi ucapan Alhamdulillah bagi ungkapan damai dalam hidup lahir dan batin. Ia telah Baqa’ Billah (menyadari keabadianNya bersama Dia). 

    Laa ilaaha illAllah (Tiada Tuhan selain Allah) adalah statemen keyakinan yang tak tergoyahkan atas keimanan terhadap Allah. Sejak ucapan itu diungkapkan, seseorang telah diwajibkan memasuki Negeri Damai, (syurga). Kalimah Thoyyibah inilah wujud syurga damai yang diekspressikan di muka bumi. Sebab di dalamnya mengandung kerelaan demi kerelaan menjadi hambaNya, dan dalam kerelaan (ridho) itu ada atmosfir syurgawiNya.

    Allahu Akbar (Allah Maha Besar), adalah puncak ketakberdayaan, dan  ketakmampuan hamba.  Bentuk takbir atas nafsu dan syetan, atas  hasrat dunia dan akhirat, atas segala hal selain Allah.  Maka kita akan bertemu dengan :“Laahaulaa walaa quwwata illa billahil aliyyil adzim.” Tak ada dan daya dan kekuatan kecuali bersama Allah Yang Maha Luhur dan Maha Agung.

  15. Ucapan Salam dan Sillaturrahim, adalah doa dan aktualitas perdamaian. Dalam salam mengandung kedamaian, keselamatan, kepasrahan, kebahagiaan dan harapan abadi. Sedangkan dalam sillaturrahim ada perekatan kemanusiaan yang telah tercerabut dari akar kasih sayangnya.  Dalam salam ada sapaan Tuhan, dan dalam sillaturrahim ada kehadiranNya. 
  16. Setiap dzikir mendatangkan kedamaian, walaupun tujuan dzikir bukan untuk mencari dan mendatangkan kedamaian. Tujuan Dzikir adalah bertemu dengan Sang Maha Damai.
  17. Menjalankan posisi sebagai hamba  (pelayan) Yang Maha Damai dengan benar, dan menegakkan Hak-hak Sang Maha Damai dalam perilaku kehidupan, adalah tujuan dari pencarian kita selama ini, dalam menegakkan perdamaian dunia. 
  18. Transformasi Nafsu dalam perspektif perdamaian:

    Nafsu Ammaroh  memiliki potensi-potensi anti perdamaian, ia harus dididik untuk menuju kepada Tuhan (Ilallah), karena ia sedang terjebak pada lingkaran atmosfir serba fisik dan materi yang menyeret ambisi nafsunya.

    Nafsu Lawwamah, menyadari keburukan konflik di masa lalu dan mulai tumbuh cinta terhadap perdamaian. Ia harus diarahkan melalui pendidikan spiritual bahwa perjalannya hanya bagi Allah (Lillah).

    Nafsu Mulhamah, mulai memasuki wilayah ma’rifah yakni mengenal Sang Pencipta Perdamaian, ada semangat dan keasyikan, dan karenanya harus didiik agar tidak kembali pada egonya, dengan tetap menyandarkan dirinya kepada Tuhan (‘Alallah),  Agar sifat-sifat mulia bisa terjaga.

    Nafsu Muthmainnah, mengalami kesadaran, bahwa Allah menyertainya (Ma’Allah), karena itu atmosfir kedamian jiwa menyelubunginya. Tetapi ia terus dididik agar tidak lepas dari hadir dan kesertaan Ilahi, dalam seluruh proses dirinya, agar ada rasa sambung dengan Allah di wilayah paling esensial (hakikat).

    Nafsu Radhiyah, mulai menyadari bahwa rasa damai adalah stasiun yang harus dilewati, karena ia mulai mencari ridhoNya, karena itu harus dididik bahwa rasa puas dan bahagia itu adalah Dia itu sendiri. Ia harus tetap “tenggelam” dalam Ilahi (Fillah), sumber segala nuansa damai.

    Nafsu Mardhiyah, transformasi dari kesadaran “dalam Ilahi” yang harus bangkit dengan semangat untukpenuh ridho apa pun yang dating dariNya (‘AniLlah). Ketentraman justru terletak pada kesadaran bahwa konflik dan damai sesungguhnya, hakikatnya, dating dariNya. Sebuah misteri yang diselami, rahasia di balik rahasia.

    Nafsu Kamilah, mulai memasuki Esa dalam keragaman dan keragaman dalam EsaNya. Puncak transformasi nafsu pada Nafsu Kamilah inilah yang meraih anugerah totalitas Ajaran. Syariat, Thariqat, Ma’rifat, Hakikat secara bersamaan, berserasi dan harmoni. Karena itu dirinya bersama DiriNya (Billah) untuk menjadi KhalifahNya. Kemerdekaan dan Kebebasan sejati dalam asketisme perdamaian.

  19. Tata Aturan Perdamaian, ada di dada kita (akal, fikiran dan sejumlah pengetahuan). Teologi perdamaian ada dalam Qalbu kita (Iman dan Keyakinan yang menghalau seluh konfli batin, demi pencerahan). Spirit Perdamaian ada dalam Ruh kita (Seluruh sifat-sifat mulia yang hadir dengan semangat Ilahiyah). Hakikat Perdamaian ada dalam lubuk rahasia batin kita (Tempat munculnya cahaya perdamaian dari CahayaNya). Damai adalah Allah itu sendiri. Selain Allah adalah sumber segala kekacauan, konflik, perpecahan dan problema.
  20. Seluruh kesepakatan damai, selalu diiringi dengan tekad melaksanakannya. Tekad itu harus diserahkan kepada Tuhan. Agar upaya anda mewujudkan cita-cita, terbebaskan dari beban buruk dalam ego anda sendiri. Tanpa  bersikap demikian,  pelanggaran demi pelanggaran atas perdamaian selalu muncul dimana-mana. 
  21. Al-Madinah al-Munawwarah, adalah representasi dari sejarah utama dalam Islam ideal, namun secara maknawi, Al-Madinah adalah sebuah konsep tentang penegakan hokum yang adil, kekuatan civil society, penegakan HAM, penataan public yang pluralistic, tata social politik yang rasional dan arif, serta contoh bagi clean gevernent dan kekepimpinan publik. Namun, hal demikian tidak akan terwujud secara moral yang kokoh, manakala tidak dihadirkan Al-Munawwaroh, yang bermakna “yang dipancari cahaya”. Bahwa tegaknya Al-Madinah karena pancaran-pancara spiritualitas yang luhur, yang senantiasa memasuki relung jiwa ummat. Cahaya Ilahi itulah yang terus menerus mengontrol ummat, agar terhindar dari konflik spiritual-psikhologis yang bisa mengakibatkan konflik horizontal.

 

Dismpaikan pada acara The First Annual Malang International Peace Conference (AMIPEC) , Malang September 7-9  2015.

Next Post

Comments 1

  1. M. hendri says:

    Disaat Manusia Mampu Mengendalikan Hawa Nafsu dalam dirinya, dan mampu menjaga kedamaian dalam dirinya maka dia telah mendamaikan dunia beserta isinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

agen slot onlineAplikasi Capsa Susun onlineDaftar Bandar Ceme Onlineion casinoBaccarat Onlineion casinoBaccarat Onlinedaftar situs judi slot online terpercayaBandar Togelsbobet casinoSabung Ayamhttps://run3-game.net/https://www.foreverlivingproduct.info/https://rodina.tv/Bandar Sakong OnlineAgen Slotndomino99newmacau88ndomino99fifaslot88newmacau88newmacau88Live Casinocapsa susunhttps://daftardadu.online/