Menuntaskan Urusan Kehidupan Dunia

Al-Harits Al-Muhasibi 
CELAKALAH engkau! Dunia hanyalah sebagai sarana untuk mendapat keselamatan di akhirat Sebesar engkau mengerjakan amalan-amalan yang berat untuk dikerjakan karena Allah (liLlah), engkau akan mendapat imbalannya… Sebesar engkau meninggalkan kemewahan dunia, engkau akan mendapat pahala.

Harus dibaca juga..

Sesungguhnya orang-orang yang teguh (aljami’un) dapat menahan kepedihan-kepedihan (ahzan), sehingga dengan itu mereka akan mewarisi kebahagiaan abadi di akhirat. Masa tangisan mereka di dunia yang sangat lama… [digantikan] kebahagian mereka yang akan abadi di akhirat. Mereka menjalani penderitaan dan menghadapi masa-masa yang suit, lalu mereka pun memetik kesenangan dan kedamaian selama-lamanya.

Mereka menampik nafsu-nafsu syahwat karena Allah. Mereka mengharapkan bidadari-bidadari yang menahan pandangan, dan bersama-sama merayakannya dengan minum khamr. Sehingga mereka mendapatkan impian dan puncak kenikmatan.

Celakalah engkau! Janganlah berhenti menjalin hubungan dengan Tuhan Pelindungmu di ‘Tempat untuk beramal’ ini, jika tidak engkau akan rugi di dunia dan akhirat.

Celakalah engkau, wahai jiwa! Menangislah atas dosa-dosa yang pernah engkau lakukan pada masa-masa yang lalu, karena orang yang telah berhenti melakukannya akan meminta pertolongan dengan cucuran air mata kepada Yang dimintai ampunan, dengan harapan agar Dia mengasihinya.

Maka mulailah menangis dan meratap. Merataplah sebisamu, dengan demikian mudah-mudahan Dia akan tergerak oleh kasih-Nya atas cucuran air matamu, sehingga Dia akan menyelamatkanmu dan ketergelinciran (al-’atsrah), dan menyegerakan an-naqlah (perubahan keadaan)-mu.

Jika Dia mengasihanimu karena tangismu itu, mendengarkan keluhan-keluhan (syakwa) penyesalanmu, serta mengetahui ratapan dan kesenduanmu — pada saat yang sama Dia Maha mengetahui kesalahanmu yang menumpuk, maka engkau dapat mengharapkan agar Dia segera memberikan jalan keluar kepadamu, dan memindahkanmu ke maqam orang-orang yang mendapatkan perlindunganNya, dan maqam yang menerima kasih sayang berkat ketertundukan dan keluhan-keluhan terhadap-Nya.

Maka mulailah engkau dalam tangis dan ratapan, pengaduan dan perhitungan [akan dosa-dosa yang telah dilakukan, pent.], dengan memohon agar dihindarkan dari musibah yang seharusnya kau terima, dan berdoalah:

“Wahai Yang Maha Pengasih, wahai Yang Maha Penyayang, wahai Yang Maha Agung, wahai Yang Maha Mulia, Engkau telah menciptakanku dan telah menyempurnakan penciptaanku. Engkau telah mengasuhku dengan sebaik-baik pengasuhan kepadaku, hingga usiaku sampai batas usia baligh yang mendapatkan kewajiban dan-Mu untuk menjalankan amalan-amalan fardhu yang telah Engkau tetapkan secara tegas, dan usia yang telah mampu menjauhkan diri dari larangan yang Engkau berikan. [Namun,] aku belum mensyukuri nikmat-nikmat-Mu, aku tidak menunaikan hak-hak-Mu: maka aku pantas mendapatkan kemurkaan-Mu, dan aku telah berpaling dan menyimpang. Meskipun begitu, Engkau tidak melepaskan —atas alasan itu— perlindungan-Mu (sitruka) dan indahnya kebaikan-Mu dari aku.”

“Kemudian aku membiasakan diri sengaja berbuat maksiat kepada-Mu, namun Engkau tetap saja memperbanyak kebaikan (birr) dan kelembutan (luthf) kepadaku. Lalu, aku selalu menjauhi ridha-Mu, tapi Engkau tak memberi perhatian kecuali dengan kasih dan belas kasih-Mu. Aku menanggapi segala kebaikanMu dengan kelakuan-kelakuanku yang buruk. Engkau membalas setiap keburukanku dengan kebaikan-Mu.”

“Kemudian Engkau memberikan karunia kepadaku — dengan melihat lamanya kelalaianku, sehingga Engkau membangunkan aku dari tidur (ketidaksadaran) yang panjang, dan menyadarkan aku dari kelalaianku. Aku masih ingin mengukuhkan kalbuku [dalam dosa], tapi Engkau berkenan [mengampuninya] dengan tobat, sebagai taufiq (bimbingan) bagiku dari-Mu.”

“Setelah orang-orang mengetahui tobatku, aku menjadi lengah sampai-sampai Engkau mengembalikanku kepada kemewahan dunia, dan indahnya mendapat pujian dan manusia, serta peduli kepada pujian dan sanjungan dari mereka; lalu aku pun berdusta lagi. Aku berpura-pura kembali kepada-Mu dan aku bernasib malang sebagai balasan dari-Mu atas diriku.”

“Kemudian Engkau memberikan kesempatan bagiku belajar ilmu-ilmu atsar dan hafal al-Qur’an, lalu aku berbuat maksiat kepadaMu setelah beroleh ilmu dan keterangan yang jelas (al-bayan). Maksiat-maksiat kulakukan dalam bentuk aktivitas lahiriah dan pencarian akan faktor-faktor (asbab) kehidupan duniawi (ma’asy), dan perbuatan-perbuatan maksiatku berkedok ketaatan juga kedekatan kepadaMu, pada dua kondisi yang menimbulkan kemurkaan-Mu ini, segala hal yang mendekatkanku kepada-Mu, justru aku mencemarinya dengan sesuatu yang membuatku lebih jauh dari-Mu. Dengan apa saja yang membuatku berbuat maksiat kepada-Mu, aku sengaja mengundang kemurkaan-Mu. Betapa semakin besar kualitas dosaku, karena itu aku lakukan setelah adanya ilmu dan argumentasi jelas yang tak terbantahkan (al-burhan). Aku terpedaya oleh diriku sendiri untuk menutup-nutupi [keburukan-keburukanku] tatkala datang pujian yang indah dari seseorang, lalu aku menginginkan kehormatan dan kedudukan. Aku melakukannya terus-menerus dan pada akhirnya, aku merasa risau dengan jatuhnya kehormatan itu.”

“Aku adalah orang yang berbuat maksiat dalam kehidupanku di dunia ini. Aku orang yang bangkrut dan terampas [dan nikmatNya]. Bahkan aku orang yang mengagungkan dosa-dosa dan kesalahan. Bahkan juga, aku adalah orang yang sakit parah menuju kejatuhan [dalam gelimang dosa, pent.], seolah-olah aku sedang membuat jurang kebinasaanku sendiri.

Maka, celakalah aku, jika Rabb-ku benarbenar murka kepadaku… Kemalangan bagiku jika kemurkaan Allah menimpaku… Begitu pula, betapa menyesalnya jika Allah menetapkan padaku dengan kepastian bahwa aku tidak berada di sisi-Nya di surga… Celaka dan sangat menyedihkan jika Dia benar-benar menutup pintu-Nya dari aku, doaku tidak dapat terangkat menembus ke langit dan amalku [yang baik] tidak dapat naik kepadaNya.”

“Betapa lama kesedihan dan kepiluanku. Betapa panjang masa lelah dan letihku, jika Allah telah memutus hubunganku denganNya, maka seandainya Dia melenyapkan seluruh pencluduk langit dan bumi sebagai musibah bagiku, niscaya itu lebih dahsyat daripada lenyapnya sebagian dari mereka, sebagai rahmat atasku.”

“Celakalah aku dan tempatku kembali (ta’wili) kelak … mungkin saja aku termasuk di antara musuh-musuh Allah, sedang aku tidak menyadarinya. Mungkin saja Dia telah menetapkan bahwa Dia tidak memalingkan aku selain memutuskan neraka menjadi tempat pembalasan sebagai ganti (munqalabi) kehidupan dunia, sehingga tidak ada [penghalang] antara aku dan kehinaan, kenistaan yang panjang dan kesedihan jika Dia tidak mengampuniku, hingga hari-hari menjelang ajalku telah hadir. Maka, saat kematianku telah datang, menyingkapkan sesuatu yang tersembunyi kepadaku, dan berita yang pasti mendatangiku.”

Betapa letih dan lemahnya diriku. Betapa malunya diriku. Betapa merana, dan betapa besarnya penyesalanku. Aku benar-benar rugi, ketika doaku ditolak dan Dia tidak peduli lagi terhadap pengaduanku.

Bagaimana Dia akan menolong orang yang dimurkai-Nya? Bagaimana mungkin Dia akan mengasihi orang yang dibenci-Nya?

Aku adalah orang yang lancang dan orang yang tidak melepaskan diri dari dosa-dosa. Aku adalah orang yang berlarut-larut dalam dosa yang tidak punya malu.

Celaka engkau, wahai jiwa! Di manakah dampak dari bacaan al-Qur’an? Di manakah itu makna-makna dan atsar-atsar yang telah engkau pelajari? Di manakah rasa syukurmu kepada Dia yang tidak engkau kenal dari-Nya selain kebaikan? Engkau malah lebih suka (ridha) dengan derajat (ahwal) bersama orang-orang yang tidak memiliki kearifan, dan berada pada maqam (manazil) orang-orang yang lalai (ghafihin), dan amal-amal orang fasik.

Celakalah engkau, hai jiwa! Bukankah semua kenikmatan itu dipisahkan, dan segala kemewahan itu hilang darimu? Perjalanan saat demi saat dan hari demi hari terus berlalu, berikut dengan kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa yang di dalamnya, dan dosa-dosa itu masih melekat pada dirimu, dan itu telah berlalu dan terlanjur … yang menyusul adalah pertangungjawaban (as-su’al)!

Maka demikianlah engkau menjalani hari-harimu, dengan apa yang terjadi pada sebagiannya dan konsekuensi-konsekuensinya (taba’at) yang masih tertinggal padamu… Berpalinglah, duhai jiwa, dari yang berlalu sementara namun akibat buruknya akan terus membekas. Demi Allah, rezeki dan ajal [penangguhan sampai saatnya kematian] tidak akan berguna bagimu, tidak pula dampak yang baik di dunia dan akhirat akan berpisah darimu.

Celakalah engkau! Panggillah Tuhanmu dengan suara yang menyedihkan dan dalamnya kalbu yang berkecamuk dan menyesal. Alirkanlah air matamu, dan memohonlah kepada-Nya sebagaimana laiknya permohonan orang yang ditimpa kesusahan.

Dan katakanlah: “Wahai Rabb dan maqam orang-orang yang merendahkan diri (al-mutadharri’) lagi kekurangan, yang tidak berdaya lagi amat membutuhkan yang binasa dalam keadaan tenggelam. Segerakanlah pertolongan-Mu kepadaku dan jalan keluar bagiku. Perlihatkanlah tanda-tanda rahmatMu. Jadikanlah aku dapat merasakan tanggapan berupa pemberian maaf dan ampunan (maghfirah) dari-Mu. Limpahkanlah kepadaku rezeki memahami besarnya keagunganMu. Ekstase spiritual dan kepedulian-Mu kepadaku. Kelegaan yang dapat menjadi pelipur dengan redanya hukuman-hukuman dari-Mu, serta kebahagiaan kalbu dari sisi-Mu dan keintiman (uns) kecintaan terhadap-Mu.

Maka, ubahlah kondisi-kondisi spiritualku (ahwal), dan palingkanlah kecenderungan-kecenderunganku. Jadikanlah ekstase (ladzdzah) yang kurasakan lebih tertuju pada ketulusan ber-mu’amalah dengan-Mu, lebih tertarik pada manisnya bermunajat, dan kelegaan untuk selalu percaya (tsiqat) kepadaMu.”

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.