Megapa (Sama’) Dzikir, Nasihat, Hikmah dan lain-lain

Syeikh Abu Nashr As-Sarraj
Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— berkata: Saya mendengar Abu Bakar Muhammad bin Dawud ad-Dinawari adDuqqi mengatakan: Saya pernah mendengar Abu Bakar az-Zaqqaq berkata, “Saya pernah mendengar suatu kalimat tentang Tauhid dan al-Junaid yang membingungkan saya selama empat puluh tahun dan setelah itu pun saya masih bodoh akan hal itu.”

Diceritakan dan Ja’far al-Khuldi —rahimahullah— bahwa ada seorang penduduk Khurasan datang ke al-Junaid —rahimahullah— sementara itu di tempat al-Junaid ada sekelompok guru Sufi, lalu orang itu bertanya, “Wahai Abu al-Qasim, kapan seorang hamba bisa menyikapi antara orang yang memuji dengan yang mencelanya itu sama?” Maka sebagian guru Sufi menjawabnya, “Apabila al-Maristan dimasukkan dan diikat dengan dua ikatan.” Kemudian al-Junaid berkata, “mi bukan urusan Anda.” Lalu ia menghadap orang tersebut dan berkata, “Saudaraku, yaitu apabila

tahu dan yakin bahwa, orang yang memuji atau yang mencela itu adalah makhluk.” Kemudian orang itu menangis tersedu-sedu dan keluar.

Yahya bin Mu’adz —rahimahullah— berkata, “I-Iikmah adalah salah satu tentara dan pasukan Allah yang memperkuat hati para wali-Nya.” Dikatakan pula, “Bila ucapan itu keluar dan hati maka akan meresap di hati, dan bila ia hanya keluar dan mulut maka tidak akan menembus telinga kanan dan kin.”

Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— berkata: Hal- hal seperti itu cukup banyak disebutkan dalam Hadis, dimana orang yang mendengar kalimat yang baik, dzikir atau kata-kata hikmah niscaya akan menjadikan hatinya lembut dan hal itu akan membangkitkan wajd-nya atau membuat hatinya membara.

Dikatakan pula, “Setiap orang yang perhatiannya tidak pernah meninggalkan Anda dan ucapannya, maka Anda akan selalu membutuhkan nasihatnya daripada ucapannya semata.”

Abu Utsman mengatakan, “Satu perbuatan orang bijak terhadap seribu orang adalah lebih bermanfaat daripada nasihat seribu orang.” mi karena bisa menembus hati dan sisi kejernihannya ketika terketuk oleh segala kegaiban yang datang (warid) akibat apa yang didengar dan yang dilihatnya. Sehingga apabila secara kebetulan cocok maka ia akan kuat, dan ketika berbeda dan bertentangan maka akan melemah, kecuali orang-orang yang memiliki J tingkat istiqamah, kejujuran dan kesempurnaan. Sebab mereka

telah melampaui batas-batas tersebut dan tidak lagi melihat perbedaan, sehingga mereka tidak mengalami perubahan, akan tetapi barangkali ingatan mereka akan menjadi baru dengan apa yang mereka dengar, dan dan waktu ke waktu apa yang mereka saksikan bisa menjadijernih. Kejernihan itu akan semakin bertambah ketika diperbarui dengan mendengar dan memperhatikan hikmahhikmah yang indah dan unik.

Maksud dan apa yang saya kemukakan di atas adalah, bahwa tujuan kaum Sufi dalam sama’ dengan mendengarkan al-Qur’an, kasidah, dzikir, hikmah dan lain-lain, bukanlah disebabkan keindahan lagu, kemerduan suara dan menikmatinya. Sebab kelembutan, gejolak hati dan wajd juga tetap tersembunyi dalam din mereka sekalipun tidak ada suara yang merdu dan lagu yang indah, sementara ketenangan dan ketentraman pun tetap tersembunyi dalam din mereka ketika ada suara yang merdu dan lagu yang indah. Sekarang kita tahu, bahwa maksud dan semua yang mereka dengarkan adalah untuk membangkitkan wajd dan dzikir-dzikir yang tersembunyi dalam hati mereka yang secara kebetulan sesuai dengan hatinya, sehingga wajd-nya menjadi kuat dengan sesuatu yang mereka temukan dengan berbagai bentuknya.

Harus dibaca juga..

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.