Kisah Sedih Pendidikan Akhlak

Biasanya, saya memulai penjelasan dengan menjelaskan jati diri manusia. Saya lebih mengenalkan hakikat ruhani itu apa, supaya dia bisa mengenali dirinya sendiri. Dalam waktu terbatas, kita menginginkan dia mengintorspeksi diri, dan sedikit banyak bisa membenahi apa yang salah. Karena ini pembelajaran orang dewasa kan tidak bisa murni indoktrinasi, tetapi harus melalui proses penyadaran. Kalau penyadaran ini berhasil, dia akan melakukan pilihan ulang terhadap sandaran hidup yang selama ini dia pegang. Nah pada saat dia melakukan pilihan-pilihan ulang, kita berharap ada rasionalisasi yang lebih lurus. Pada saat itu, kalau dia berpihak pada kebenaran yang lebih lurus, baru kita bisa berharap, sikap atau akhlak yang lama terbentuk, kemudian terkoreksi. Maka dia akan menjadi gamang untuk melakukan keburukan lagi. Nah gamang ini menjadi pertanda baik. Tapi mungkin dia tidak sesegera itu berubah. Ini adalah masa dimana kita harus sabar menunggu orang untuk berubah. Karena semua bi ‘aunillah, semua dengan pertolongan Allah. Kalau Allah memberikan hidayah dengan kecepatan tertentu, orang bisa berubah sewaktu-waktu, tapi dalam proses normal biasanya butuh waktu.

Harus dibaca juga..

Bagaimana anda  menyikapi akhlak murid yang kurang baik?
Saya memegang qaul Imam Syafi’i yang menyatakan bahwa orang yang buruk itu seperti pantatnya dandang (tempat menanak nasi) yang hitam. Kata Imam Syafi’i, dia hitam, dan dia ingin menempelkannya ke kulit kita. Kalau kita terpancing, maka yang hitam itu dua. Jadi kalau sampai kita sadar bahwa ada ruhani yang tidak stabil, dan kita terpancing untuk tidak stabil, maka sesungguhnya yang terjadi adalah dua ketidakstabilan, karena kita terpancing.       

Saya teringat muridnya Aby Yazid al-Busthami, yang selama 30 tahun selalu qiyamullail, shaimunnahar, puasa dan sholat malam tiap hari. Tapi ketika bertanya kepada Abu Yazid, “Syekh, perasaan saya, selama 30 tahun mendampingin Anda, saya tidak pernah merasakan apapun dari kenikmatan batin yang engkau ceritakan itu”. Abu Yazid kemudian berkata, “Sampai mati kamu puasa dan sholat malam terus, kamu tidak akan merasakan apa-apa”. Dia kaget dan dia meminta terapi ruhani yang bisa mengobatinya. Kata Abu Yazid, “Ada, tapi kamu tidak akan mampu”. Abu Yazid kemudian memberitahu, “Kamu harus mencukur jenggotmu, menjual semua hartamu, kemudian bajumu diubah dengan baju gembel, setelah hartamu yang kamu jual itu, kamu belikan mainan dan makanan anak-anak, kemudian dironce (di kalungkan) di leher, dan pergi ketempat dimana anak-anak kecil berada. Mintalah anak-anak itu untuk meludahimu, dan setiap satu kali ludahan, kau beri anak-anak itu satu mainan dan makanan, sampai makanan itu habis. Kalau itu sudah selesai, kamu pergi ke pasar, dimana kau terkenal sebagai orang terhormat, kemudian dengan pakaian seperti itu kamu tidak boleh beranjak sebelum orang-orang sepasar itu melihat kamu dalam keadaan seperti itu”.

Nah sang murid itu kemudian berkata, “Subhanallah”. Subhanallah-mu musyrik, kata Abu Yazid, karena Subhanallah kau ucapkan untuk menyanjung dirimu, yang tidak pantas kau perlakukan seperti itu. Akhirnya si murid tidak mampu melakukan itu, karena ada kesombongan dalam dirinya.

Memang kalau saya analisis penjelasan para sufi, hijab itu kan banyak. Nafsu hijab, dosa hijab, hubbub al-dunya hijab, cara pandang terhadap fiqh yang terlalu formalistik juga hijab, terjebaknya orang dalam kenikmatan ladzatul ‘ibadah, sampai karomah juga hijab. Tetapi para ulama menyebut, hijab terbesar itu justru kesombongan, karena sombong itu, membuat, manusia hanya melihat dirinya. Kita bisa bayangkan, kalau keadaan batin itu hanya melihat dirinya sendiri, orang lain nggak kelihatan, bagaimana dia bisa melihat Allah.

Hal yang sama terjadi, ketika seorang sufi besar menemukan cara untuk menyembuhkan kesombongan muridnya. Jadi pada saat itu sang mursyid menyatakan, kalau kau mau sembuh dari kesombongan itu, kau harus menjadi orang miskin, dan membawa mangkok pengemis. Dan kau harus meminta-minta kesemua kampung dimana kau tinggal. Tapi kenyataannya setelah dilakukan, dan dia pulang ke mursyid, sang mursyid mengatakan, “Saya tidak tahu lagi caranya. Setelah kau lakukan saran saya, ternyata kau itu, kalau dulu sombong karena kekayaan, hari ini kau sombong karena mampu melaksanakan cara hidup seperti orang miskin”. Bisa jadi kita itu bisa tidak sombong karena memakai baju mewah, tapi jangan lupa, menggunakan baju sederhanapun bisa sombong.  

Seberapa efektifnya  pendidikan akhlak dan tasawuf dalam sistem pendidikan kita?
Bagi saya, pendidikan formal dalam rangka mewarisi akhlak yang digambarkan oleh para sufi, saya sebenarnya termasuk orang yang pesimis. Kenapa? Karena pendidikan kita itu lucu. Kalau saya analisis kurikulum madrasah ibtidaiyyah (mata pelajaran aqidah akhlak), setelah saya lihat, saya jadi bingung sendiri. Ini yang menyusun sadar atau tidak ya? Karena kalau dari kaca mata pendidikan, sesungguhnya sangat verbalistik, dan kognitif oriented.

Kalau pembelajaran akhlak seperti itu, menurut saya tidak bisa. Kalau saya kembali ke penjelasan Imam al-Ghazali di Ihya’, beliau mengharuskan akhlak itu dalam bentuk pembiasaan, tidak bisa dengan pembelajaran. Kalau kita ingin menjadikan orang melakukan suatu hal, maka Imam al-Ghazali mengharuskan ia melakukan perbuatan orang seperti yang iaa inginkan. Jadi kalau dia ingin menjadi faqih, maka dia harus melakukan apa yang dilakukan faqih, sampai dia menjadi faqih.

Kalau ingin menjadi orang sabar, dia harus berbuat seperti orang sabar, meskipun dia susah melakukan itu. Kalau melihat itu, maka pendidikan akhlak kita nggak mengacu kesana. Jadi pendidikan itu hanya masuk dalam logika-logika dangkal, yang tidak meresap dalam batin. Itu saja, kalau kita ngomong kurikulum, seburuk apapun, asal sang guru ‘alim, saya kira nggak masalah. Guru bisa melakukan itu. Tapi persoalannya berapa persen guru yang benar-benar bisa mendidik anak-anaknya? Karena akhlak itu tidak bisa terwujud jika seseorang tidak melakukannya kan. Itu yang repot di pendidikan akhlak. Bagaimana seseorang bisa mengajarkan sabar, kalau dia sendiri nggak sabar.

Bukankah di Risalah Qusyairiyah dijelaskan, bahwa al-tashawwufu khuluqun faman zaada ‘alaika fi khuluqi zaada ‘alaika fi al-shifa’. Tasawuf itu kan akhlaq. Semakin  akhlaknya tambah bagus, pasti ruhaninya tambah bersih. Bahkan sufi lain mendefinisikan laisa al-tashawwuf al-rasman walaa ‘ilman, tasawuf itu bukan keterampilan, bukan juga ilmu. Kalau tasawuf itu keterampilan, lafashala bil mujahadah, dia pasti bisa dicapai dengan mujahadah, training. Seandainya tasawuf adalah ilmu, pasti dia bisa diperoleh melalui ta’lum, belajar. Tapi tasawuf itu sesungguhnya adalah takhalluq bi akhlaaqillah, bagaimana mengakhlakkan batin ruhani ini menjadi baik, sehingga tampil diluar menjadi baik, sebagai refleksi batin.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.