Kemuliaan

Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily
Sulthanul Auliya’ Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily mengatakan: Allah Swt. berfirman: “Hanya bagi Allahlah kemuliaan, dan bagi Rasul-Nya serta  bagi sekalian orang-orang yang beriman.”

Harus dibaca juga..

Kemuliaan orang yang beriman adalah pencegahan Allah terhadap dirinya untuk menghamba kepada hawa nafsu, syetan dan dunia  atau segala yang ada di jagad ini baik yang ghaib maupun yang tampak, baik itu dunia maupun akhirat.

Sedangkan orang munafik tidak mengerti keagungan kecuali  melalui kausalitas (sebab akibat) serta penyembahan terhadap  tuhan-tuhan yang  banyak.

“Adakah Tuhan (yang lain) disamping Allah? Maha Luhur Allah  dari apa  yang  mereka sekutukan. Apakah mereka  menyekutukan  melalui (tuhan-tuhan)  yang  tak  bisa mencipta  sesuatu  pun, sedangkan mereka  itu  diciptakan, dan mereka  (tuhan-tuhan) tidak mampu menolong  mereka,  juga menolong diri  mereka  sendiri. Apabila engkau mengajak mereka kepada petunjuk, mereka tidak akan mengikutimu, baik mereka engkau ajak atau engkau diam saja.”

Sebagian Sufi berkata, “Barang siapa yang menghendaki kemuliaan dunia akhirat maka masuklah dalam mazhab kami ini dalam dua hari.”

Ada seseorang bertanya,  “Bagaimana caranya  untukku?”.

Dijawab, “Pisahkan berhala-berhala dari hatimu, dan ringankanlah tubuhmu  dari kepentingan duniawi, baru kemudian jadilah  dirimu semaumu. Sebab Allah tak akan meninggalkanmu. Apabila setelah itu ada sesuatu dari dunia yang datang kepadamu, jangan engkau  pan¬dang  dengan mata hasrat kesenangan,  jangan pula  Anda  menyertai dunia  itu dengan  gembira.  Jangan pula Anda duduk bersamanya kecuali dengan kewajiban ilmu dalam mendistribusikan dan menahan¬nya.

Apabila suatu hari Anda masih mencari duniawi, maka  saksi kanlah  bahwa Allah telah mencarimu dalam pencarianmu pada  dunia itu. Dan engkau sebenarnya dicari melalui pencarian. Kalau engkau keluar  menuju  upaya pencarian dunia melalui jalan  ridha,  maka masuklah  jalan itu. Hati Anda jangan bergantung padanya,  dengan tetap  bergantung  pada  Allah, dan memang  harus  begitu.  Sebab engkau  tidak tahu apakah engkau akan mendapatkannya atau  tidak?

Kalau  engkau telah mendapatkannya, engkau tidak tahu apakah  itu milik  Anda  atau milik orang lain? Kalau itu milik  Anda  engkau tidak tahu apakah di dalamnya mengandung  unsur  kebaikan  atau keburukan?  Kalau  itu bukan milik Anda, maka Anda  tidak  berhak mengetahuinya, apakah itu untuk kekasihmu atau musuhmu?

Kesimpulannya:  Bagaimana hati bisa tenang manakala masih  singgah kepada seuatu yang membingungkan yang terilustrasikan dari  semua ini, bahkan  lebih banyak lagi? Karena itu carilah dunia itu, tetapi Anda tetap bergantung kepada-Nya dan memandang-Nya.

Bersy¬ukurlah manakala Anda berhasil, dan bersabar serta ridhalah  jika belum berhasil. Bahkan memuji kepada Allah itu lebih layak indah¬nya.  Sebab  Allah tidak menghalangimu dari sukses duniawi  itu, karena Allah bakhil. Tidak demikian! Tetapi Allah menghalangimu karena Dia memandang  kepadamu. Artinya, apabila Allah  menghalangimu  dari sukses itu, Allah sebenarnya telah memberi anugerah kepadamu. Namun pemberian anugerah  dalam ketidaksuksesan itu  hanya  dipahami  oleh orang-orang shiddiqun.

Sebaliknya, apabila  Anda mendapatkan jalan keluar  usaha  dari Allah  melalui  jalan kebencian, yang mengganti pengetahuan (yang benar) atau yang mendekatinya, maka cepat-cepatlah  kembali kepada Allah, larilah kepada-Nya hingga Dia sendiri yang  member¬ sihkan Anda,  dan (Allah bertindak sebagaimana  kehendak-Nya  — sedangkan akibat baik hanya bagi orang-orang yang bertakwa).”

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.