Hijrah Dari Ke-AKU-an

Pengajian 10 Ramadhan, tahun 545 H. di Madrasahnya

Harus dibaca juga..

Orang beriman adalah orang yang hijrah dari dirinya, belajar kepada seorang guru yang mendidik dan mengajarinya mulai dari kecil hingga mati. Sang qari’ adalah orang yang menghafal Al-Qur’an, dan pada pertengahannya ia mengenal pengetahuan tentang tradisi atau Sunnah Rasulullah Saw, maka saat itulah ia pasti dapat pertolongan. Ia mengamalkan ilmunya dan kokoh dengan amaliahnya hanya bagi Allah Azza wa-Jalla. Setiap ia mengamalkan ilmunya, Allah Azza wa-Jalla mewariskan pengetahuan yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya.

Jangan hanya duduk-duduk di atas tempat tidurmu, dengan selimutmu, dan dibalik pintumu yang tertutup, lalu anda mencari amal dan yang anda amalkan? Perhatikan hatimu dengan dzikir, dan mengingatNya di hari ketika dibangkitkan. Tafakkurlah untuk merenungi pelajaran di balik alam kubur. Renungkanlah bagaimana Allah Azza wa-Jalla menggelar semua makhlukNya dan membangkitkan mereka di hadapanNya.

Hatinya teguh pada pijakannya, keikhlasannya mendekatkan langkahnya menuju Allah Azza wa-Jalla. Bila anda mengamalkan ilmu itu, sementara anda tidak melihat hatimu mendekat kepada Allah Azza wa-Jalla, anda pun tidak merasakan indahnya ibadah, kebahagiaan dibalik ibadah, ketahuilah bahwa anda sebenarnya belum beramal ibadah. Anda terhalang karena adanya celah dibalik amal anda. Apakah celah itu? Adalah riya’, kemunafikan dan takjub pada diri sendiri.

Wahai orang yang beramal, ikhlaslah. Jika tidak, anda jangan bersusah payah. Hendaknya anda melakukan muroqobah pada Allah Azza wa-Jalla baik dalam sunyi maupun ramai. Muroqobah dalam keramaian saja itu bagi orang munafik. Namun bagi orang yang ikhlas, muroqobah baik dalam sunyi maupun ramai sama saja.

Hati-hati, jika anda melihat orang yang bersolek, lelaki maupun wanita, maka pejamkan matamu, pejamkan mata nafsumu, watak dirimu, ingatlah pandangan Allah Azza wa-Jalla kepadamu, dan bacalah: ”Kamu tidak berada dalam suatu keadaan…” (QS Yunus: 61)

Waspadalah pada Allah azza wa-Jalla, dan pejamkan matamu untuk memandang hal yang diharamnkan, ingatlah pada Dzat Yang transparan pandanganNya dan pengetahuanNya. Bila anda tidak mewaspadai pandanganNya Azza wa-Jalla dan tidak kontra padaNya, maka sempurnalah ubudiyahmu padaNya, dan kelak anda tergolong hamba yang benar, masuk dalam kelompok yang difirmankanNya:
”Sesungguhnya hamba-hambaKu, tak ada bagimu (Iblis) kemampuan menguasai mereka.” (QS Al-Hijr: 42)

Bila syukurmu benar hanya bagi Allah Azza wa-Jalla, maka Dia mengilhami hati para makhluk dan lisannya untuk terimakasih padamu, cinta padamu. Maka disinilah syetan dan pasukannya tidak punya jalan masuk padamu. Hendaknya  anda meninggalkan doa sebagai prinsip, kalau toh sibuk berdoa itu hanyalah toleransi saja untukmu. Doa itu bagi orang yang sedang tenggelam dan yang terpenjara, tertahan, sampai ia dapat jalan keluar dan masuk ke hadapan raja.

Jadilah dirimu orang yang berakal sehat, apa yang baik bagimu dan apa yang tidak baik, ketika anda meninggalkan doa. Tak satu pun kecuali butuh niat yang benar, akal yang sehat dan  mengikuti jejak yang mengerti.

Kalian tidak menggunakan akal sehat apa yang ada disisi Allah Azza wa-Jalla dan apa yang ada di sisi hambaNya yang shaleh. Itulah yang menyebabkan kalian su’udzon (buruk sangka) pada mereka. Jangan sampai anda khawatir terhadap pangkal agamamu dan kondisimu  bersama  mereka. Jangan sampai kalian menentang aktivitas mereka sepanjang tidak bertentangan dengan syariat, jangan kontra dengan mereka karena mereka ada di hadapanNya Azza wa-Jalla, lahir dan batin.

Di hatinya tidak pernah tenang dari rasa takut hingga ketenangan dan jaminan keselamatan ada padanya.

Kemarilah wahai hamba Allah Azza wa-Jalla di muka bumi, kemarilah wahai kaum zuhud, belajarlah, anda akan mengerti pengetahuan yang baik dariNya. Masuklah dalam kitabku sampai aku memberi pelajaran padamu yang tidak pernah kalian dapatkan.

Hati kita punya kitab, dan rahasia batin juga ada kitabnya. Nafsu juga ada kitabnya, anggota badan juga ada kitabnya. Semua ada derajat-derajat, maqom-maqom, pijakan-pijakan yang beragam.

Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany
Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.