Hakikat Ilmu

Aku pernah melihat Nabi saw. bersama Nuh as, dan seorang Malaikat ada  diantara beliau berdua. Lalu Nabi saw, bersabda, ”Seandainya  Nuh mengetahui  kaumnya  sebagaimana  Muhammad  —‘alaihis  shalatu wassalam— mengetahui kaumnya, tentu Nuh tidak akan berdoa  atas kaumnya,  dengan  ucapannya, “Tuhanku, janganlah  engkau  biarkan seorang pun diantara orang-orang kafir itu tinggal di atas  bumi. Sesungguhnya  jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya  mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain  anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (Q.s.  Nuh: 26-27). Inilah posisi ilmu hakiki yang tidak bisa dirubah.

Harus dibaca juga..

 

Seandainya  Muhammad  —‘alaihis shalatu  wasssalam—  mengetahui kaumnya sebagaimana pengetahuan Nuh —‘alaihis salam— ia tidak akan  menangguhkan sekejap mata pun, tetapi ia  mengetahui  bahwa dalam  tulang punggung mereka ada orang yang  beriman  kepada-Nya dan menyiapkan (diri) untuk bertemu Tuhan-Nya, — lalu Nabi  saw. bersabda, — “Ya Allah ampunilah dosa kaumku, sebab mereka  sesungguhnya tidak mengetahui.”

Semua di dasarkan  pengetahuan  dan bukti  dari Allah. Maka setiap masing-masing harus  menetapi  apa yang  ada  dari do’a. Kemudian Nabi  saw.  bersabda,  “Bukankah demikian?” Mereka berdua menjawab, “Benar.” Lalu Nabi saw.  bersabda,  ”Barangsiapa memerangi diri sendiri, hawa  nafsunya,  syetan dan syahwatnya serta dunianya, lantas ia kalah, berarti ia tertolong dan diberi pahala. Dan barangsiapa memerangi semua itu, lalu ia kalah ia tergolong diampuni dan diterima syukurnya,  sepanjang tidak terus menerus berbuat dosa, atau rela pada aib, atau  gugur dalam rasa ketakutan dalam batin. Barang siapa berada dalam salah satu tiga kategori di atas dan ia tahu bahwa ia punya Tuhan  Yang Maha  Pengampun dosa dan menyiksa akibat dosa itu, serta ia  iman terhadap  seluruh  qadar  dan takut dari  dosanya,  merasa  takut kepada  Tuhannya, maka rahmat akan datang lebih cepat  kepadanya dibanding  tetes  hujan  yang jatuh ke bumi-Nya.” Dan  Allah  pun berfirman,  ”Yang paling Kukasihi pada hamba-Ku, manakala ia  usai menghadap-Ku, dan paling agung di sisi-Ku jika hamba-Ku menghadap pada-Ku.”

Sementara orang yang hancur adalah orang yang bergembira  dengan  maksiatnya manakala diberikan  peluang padanya,  dan susah  gelisah  manakala ia tidak bermaksiat.  Ia  merasa  bangga dengan tindakan maksiat itu, dan tidak mau menutupinya. Maka kita mohon  perlindungan  dari  Allah, dan ia  berada  dalam  kehendak Allah.

Hakikat ilmu itu disebut baik manakala ia tenteram dalam  kebajikan  ilmu. Sedangkan hakikat ilmu itu disebut buruk manakala, ia keluar dari ilmu itu. Ilmu  itu bagi hati ibarat dirham-dirham dan dinar-dinar di  tangan. Bisa bermanfaat bagimu bisa pula membahayakanmu.

Ada tujuh kategori, hendaknya hatimu engkau hindarkan dari  tujuh perkara  itu: 
1) Tak ada ilmu dan,
2) tak ada amal, 
3)  tak ada keistmewaan, 
4) dan tak ada titipan ruhani,
5) tak ada tempat-tempat  singgah jiwa,
6) dan tak ada bisikan-bisikan  ruhani, 
7) tak ada  hakikat-hakikat yang bisa  menyelamatakan  dirimu  dari takdir Allah swt.
Ilmu yang  hakiki  adalah ilmu yang tidak dicampuri oleh kontradiksi dan bukti-bukti yang menafikan contoh dan keraguan, sebagaimana Ilmu Rasul saw,  Ilmu orang yang  benar, serta ilmu Wali. Siapa pun yang memasuki medan tersebut ibaratnya seperti orang yang tenggelam dalam samudera, kemudian ia ditelan oleh ombak, lalu kontradiksi manakah yang muncul (dalam situasi seperti itu) yang bisa didapatkan, dicampurkan, didengar atau dilihat. Sedangkan siapa yang tidak memasuki medan tersebut ia sangat membutuhkan ayat “Tiada satu pun yang menyamai-Nya”.

Jika engkau bermajlis dengan para Ulama, janganlah bicara dengan mereka kecuali dengan ilmu-ilmu Naqliyah dan riwayat hadits yang shahih. Bisa jadi engkau memberi manfaat terhadap mereka atau sebaliknya engkau bisa meraih manfaat dari mereka. Itulah keuntungan terbesar dari mereka.

Namun, jika engkau bermajlis dengan para ahli ibadah dan ahli zuhud, maka duduklah dengan mereka di atas tikar zuhud dan ibadah. Itu membuat mereka mudah memberikan solusi atas lintasan ketetapannya dan membuat mudah apa yang menjadi kesulitannya, serta rasa kema’rifatan mereka sepanjang mereka belum merasakannya.

Apabila engkau bermajlis dengan kaum Shiddiqin, maka pisahkan apa yang engkau ketahui, maka engkau akan mendapatkan ilmu yang terpendam.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.