Wahai Dawud! SyurgaKu hanya bagi orang yang tidak putus asa dari rahmatKu, dan benciKu hanya pada orang yang berbuat suatu dosa, lalu ia bangga dengan dosanya di sisi PemaafanKu! Kalau toh Aku mempercepat siksa pada seseorang, maka yang paling dahulu Kusiksa adalah orang yang putus asa dari RahmatKu, dan kesegeraan itu bukan dari PerilakuKu. Lihatlah, Aku terus memandang KekasihKu bila malam telah tiba dengan kegelapannya, Aku jadikan matanya ada di hatinya, lalu mereka berbincang denganKu melalui bibir-bibir dzikirnya, dan mereka hadir dalam pembicaraan denganKu.
Wahai Dawud! Seandainya saja Aku tidak mengikat ruh para kekasihKu pada badan-badan mereka, pastilah arwah-arwahnya keluar bergegas rindu untuk segera menemuiKu.
Wahai Dawud! Diantara hamba-hambaKu ada yang sangat ahli dalam kebajikan, dan Kujadikan kebahagiaan dan kemesraan sebagai bagiannya. Sungguh bahagia mereka, dan sungguh sebaik-baik tempat kembali.
Diriwayatkan, bahwa Allah swt memberi wahyu kepada Nabi Yahya bin Zakaria, semoga sholawat dan salam bagi keduanya:
“Sesungguhnya Aku memutuskan atas DiriKu, bahwa tidaklah seorang seorang hamba dari para hambaKu yang mencintaiKu, dimana Aku mengatahui dari hatinya, melainkan Aku telah menjadi pendengaran, penglihatan dan ucapannya. Lantas Aku membuatnya benci pada segalanya, dan Aku halangi kesenangan syahwatnya serta kenikmatan-kenikmatannya, kenyamanan hidupnya.
Setiap hari aku menjenguknya tujuh puluh ribu kali, dan setiap saat Aku tambahkan kenikmatan mencintaiKu, kemanisan bermesraan denganKu, dan Aku penuhi hatinya dengan cahaya dariKu, hingga ia melihatKu setiap saat, lalu Aku membelai kepalanya, kemudian Aku letakkan TanganKu di atas luka hatinya, hingga ia tak pernah mengeluhkannya. Aku pun mendengar gelora hatinya karena rindu membara untuk bertemu denganKu, disamping rasa takut jika putus denganKu, lalu dia berkata, “Benar sungguh bagiku, aku tak akan pernah tenang sebelum sampai kepadaMu wahai Tuhanku…!”




