Do’a

Bersikap ridha atas apa pun yang dipilih Allah untuk kita adalah lebih utama. Sehubungan dengan alasan ini, al Wasithy mengatakan, “Memilih apa yang telah ditetapkan bagimu dalam zaman azali adalah lebih balk bagimu daripada menentang keadaan yang ada sekarang.” Nabi saw bersabda, ‘Allah swt. berfirman dalam hadis Qudsi, Aku memberi kepada orang yang terlalu sibuk mengingat-Ku hingga tak sempat berdoa, lebih banyak daripada yang Kuberikan kepada mereka yang berdoa.”

Harus dibaca juga..

Ada kelompok kaum yang berkata, “Si hamba harus berdoa dengan lidahnya, sementara pada saat yang sama dia juga bersikap ridha, dan dengan demikian menggabungkan keduanya itu.”
Pendapat yang lebih utama dalam hal ini adalah mengatakan bahwa waktu dan situasi itu berbeda-beda. Dalam situasi tertentu, doa adalah lebih baik daripada diam, yaitu sebagai perilaku adab seorang hamba. Sementara dalam keadaan lain, berdiam diri adalah lebih baik daripada doa, yaitu sebagai alasan adab pula.

Ini hanya bisa diketahui dalam waktu, karena pengetahuan mengenai waktu, jika seseorang mendapati hatinya condong untuk berdoa, maka berdoa adalah paling baik. Jika dia mendapati hatinya condong kepada berdiam diri, maka berdiam diri lebih baik.

Benar juga dikatakan bahwa tidaklah patut bagi si hamba untuk tidak mengabaikan penyaksian terhadap TuhannyaYang Maha Luhur ketika berdoa. Dia juga harus memberikan perhatian cermat kepada keadaan dirinya. Jika dia mengalami kelapangan yang meningkat dalam keadaan berdoanya, maka berdoa adalah paling baik baginya. Jika dia mengalami semacam kendala dan hatinya merasa sempit ketika berdoa, maka yang paling baik baginya adalah meninggalkan berdoa pada saat itu.

Jika dia tidak mengalami yang manapun dari kedua hal ini, maka terus berdoa ataupun meninggalkannya adalah sama saja baiknya. Jika kepeduliannya yang utama adalah pada keadaan ma’rifat dan berdiam diri, maka menghindari berdoa adalah lebih baik baginya. Dalam soal-soal yang menyangkut nasib kaum Muslimin atau yang berkaitan dengan kewajiban seseorang terhadap Allah, maka berdoa adalah lebih baik daripada tidak, tapi dalam perkara-perkara yang menyangkut kebutuhan diri sendiri, maka berdiam diri adalah lebih baik.

Dalam sebuah hadist disebutkan, ‘Apabila seorang hamba yang dicintai Allah berdoa, maka Allah berfirman, ‘Wahai Jibril, tundalah memenuhi kebutuhan hamba-Ku itu, karena Aku senang mendengarkan suaranya.’ Apabila seseorang yang tidak disukai Allah berdoa, Dia berfirman, ‘Wahai Jibril, penuhilah kebutuhan hamba-Ku itu, karena Aku tak suka mendengar suaranya’.”

Diceritakan bahwa Yahya bin Sa’id al-Qaththan bermimpi melihat Allah swt. dan ia berkata, “Wahai Tuhanku, betapa banyak kami telah berdoa kepadamu, tapi Engkau tidak mengabulkan doa kami!” Dia menjawab, “Wahai Yahya, itu karena Aku senang mendengarkan suaramu.”

Nabi saw menjelaskan:
“Demi Dia yang jiwaku berada di tangan-Nya, apabila seseorang yang dimurkai Allah berdoa, Dia akan menolaknya. Lalu orang itu berdoa lagi, akhirnya Allah swt. berfirman kepada para malaikat-Nya, ‘Hamba-Ku menolak untuk berdoa kepada selain pada Ku, makaAku pun mengabulkan doanya’.” (H.r. Ali r.a, dan dikeluarkan oleh al-Hakim).

Al-Hasan meriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. yang menuturkan, “Pada masa Nabi saw, ada seorang laki-laki yang berdagang antara Syam dan Madinah serta dari Madinah ke Syam. Dia biasa bepergian, tanpa bergabung dengan kafilah-kafilah demi tawakkal kepada Allah swt. Sekali waktu, ketika dia bepergian dari Syam ke Madinah, seorang penyamun mencegatnya dan berkata kepadanya, `Berhenti!’ Pedagang itu pun berhenti dan berkata kepada si penyamun, Ambillah barang-barangku tapi janganlah kau rintangi jalanku!’ Si penyamun menjawab, `Urusan harta bukan urusanku, tapi dirimulah yang kukehendaki.’ Maka pedagang itu menjawab, Apa yang kau kehendaki dariku, bukankah urusanmu itu hartaku? Ambillah barang-barang itu dan enyahlah!’ Si penyamun mengulangi apa yang telah dikatakannya. Si pedagang berkata, `Tunggulah sampai aku berwudhu dan berdoa kepada Tuhanku.’ Maka si pedagang pun bangkit, berwudhu, lalu shalat empat rakaat. Setelah itu dia mengangkat tangannya ke langit dan berdoa, `Wahai Yang Maha Penyayang, wahai Yang Maha Penyayang, wahai Pemilik Arasy yang Agung, wahai Yang dari-Nya segala sesuatu berasal dan kepada-Nya segala sesuatu kembali, wahai Yang Maha melakukan apa yang dikehendaki-Nya, aku memohon kepada-Mu dengan cahaya Wajah-Mu yang memenuhi segenap penjuru `Arasy-Mu, aku memohon kepada-Mu dengan kekuasaan yang dengannya Engkau memerintah makhluk-Mu, dan dengan kasih sayang-Mu, tidak ada Tuhan selain Engkau, wahai Maha Penolong, tolonglah aku!’

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.