Dialog Ibnu Taimiyah – Ibnu Athaillah di Al-Azhar

 

Harus dibaca juga..

Tentang perkataan Asy-Syadzili, bukan Abul Hasan Asy-Syadzili sendiri yang mengatakannya, tapi salah seorang muridnya. Dialah yang berkata tentang Syeikh Ibnu Arabi dan tentang sebagian murid beliau yang memahami kata-katanya secara kurang benar.

Ibnu Athaillah diam sebentar, kemudian bertanya:

Ibnu Athaillah (IA): “Bagaimana pendapat Anda tentang syeikh Anda imam Ahmad Ibnu Hanbal r.a.?”

Ibnu Taimiah (IT): “Imam Ahmad seorang yang lebih tahu dari orang lain tentang Qur’an. Sunnah. pendapat para sahabat dan tabi’in. Sebab itu hampir tak terdapat dalam pendapat-pendapatnya sesuatu yang bertentangan dengan nash, sebagaimana terdapat pada imam-imam lain. Dan tak terdapat juga pendapat yang lemah, kecuali umumnya pendapat itu bersesuaian dengan pendapat yang lebih kuat. Juga pendapat-pendapatnya yang berbeda dengan yang lainnya, ternyata punya beliau lebih unggul, seperti penerimaan kesaksian non-muslim terhadap kaum muslimin kalau memang diperlukan dan seperti wasiat dalam perjalanan serta masalah-masalah lain.”

Ibnu Athaillah (IA): “Bagaimana pendapat Anda tentang amirul mukminin Imam Ali Ibnu Abi Thalib?”

Ibnu Taimiah (IT): “Semoga Allah ridha dan meridhainya. Dalam hadist sahih Rasulullah pernah bersabda: ‘akulah kota ilmu dan Ali itu pintunya.’ Dialah pejuang yang kalau bertanding dengan siapapun selalu mengalahkannya. Maka ia memberi contoh kepada para ulama dan fuqaha berjuang di jalan Allah dengan lisannya, penanya dan pedangnya sekaligus. Dia —semoga Allah memuliakan wajahnya— adalah seorang sahabat yang paling andal, kata-katanya merupakan pelita yang kugunakan menerangi hidupku setelah Qur’an dan Sunnah. Ah, betapa sedikitnya bekal kita dan betapa panjangnya perjalanan!”

Ibnu Athaillah (IA): “Apakah amirul mukminin imam Ali r.a. akan ditanya nanti, siapa orang-orang yang telah mendukungnya, sampai mereka keterlaluan dan menyatakan bahwa Jibril telah keliru dan memberikan kerasulan kepada Muhammad sebagai ganti dari Ali? Atau tentang mereka yang mengatakan bahwa Allah telah merasuk ke dalam tubuhnya, hingga jadilah imam Ali itu Tuhan? Bukankah kaum muslimin telah menyerang dan memerangi mereka? Dan bukankah para ulama telah menfatwakan agar memerangi mereka di manapun mereka berada?”

Ibnu Taimiah (IT): “Dengan fatwa inilah saya telah memerangi mereka di pegunungan Syam sejak lebih sepuluh tahun yang lalu.”

Ibnu Athaillah (IA): “Dan imam Ahmad r.a. apakah beliau akan ditanya tentang apa yang telah diperbuat oleh sementara pengikutnya, seperti penggerebegan rumah-rumah, penumpahan khamr, pemukulan terhadap para penyanyi dan penari. dan pencegatan orang-orang di lorong-lorong dan jalanan atas nama amar makruf nahi munkar? Apakah beliau berfatwa bahwa mereka itu harus ditakzir atau dijerakan, dicambuki, dipenjarakan dan diarak terbalik di atas punggung keledai? Ataukah imam Ahmad r.a. bertanggungjawab atas perbuatan-perbuatan para awam madzhab Hanbali yang melakukan hal itu sampai sekarangpun atas nama amar makruf nahi munkar?”

Ibnu Taimiah (IT): “Syeikh Muhyiddin Ibnu Arabi lepas dari perbuatan para pengikutnya yang menggugurkan kewajiban-kewajiban agama dan melakukan perbuatan-perbuatan haram. Bukankah begitu pendapat Anda? Namun ke mana Anda akan menghindar dari Allah, sementara di antara kalian ada yang berpendapat bahwa Nabi memberikan kabar baik kepada para fakir, dan bahwa mereka masuk surga sebelum orang-orang kaya. Maka para fakirpun berjatuhan karena tertarik oleh Allah dan mereka pada merobek pakaian mereka. Waktu itulah turun Jibril dan berkata kepada Nabi bahwa Allah menuntut bagian-Nya dari sobekan itu, maka Jibril membawa salah satu pakaian itu dan menggantungkannya di singgasana-Nya. Oleh sebab itu para sufi berpakaian yang ada tambalan-tambalannya dan menyebut diri mereka sebagai para fakir.”

Ibnu Athaillah (IA): “Tidak semua sufi berpakaian begitu. Lihatlah saya yang sedang di hadapan Anda. Ada yang Anda tolak dari penampilan saya?”

Ibnu Taimiah (IT): “Anda dari orang-orang syari’ah dan mengajar di Al-Azhar.”

Ibnu Athaillah (IA): “Dan Al-Ghazali juga imam syari’ah dan sekaligus imam tasawuf ia memasuki hukum-hukum agama dan sunnah-sunnahnya dengan ruh seorang mutasawif. Dengan metode itulah ia bisa menghidupkan ilmu-ilmu agama. Kami mengajari para sufi bahwa kekotoran itu bukan bagian dari agama, dan bahwa kebersihan merupakan bagian dari iman, dan bahwa sufi yang benar harus membangun qalbunya dengan iman sebagaimana yang dikenal dalam Ahlus Sunnah.

Sejak dua abad terakhir ini memang muncul di antara para sufi hal-hal yang Anda ingkari itu, di mana sebagian mereka mengentengkan ibadah, puasa dan shalat serta berpacu dalam kealpaan kepada Allah dengan dalih bahwa mereka telah lepas dari belenggu. Kemudian mereka tidak puas terhadap keburukan-keburukan perbuatan mereka, sampai mereka menunjuk pada hakikat dan ahwal paling tinggi, sebagaimana yang digambarkan oleh Al-Qusyairi imam sufi agung itu. Maka beliau mengarahkan kepada mereka kitabnya Ar-Risalah, menggambarkan jalan sufi kepada Allah yaitu berpegang teguh pada Qur’an dan Sunnah.

Para imam sufi menginginkan sampai pada hakikat, tidak dengan dalil rasional yang bisa menerima yang sebaliknya, namun dengan kejernihan qalbu, olah jiwa dan menjauhkan ilusi-ilusi keduniawian, hingga seorang hamba tidak disibukkan oleh selain cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Perhatian yang luhur ini menjadikannya seorang hamba yang saleh, layak memakmurkan bumi dan memperbaiki hal-hal yang dirusak oleh ketamakan pada harta dan kegetolan pada gengsi, dan layak berjihad di jalan Allah.”

Ibnu Taimiah (IT): “Kata-kata tadi tertuju pada Anda, bukan memihak Anda. Al-Qusyairi tatkala melihat pengikutnya sesat, ia bangkit menyadarkan mereka. Namun apa yang dilakukan oleh para syeikh sufi di zaman kita sekarang ini? Saya hanya menginginkan agar para sufi melangkah di jalan para salaf yang agung itu, yaitu para zahid sahabat, tabi’in dan yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya. Saya menghormati mereka yang berbuat demikian dan menurut saya mereka itu termasuk para imam agama. Adapun membuat-buat dan memasukkan ide-ide animistis dari para filosof Yunani dan budhisme India, seperti pretensi hulul, itthad, wahdatul wujud dan yang semacam itu sebagaimana diserukan oleh sahabat Anda, jelas itu merupakan kekafiran yang nyata.”

Ibnu Athaillah (IA): “Ibnu Arabi seorang fakih dhahir terbesar sesudah Ibnu Hazm. Fakih Andalus yang Anda hormati. Namun dalam hakikat ia menempuh jalan batin, yaitu penyucian perangkat-perangkat batin. Dan tidak semua ahli batin itu sama. Agar Anda tidak tersesat dan tidak lupa. bacalah kembali Ibnu Arabi dengan pemahaman baru atas simbol-simbol dan sugesti-sugestinya. Anda akan menemukannya seperti Al-Qusyairi yang mengambil jalannya ke arah tasawuf di bawah naungan Qur’an dan Sunnah. Ia juga seperti hujjatul Islam Syeikh Al-Ghazali yang menolak pertengkaran-pertengkaran madzhab dalam aqidah dan ibadah dan menganggapnya sebagai urusan yang tak ada artinya, serta menyerukan agar cinta kepada Allah itulah yang mendasari jalan pengabdian di dalam iman. Ada yang Anda ingkari dalam hal ini hai faqih? Ataukah Anda mencintai perdebatan yang mengoyak-ngoyak ahli fiqh?

Imam Malik r.a. pernah memberi peringatan terhadap perdebatan dalam aqidah ini, dan kata beliau: “Setiap ada orang yang lebih pintar dalam berdebat dari yang lainnya, jadi berkuranglah agama.” Dan AI-Ghazali berkata: “Ketahuilah bahwa yang berjalan menuju Allah untuk memperoleh kedekatan dari-Nya adalah qalbu, bukan badan. Qalbu yang dimaksudkan bukan gumpalan daging, melainkan salah satu misteri Allah yang tidak bisa ditangkap oleh indera. “Ahlussunnah itulah yang menjuluki Al-Ghazali syeikh para sufi itu dengan hujjatul Islam, dan tak ada satu kritik pun atas pendapat-pendapatnya. Bahkan ada yang keterlaluan dalam menilai kitab Ihya’ Ulumiddin dan berkata: ‘kitab Ihya’ itu hampir saja jadi Al-Qur’an.’”

Adapun pelaksanaan kewajiban-kewajiban agama, menurut Ibnu Arabi dan Ibnu’l-Faridh merupakan ibadah yang mihrabnya adalah batin, bukan ritus-ritus lahiriah. Apa artinya berdiri dan duduk Anda dalam shalat, kalau qalbu Anda sibuk dengan selain Allah? Allah telah memuji orang-orang dengan sabda-Nya: “Dan mereka yang dalam shalatnya pada khusyuk.” Sebagaimana Dia mencela orang-orang dengan firmanNya: “Dan mereka yang dalam shalatnya pada lalai.” Itulah yang dimaksud oleh Ibnu Arabi dengan kata-katanya :

“Beribadah itu mihrabnya adalah qalbu,” yaitu yang batin, bukan yang lahir. Seorang muslim tak akan sampai pada penghayatan ilmu’l-yaqin dan ainu’l-yaqin, kecuali setelah mengosongkan qalbunya dari hal-hal yang mericuhnya seperti ketamakan pada kehidupan dunia, dan memusatkan diri pada perenungan batinnya, hingga dirinya akan terguyur oleh limpahan hakikat. Dari sinilah tumbuh kekuatannya. Maka sufi yang sebenarnya bukanlah yang melolongi kekuatannya dan minta-minta kepada orang lain. Melainkan yang benar jujur, memberikan ruh dan qalbunya serta fana di dalam Allah dengan mentaati-Nya. Dari sinilah tumbuh kekuatannya dan tiada takut kepada selain Allah.

Mungkin Ibnu Arabi dimusuhi oleh sementara fuqaha, karena beliau meremehkan perhatian mereka terhadap perdebatan dalam aqidah yang mencemari kejernihan qalbu. Juga pendapat-pendapat beliau tentang cabang-cabang fiqh dan perkiraan-perkiraannya, sampai ia menjuluki mereka fuqaha haid dan saya mohon perlindungan Allah agar Anda tidak termasuk mereka itu. Pernahkah Anda membaca pernyataan Ibnu Arabi: “Barangsiapa yang membangun imannya dengan argumen-argumen dan dalil-dalil, maka imannya tidak bisa dipercaya. ia bisa terpengaruh oleh bantahan-bantahan orang. Keyakinan itu  tidak bisa tumbuh dari dalil-dalil rasional, melainkan ditimba dari kedalaman qalbu.“ Pernahkah Anda membaca kata-kata yang jernih dan nyaman itu?”

Ibnu Taimiah (IT):  “Demi Allah Anda telah berbuat yang paling baik. Kalau sahabatmu itu seperti yang Anda katakan, maka dialah orang yang paling jauh dari kekafiran. Akan tetapi kata-katanya tidak mengandung arti-arti yang demikian.”

Ibnu Athaillah (IA): “Ia punya bahasa khusus yang penuh dengan isyarat, simbol, sugesti, misteri dan kelokan-kelokan. Namun, marilah kita kerja yang lebih berguna, yang bisa memenuhi kemaslahatan umat. Mari kita cegah kedzaliman dan jaga keadilan jangan sampai dilanggar. Anda sudah tahu apa yang telah diperbuat oleh dua orang fasik Bibris dan Salar itu terhadap rakyat jelata, sejak An-Nasir mengundurkan diri dan mereka berdua jadi penguasa tunggal? Sekarang Sultan An-Nasir telah kembali, mempercayai dan mau mendengarkan anda. Maka cepatlah datang kepadanya dan nasehati beliau.”

Begitulah percakapan antara dua orang imam besar itu. Dan sebagaimana kata Ibnu Taimiah: “Saya hanya menginginkan agar para sufi melangkah di jalan para salaf yang agung itu, yaitu para zahid sahabat, tabi’in dan yang mengikuti mereka dengan sebaik-baiknya. Saya menghormati mereka yang berbuat demikian dan menurut saya mereka itu termasuk para imam agama.”

Mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran darinya.

 

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

agen slot onlineAplikasi Capsa Susun onlineDaftar Bandar Ceme Onlineion casinoBaccarat Onlineion casinoBaccarat Onlinedaftar situs judi slot online terpercayaBandar Togelsbobet casinoSabung Ayamhttps://run3-game.net/https://www.foreverlivingproduct.info/https://rodina.tv/Bandar Sakong OnlineAgen Slotndomino99newmacau88ndomino99fifaslot88newmacau88newmacau88Live Casinocapsa susunhttps://daftardadu.online/