Belajar Konsentrasi Kepada Allah SWT

Asy-Sya’rani
Seorang murid hendaknya selalu tekun dan gemar berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla di seluruh waktunya, dan tidak menuruti siapa pun yang berusaha memalingkannya kepada yang lain kecuali dengan cara yang dibenarkan oleh syariat. Sebab tarekat tidak menerima persekutuan dengan kegiatan lain. Maka barangsiapa tidak memberikan secara keseluruhan maka tarekat tidak akan memberinya sekalipun hanya sebagian.

Harus dibaca juga..

Maka seorang murid hendaknya selalu gemar mengingat Nama Allah sehingga bisa selalu hadir bersama-Nya. Sementara itu bila sudah sampai pada kesaksian hati, maka sudah tidak diperlukan lagi dzikir dengan lisan. Tapi selama belum berhasil hadir dalam hati secara terus-menerus, maka ia masih tetap diperintah dengan dzikir secara lisan.

Sebagaimana yang telah kami sebutkan, bahwa dzikir akan mampu menyinari hati yang berkarat, sebagaimana pasir yang bercampur debu akan mampu memengkilapkan tembaga yang berkarat. Sedangkan ibadah-ibadah lain yang tidak disertai dengan dzikir, ibarat sabun yang digunakan membersihkan tembaga berkarat. Betapa lama dan letihnya orang yang bersangkutan untuk bisa sampai pada tujuan. Maka kesimpulannya segala sesuatu yang disertakan murid bersama dzikir hanya akan memutuskannya untuk bisa berjalan dengan cepat dan hanya akan memperlambat, sesuai dengan sedikit banyaknya sesuatu yang disertakan bersamaan dzikir. — Dan hanya Allah Yang Mahatahu.

Seorang murid juga bisa menjadi imam shalat dan adzan bila sudah tiba waktunya dan diminta oleh saudara-saudaranya. Ia tidak boleh beralasan karena malu, sebab malu hanyalah menuruti watak dasar manusia, dan bukan secara syariat.

Seorang murid juga mencuci pakaiannya sendiri dari pakaian saudara-saudaranya bila pakaiannya telah kotor. Ia harus meminta izin kepada gurunya bila mau melakukannya.

Seorang murid juga harus memperbaiki lampu, mernbersihkan tempat untuk istirahat, menyiapkan air wudhu untuk dirinya sendiri dan juga untuk saudara-saudaranya. Demikian pula merupakan adab seorang murid, hendaknya memiliki sisir, gunting, siwak (sikat gigi),jarum, dan alat untuk membersihkan punggung dan kepalanya. Ia juga memiliki sajadah untuk alas shalat bila sewaktu-waktu tidak menemukan tempat yang suci, dan handuk untuk membersihkan anggota tubuhnya setelah mandi atau wudhu untuk shalat. Maka segala sesuatu yang dianjurkan (disunahkan) oleh syariat, maka menyiapkan sarana untuk kebutuhan tersebut juga sunah. Demikian pula dianjurkan menggunakan parfum untuk menghilangkan bau ketiaknya. Dan dianjurkan meletakkan makanan di atas meja makan dan jangan diletakkan di atas tanah, untuk menghargai nikmat yang diberikan oleh Allah dan juga untuk menghindari agar tidak tercecer di tanah.

Dan diantara adab yang dilakukan murid, hendaknya menggunakan pakaian sederhana ketika hendak ke kamar mandi. Sejak awal ia harus memulainya dengan menyingsingkan lengan baju sebelah kiri untuk melakukan istinja’ (bersuci dari kotoran najis) ketika selesai buang air. Dan ketika mengangkat meja atau meletakkan sesuatu yang bersih maka menggunakan tangan kanan. Ketika sedang berada di tempat buang air, ia dianjurkan melepas celananya dan bisa dengan duduk, sekiranya tidak dilihat orang lain. Ketika hendak masuk di tempat buang air harus memberi aba-aba atau isyarat barangkali di dalam kamar terdapat orang lain. Dan bila buang hajat di gurun pasir hendaknya ditanam dan ditutupi dengan tanah agar baunya tidak tercium orang.

Seorang murid juga harus lebih berhati-hati dan waspada dengan niat buruk untuk mencari popularitas di tengah-tengah masyarakat agar masalahnya bisa diketahui oleh orang banyak sebagaimana popularitas gurunya. Barangsiapa dzikir dan ibadahnya hanya bertujuan untuk mencari popularitas seperti itu, maka sebagai balasannya adalah hukurnan dengan ditenggelamkan popularitasnya dan tidak dimanfaatkan oleh orang banyak. Sebaliknya, orang yang ingin agar namanya tenggelam dan tidak diketahui oleh orang banyak, maka balasannya adalah ditampakkan secara paksa agar dimanfaatkan oleh orang banyak.

Tuan Guru Ali bin Wafa mengatakan: Wahai murid Allah (orang yang menginginkan Allah), jangan sekali-kali anda punya perhatian untuk menarnpakkan masalah anda yang bakal mendorong anda untuk minta tolong kepada makhluk. Sesungguhnya jika anda memang pada cahaya kebenaran, maka dengan sendirinya Allah akan menampakkan anda. Dan hanya Allah yang cukup untuk memberikan pertolongan dan bantuan. Tapi bila anda berada pada kegelapan ketidakbenaran (batil) maka jangan mencari alat untuk memperlihatkan masalah anda dan menyebarluaskan kebaikan anda, karena anda tidak akan bisa menikmatinya. Kalau anda bisa menikmatinya maka hanya sedikit sekali manfaatnya, tapi perlu anda ingat bahwa Allah lebih dahsyat siksa dan murkaNya.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.