Beban Bukan Siksaan

Suatu hari Syeikh Abul Hasan as-Syadzily menempuh perjalanan bersama para murid-muridnya, menembus sahara. Tiba-tiba dalam benak salah satu muridnya  —Syeikh Abul Abbas al-Mursy, kelak sebagai pengganti beliau— mengeluh, kapan sampainya perjalanan ini? Katanya dalam hati. Keluhan ini didengar oleh beliau, dan langsung menegurnya, “Wahai Ahmad, Adam as, diturunkan dari syurga ke bumi bukan untuk disiksa atau dihina. Tetapi untuk dinaikkan derajatnya. Di dunia diberi tugas, beban, cobaan…” . Lalu Syeikh Abul Abbas memohon ampun kepada Allah Swt.

Harus dibaca juga..

Sehari-hari mungkin kita tidak nyaman dengan beban, tugas, masalah, ujian dan perjuangan, sembari mengeluh, kapankan berakhirnya ujian dan cobaan ini? Pada saat yang sama, tidak kita sadari sebenarnya kita sedang merindukan kebebasan, tanpa beban, tanpa tugas, kalau perlu tanpa tanggung jawab. Bahkan apa yang menimpa kita dan membebani kita, kita sejajarkan dengan siksaan.

Ketika di syurga Adam as, masih melaksanakan ubudiyah ta’rif (ibadah ma’rifat), tetapi ketika di dunia dinaikkan derajatnya dengan ubudiyah taklif (ibadah dengan tugas-tugas dan kewajiban). Bahkan mendapatkan derajat Nubuwwah, Risalah dan Kekhalifahan.

Sesungguhnya yang merasakan tugas Ilahiyah sebagai beban dan kepedihan hanyalah lenguhan nafsu kita. Nafsu hanya menginginkan bebasnya beban, menginginkan yang serba instan dan enak-enak. Bahkan, nafsu, inginnya tidak perlu ibadah, tidak perlu taqarrub, tidak perlu ma’rifatullah. Bagi nafsu semua itu adalah rasa pedih yang menyiksa.

Wallahu A’lam
KHM. Luqman Hakim

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.