Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Saya seorang karyawan swasta jauh dari keluarga tiap minggu pulang karna di rumah saya punya kegiatan agama (sebagai ta’mir.kepala TPQ dan jama’ah ta’lim lainnya) Maaf bukan sombong, sejak awal berkeluarga memang suatu saat saya harus pulang /tidak kerja lagi (kami dijodohkan) karena tersebut diatas /mengganti mertua berdakwah.kadang ada semacam keinginan kuat untuk pulang pada saat itu (yakin bahwa rejeki Allah yang ngatur).
Tapi kadang saya berfikir gimana ekonomi saya nanti.saat sudah merintis usaha kecil kecilan.pertanyaanya apakah keinginan tersebut niat atau nafsu saya ? Terus bagaimana ustadz?
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Masutanto Arif-kangtanto[ad]yahoo.co.id
Jawab
Anda sholat istikhoroh, mohon petunjuk kepada Allah swt, mana posisimu yang bermanfaat bagi dunia dan akhiratmu. Jangan karena jenuh dan bosan, atau keinginan yang menggebu anda lalu memutuskan sesuatu.
Jangan bangga dengan posisimu menggantikan dakwah mertua, dan jangan pernah lagi bicara “Saya tidak sombong…”. Karena itu sama saja mengatakan diri anda sombong. Seperti juga orang mengatakan, “Saya ikhlas kok…”. Itu sama dengan tidak ikhlas.
Memang benar segalanya Allah yang mengatur, bukan saja rejeki, tapi nafas dan detak jantung anda juga Allah swt yang mengatur. Jangan bersembunyi dibalik kata “Rejeki Allah yang mengatur…” lalu anda menyerah, pasrah demi putus asa, atas nama tawakkal. Padahal pasrah itu tempatnya di hati, bukan di pikiran atau pada fisik. Pikiran dan fisik anda untuk ikhtiar.



