Al-Junayd Al-Baghdady Keagungan Tasawuf

Syekh Al-Junayd al-Baghdady

Harus dibaca juga..

Keagungan Tasawuf

Imam Abu Qasim al‑Junaid berkata: “Kitab ini yaitu Al‑Qur’an adalah kitab paling mulia dan paling lengkap. Syariah kita adalah aturan hidup yang paling jelas dan paling rinci. Tareqat kita yakni jalan ahli tasawuf dikuatkan dengan kitab dan sunnah. Maka barang siapa belum mendalami al‑Qur’an, memelihara Sunnah dan memahami makna‑maknanya tidak boleh di ikuti.”

 Al-Junayd berkata kepada murid-muridnya: “Seandainya kamu melihat seseorang terbang di udara maka janganlah kamu meyakininya hingga melihat perbuatannya berkaitan dengan perintah dan larangan Allah. Jika kamu melihat ia menjalankan perintah­-perintah Allah dan meninggalkan larangan‑larangan‑Nya, maka kamu boleh mempercayai dan mengikutinya. Tetapi jika kamu melihat ia melanggar perintah dan larangan itu maka jauhilah dia.”

Barangsiapa tidak menjaga Al-Qur’an dan hadits dalam hubungan soal ini (tasawuif, pent), orang tersebut tidak boleh diikuti. Sebab ilmu tasawuf kita diikat oleh Al-Qur’an dan Sunnah.”

Al‑Junayd mengatakan, “Manakala Allah menghendaki kebaikan bagi seorang murid, Dia akan membawanya ke lingkungan para Sufi dan menjauhkannya dari kaum ulama pembaca buku.”

Dikatakan kepada Abdullah bin Sa’id bin Kilab, “Anda berbicara pandangan masing-masing ulama. Lalu di sana ada seorang tokoh yang dipanggil dengan nama al-Junayd. Lihatlah, apakah Anda kontra atau tidak?”

Abdullah lalu menghadiri majelis al-Junayd. Ia bertanya kepada al-Junayd tentang tauhid, lalu Junayd menjawabnya. Namun Abdullah kebingungan. Lantas kembali bertanya kepada al-Junayd, “Tolong Anda ulang ucapan tadi bagiku!” Al-Junayd mengulangi, namun dengan ungkapan yang lain. Abdullah lalu berkata, “Wah, ini lain lagi, aku tidak mampu menghafalnya. Tolonglah Anda ulangi sekali lagi!” Lantas al-Junayd pun mengulanginya, tetapi dengan ungkapan yang lain lagi. Abdullah berkata, “Tidak mungkin bagiku memahami apa yang Anda ucapkan. Tolonglah Anda uraikan untuk kami!” Al-Junayd menjawab, “Kalau Anda memperkenankannya, aku akan menguraikannya.”

Lalu Abdullah berdiri, dan berkata akan keutamaan al-Junayd serta keunggulan moralnya. “Apabila prinsip-prinsip kaum Sufi merupakan prinsip paling sahih, dan para syeikhnya merupakan tokoh besar manusia, ulamanya adalah yang paling alim di antara manusia. Bagi para murid yang tunduk kepadanya, bila sang murid itu termasuk ahli penempuh (salik) dan melangkah dengan tahapan menuju tujuan mereka, maka para syeikh inilah yang menjaga apa yang teristimewa, berupa terbukanya rahasia kegaiban. Karenanya, tidak dibutuhkan lagi bergaul (terkait) dengan orang yang ada di luar golongan ini. Bila ingin mengikuti jalan Sunnah, sementara dirinya tidak kompeten untuk mandiri dalam hujjah, lalu ingin mengikuti tahap  bertaklid agar bisa sampai pada kebenaran, hendaknya ia bertaklid kepada ulama salafnya. Dan hendaknya melintasi jalan generasi Sufi ini, sebab, mereka lebih utama dari yang lain.”

Al-Junaid berkata:

 “Jika Anda mengetahui bahwa Allah swt. memiliki ilmu di bawah atap langit ini yang lebih mulia daripada ilmu tasawuf, dimana kita berbicara di dalamnya dengan sahabat-sahabat dan teman kita, tentu aku akan berjalan dan menuju ilmu tadi.”

 “Tasawuf artinya Allah mematikan dirimu dari dirimu, dan menghidupkan dirimu Bersama-Nya.”

“Tasawuf adalah engkau berada semata-mata bersama Allah swt. tanpa keterikatan apa pun.”

“Tasawuf adalah perang tanpa kompromi.” Dia berkata pula, “Para Sufi adalah anggota dari satu keluarga yang tidak bisa dimasuki oleh orang-orang selain mereka.” Selanjutnya dia juga menjelaskan lagi, “Tasawuf adalah dzikir bersama, ekstase yang disertai penyimakan, dan tindakan yang didasari Sunnah.”

“Kaum Sufi adalah seperti bumi, selalu semua kotoran dicampakkan kepadanya, namun tidak menumbuhkan kecuali segala tumbuhan yang baik.” Dia juga mengatakan, “Seorang Sufi adalah bagaikan bumi, yang diinjak orang saleh maupun pendosa; juga seperti mendung, memayungi segala yang ada; seperti air huian, mengairi segala sesuatu.” Dia melanjutkan, “jika engkau melihat seorang Sufi menaruh kepedulian kepada penampilan lahiriahnya, maka ketahuilah wujud batinnya rusak.”

“Aku tak pernah mengambil pelajaran  tasawuf dari kata-kata, tetapi aku mengambil pejaran dari rasa lapar dan meninggalkan dunia, memutuskan segala kecenderungan dan hal-hal yang elok.”

Al-Junayd pernah ditanya, darimana anda meraih prestasi ilmu seperti ini?

”Dari dudukku selama tiga puluh tahun di hadapan Allah swt. “

(Pangeran Sufi Al-Junayd al-Baghdadi, oleh KHM Luqman Hakim, penerbit Cahaya Sufi Jakarta 2016)

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

agen slot onlineAplikasi Capsa Susun onlineDaftar Bandar Ceme Onlineion casinoBaccarat Onlineion casinoBaccarat Onlinedaftar situs judi slot online terpercayaBandar Togelsbobet casinoSabung Ayamhttps://run3-game.net/https://www.foreverlivingproduct.info/https://rodina.tv/Bandar Sakong OnlineAgen Slotndomino99newmacau88ndomino99fifaslot88newmacau88newmacau88Live Casinocapsa susunhttps://daftardadu.online/