Adab Mencari Nafkah

Syeikh Abu Nashr as-Sarraj
Sahl bin Abdullah – rahimahullah – berkata, “Barangsiapa mencela kerja (mencari nafkah) berarti mencela sunnah. Dan barangsiapa mencela tawakal berarti mencela iman.”
Al-Junayd -rahimahullah- ditanya tentang masalah kerja lalu menjawab, “Mengambil air dan menuai benih.”

Harus dibaca juga..

Ishaq al-Maghazili, salah seorang syekh Sufi pernah menulis surat kepada Bisyr bin al-Harits, seorang tukang pintal (tenun) Dalam suratnya, “Sebagaimana berita yang saya terima tentang diri Anda, bahwa dalam masalah ekonomi Anda merasa cukup dengan pekerjaan memintal. Lalu bagaimana pendapat Anda jika Allah swt, mencabut pendengaran dan mata Anda? Lalu pada siapakah Anda akan berlindung?”. Setelah membaca surat itu Bisyr berhenti bekerja dan menyibukkan diri untuk beribadah.
Ada seseorang bertanya pada Ibnu Salim -rahimahullah- di Basrah. Ketika itu saya (as-Sarraj) ikut hadir dalam majelisnya. Ia berbicara tentang keutamaan bekerja. Lalu orang tersebut bertanya, “Wahai syekh, apakah kami diperintah mengabdi dengan cara bekerja ataukah dengan tawakal?”
Maka Ibnu Salim menjawab, “Tawakal adalah kondisi spiritual dalam jiwa (haal) Rasulullah, sedangkan bekerja mencari nafkah adalah sunnahnya. Beliau menjadikan bekerja sebagai suatu sunnah (aturan) untuk umatnya hanya karena beliau tahu akan kelemahan mereka. Sehingga ketika mereka jatuh dari tingkatan tawakal yang merupakan kondisi spiritual Rasul, mereka akan jatuh pada tingkatan bekerja yang merupakan sunnahnya. Jika tidak demikian niscaya mereka akan binasa.”
Dikisahkan dari Abdullah bin al-Mubarak yang berkata, “Tidak ada kebaikan sama sekali bagi orang yang tidak pernah merasakan rendahnya bekerja mencari nafkah.”
Abdullah bin al-Mubarak berkata, “Usaha Anda dalam mencari nafkah tidak akan menghalangi Anda untuk berserah diri dan bertawakal kepada Allah swt, jika Anda tidak menyia-nyiakannya dalam pencarian nafkah Anda.”
Dikatakan bahwa Abu Said al-Kharraz pernah keluar dari Syam menuju ke Mekkah bersama kafilah (rombongan). Pada suatu malam ia duduk hingga pagi hari untuk menambal sandal-sandal para sahabatnya dari kaum fakir Sufi.
Abu Hafsh -rahimahullah- berkata, “Suatu ketika aku meningalkan bekerja mencari nafkah. Kemudian aku mengulanginya kembali. Lalu pekerjaan itu malah meninggalkanku. Setelah itu aku tidak mengulanginya lagi.”
Dikisahkan dari sebagian kaum fakir Sufi, bahwa di Damaskus ada seorang laki-laki berkulit hitam bersahabat dengan kaum Sufi. setiap hari la bekerja sebagai penumbuk kapur dengan upah tiga dirham.Ia hanya makan setiap tiga hari sekali. Jika telah mengambil upahnya, ia akan membeli makanan dan datang kepada para sahabatnya, untuk makan bersama mereka kemudian  kembali lagi bekerja.
Dikisahkan bahwa Abu al-Qasim al-Munadi -rahimahullah – pernah keluar dari rumahnya. Jika la telah mendapatkan uang sebanyak dua daniq, ia pulang ke rumahnya-kapan pun waktunya.
Disebutkan bahwa Ibrahim al-Khawwash berkata, “Jika seorang murid telah menggantungkan pada sebab dan sarana selama tiga hari, maka bekerja mencari nafkah dan keluar ke pasar adalah lebih baik baginya.”
Dikisahkan, bahwa Ibrahim bin Adham berkata, “Wajib bagi anda untuk melakukan pekerjaan para pahlawan: Bekerja mencari nafkah dari cara yang halal dan menafkahkannya pada keluarga.”
Syekh Abu Nashr as-Sarraj -rahimahullah- berkata: Barangsiapa disibukkan dengan bekerja maka hendaknya tidak lupa menunaikan kewajiban-kewajiban di waktunya masing-masing, tidak melihat bahwa rezekinya berasal dari pekerjaan tersebut, berniat membantu kaum muslimin dan memberikan kepada mereka, yang mana semua itu merupakan adab bagi mereka yang disibukkan bekerja.
Jika ada kelebihan dari hasil kerjanya dan telah cukup untuk nafkah keluarganya, maka la tidak boleh menumpuk dan menympannya, tapi hendaknya disedekahkan kepada teman-temannya yang fakir yang tidak memiliki mata pencaharian, tidak tentu kapan makan dan tidak mau meminta-minta. Sebab jika ia diuji dengan hal itu, maka la adalah salah seorang di antara mereka
Demikian juga sebagian orang yang tidak memiliki hubungan dengan mereka namun telah dibukakan pintu rezeki, mereka akan membantunya. Mereka lebih banyak memperhatikan pada sarana-sarana yang diperlukan daripada perhatiannya terhadap diri mereka sendiri.
Dikisahkan dari Abu Hafsh al-Haddad -rahimahullah-, bahwa selama dua puluh tahun lebih la bekerja dengan upah dua dinar perhari. Dari hasil itu la infakkan pada kaum Sufi. Ia sendiri tidak pernah meminta-minta dan selalu berpuasa. Ia keluar di petang hari di waktu antara Maghrib dan Isya’ untuk menyedekahkannya dari pintu ke pintu.
Asy-Syibli -rahimahullah- bertanya kepada seseorang, “ Apa pekerjaan Anda?” la menjawab, “Tukang tambal sepatu.” Maka asy-Syibli berkata lagi, “Antara satu bekas lubang jarum dengan yang lain Anda lupa dengan Allah swt,.”
Dzun-Nun -rahimahullah- berkata, “Jika seorang arif telah mencari rezeki maka la tidak berarti apa-apa.”

 

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.