Ada Apa dengan Cinta

Jihad menjadi pertapaan kaum Muslim, apa maksudnya?
Barusan sudah saya katakan bahwa jihad yang kita maksudkan adalah jihad dalam rangka berupaya untuk menegakkan taqwa agar dicintai Allah. Menegakkan taqwa maksudnya menegakkan karakteristik orang-orang yang bertaqwa seperti yang ada dalam surat al-Baqarah ayat tiga, yaitu: Pertama, keimanan kepada ghaib. Kedua, pengabdian kepada Allah Swt (shalat lima waktu salah satunya). Ketiga, pengkhidmatan kepada sesama manusia. Keempat, percaya kepada apa yang diturunkan kepada Rasulullah Saw dan nabi-nabi sebelumnya. Kelima, iman kepada hari kiamat.

Harus dibaca juga..

Nah, kalau orang-orang non muslim ada yang bertapa di Gua, di Kuil atau Vihara, kita, umat Muhammad Saw bertapa di kelima hal karakteristik orang-orang yang bertaqwa. Ini sangat relevan sekali dengan semangat terutusnya Islam sebagai rahmah untuk alam semesta (lil ‘aalamiin). Nah, ini yang dimaksud dengan jihad sebagai pertapaanya kaum Muslim.

[pagebreak] Lantas?
Tips ketiga agar kita dicintai Allah, kata Rasulullah Saw, “Wa-‘alaika bidzikrillaahi fa-innahu nuurun laka; Hendaknya engkau berdzikir kepada Allah, karena dzikir adalah cahaya bagimu.” Nah disamping ketenangan qalbu yang didapat, dengan dzikir kita akan semakin dekat dan dekat kepada Cahaya diatas Cahaya, yakni Allah Swt. Tiga tips diatas menjadi lantaran seseorang mendapatkan cinta Allah Swt.

Dzikir menjadi cahaya?
Di negeri ini dzikir dan lembaga-dzikir tumbuh seperti jamur di musim hujan. Mulai dari mushalla beratap gedek sampai masjid sekelas Istiqlal semua mengadakan dzikir, mulai dari lapangan alun-alun Kabupaten sampai silang Monas Jakarta mengumandangkan dzikir, tapi kenapa negeri ini senantiasa diselimuti gelap dan musibah tiada henti menghajar anak-anak negeri dan bangsa ini ?

Pertamakali yang saya harus tegaskan adalah bukan salah dzikirnya ! Selebihnya dzikir itu sebenarnya hanya untuk Allah semata, tidak terselip didalamnya kepentingan Ujian Nasional, Pilkada atau memenuhi hasrat entertainment. Dzikir juga bukan mantra-mantra. “Fadzkuruuniy adzkurkum, niscaya Aku akan dzikir kepadamu,” begitu firman Allah. Kalau kita berdzikir, memang (Dzikirlah kepada-Ku) itu yang Allah pinta pada kita dan setiap hamba-Nya. Kalau kita berdzikir, memang sudah seharusnya dzikir harus benar-benar dilandasi lillaahita’ala, karena Allah semata.

Dan Anda sudah bisa menilai apa jadinya jika dzikir dipimpin oleh ustadz atau kiyai atau ulama yang penampilannya melebihi style seorang artis. Yang pasti, dzikir yang demikian ini jauh dari idzaa dzukirallaah wajilat quluubuhum, apabila disebut nama Allah hati mereka bergemuruh. Semoga yang demikian (kering) ini dzikir saya saja, bukan mereka karena itu saya tidak bisa tayang di stasiun televisi.

Wah, malah saya mendoakan Anda agar tidak masuk televisi, agar dapat isitiqomah membina ummat di stasiun Allah !?
O, begitu !? He….he….he…..doain saya ya agar bisa istiqomah.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.