Wushul Pada Allah (4) Sudah Benarkan Cintamu?

AN-NIYABAH

Harus dibaca juga..

Niyabah itu secara etimologis berarti penggantian. Secara terminologis berarti ia benar-benar menjadi Khalifah (berada diu Maqom Khalifatullah), bukan dalam arti politis Khilafah yang digembar-gemborkan kelompok penjunjung Khilafah.

Rupanya dalam perpsktif Tasawuf Khalifatullah adalah mereka yang sudah fana’ Billah sehingga diberi Baqo’ Billah. (Tentu ini tidak sama sekali dikenal dalam tatanan politik yang selama ini mereka gemakan). Kalau sampai ngawur dalam memahami An-Niyabah ini, bias-bisa seseorang menganggap dirinya sebagai jelmaan Tuhan. Dan memuncak dalam Fir’aunisme yang sangat membahayakan dirinya dan kemanusiaan, bahkan alam. Hal yang sama sering kita saksikan pada mereka yang berfaham Ingkarnasi Tuhan pada dirinya.

Jadi kesiapan (Isti’dad) dirinya sebagai makhluk fana’ dalam kesadaran fana terus menerus, justru akan dilimpahi Baqa’Nya. Cahaya Sifat Baqa’ itulah yang memantul pada kefanaan hamba, dan karenanya Sifat Baqa’Nya mengganti (Niyabah) pada Sifat fana’nya hamba. Bukan bermakna Sifat Tuhan berpindah pada makhluk, namun berserasi dan berselaras dengan Sifat-sifatNya dalam kehambaannya yang fana’. Itulah dimaksud dengan Takhallaquu bi Khuluqillah (berakhlaklah dengan Akhlaq Allah).

Ini disebut sebagai indicator Niyabah pertama.

Sedangkan Indikator berikutnya adalah kesadaran total akan hangusnya dzat yang fana’ di dalam Dzat yang Baqa’ (Abadi). Ini bermakna sebagai kesadaran dan keyakinan total, bukan bertemunya dua dzat. Karena Dzat yang sesungguhnya itu hanya Tunggal dan Esa. Allah swt semata. Yang lain fana (tiada).

Indikator ketiga, Allah Melimpahkan Hikmah kepada yang dikhendakiNya dan Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui.

SUDAH BENARKAN CINTA KITA?

Ibnu Athaillah juga memberikan tiga indicator benarnya Cinta sang hamba kepada Tuhannya

  1. Tanpa Ikhtiar

Apa yang dimaksud oleh Ibnu Ataillah tanpa Ikhtiar? Ikhtiar itu seluruh usaha kita dan seluruh proses memilih lalu mengambil keputusan. Maka bagi para hyamba yang sudah total kepasrahannya kepada Allah swt, dipastikan ia tidak memiliki peluang upaya dan memilih. Karena yang menciptakan upaya dan memilih itu Allah itu sendiri, dan Haqqul Yaqin terbaik itu dari Allah swt.

Bila manusia masih mermprioritaskan pilihannya disbanding pilihan Allah swt, ebrarti Cintanya pada Allah memang belum benar.

  • Memposisikan semua kejadian sebagai Takdir

Banyak yang memposisikan peristiwa bukan sebagai TakdirNya, misalnya ketika sukses manusia bilang ‘:Itu prestasi saya.” Ketika gagal, ia bilang, “Memang sudah takdir.” Sampai kapan perilaku psikologis speerti ini memasuki syaraf spiritual anda? Bisa saja manusia memang kurang bias memahami apa itu Takdir Allah, apa pula Ikhtiar manusia, bagaimana hubungan antara Ikhtiar dan Takdir? Bagi para pecinta sejati yang benar, hubungan-hubungan tersebut sudah selesai dan tidak ada pertanyaan lagi.

  • Memandang Kekasih serba sempurna.

Apakah kita masih mempertanyakan fakta Takdir itu sebagai presentasi yang cacat dan tidak sempurna? Dan yang sempurna adalah kemauan kita sendiri? Padahal seluruh Takdir Allah dalam segala hal lahir dari Kesempurnaan Allah sw. Maka tidak ada takdir yang cacat, termasuk menakdirkan hambaNya masuk neraka, walau dia ahli ibadah.

Keyakinan akan sem[urnanya Takdir Allah akan melahirkan sikap pasrah total pada Allah swt dalam segala hal. Pasrah itu7 bukan statis tetapi dinamis, karena seseorang akan beraktivitas yang didahului tawakkal dan Istislam yang maksimal, sehingga ikhtiarnya jadi ringan.

(bersambung)

KHM Luqman Hakim

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.