Umar Bin Khaththab, Pemimpin Agung Yang Merakyat

Nabi Muhammad Saw. Pernah berucap bahwa jika ada nabi lain setelah dirinya maka orang itu adalah Umar, sang khalifah kedua Islam yang dijuluki “al-Faruq” (pembeda antara yang benar dan salah) karena kebijaksanaan dan rasa keadilannya.

Harus dibaca juga..

“Ini Umar dan ini Abu Ubaidah, berikanlah ikrar Tuan-tuan kepada yang mana saja yang Tuan-tuan sukai.” Itulah ucapan Abu Bakr Shiddiq, di saat polemik, usai ia berpidato dalam menyelesaikan konflik suksesi pemimpin Ummat sepeninggal Rasulullah Saw. Beliau berdiri di antara Umar bin Khaththab dan Abu Ubaidah.

Ketika itu timbul pula kegaduhan, dan perselisihan pun mulai merebak lagi. Umarkah yang akan dibaiat dengan sikapnya yang begitu keras, tetapi dalam pada itu Ia pendamping (waziir) Nabi dan ayah Hafsah Ummul Mukminin?! Atau Abu Ubaidah yang akan dilantik, yang sampai saat itu wibawa dan kedudukannya belum seperti Umar dalam hati kaum Muslimin?!

Tetapi Umar tidak akan membiarkan perselisihan itu menjadi perkelahian yang berkepanjangan. Dengan suaranya yang lantang menggelegar Ia berkata: “Abu Bakr, bentangkan tanganmu.”

Abu Bakr membentangkan tangan dan oleh Umar ia diikrarkan seraya katanya:
“Abu Bakr, bukanlah Nabi menyuruhmu memimpin Muslimin bersembahyang? Engkaulah penggantinya (khalifahnya). Kami akan mengikrarkan orang yang paling disukai oleh Rasulullah Saw di antara kita semua ini.”

Menyusul Abu Ubaidah memberikan ikrar. “Engkaulah di kalangan Muhajirin yang paling mulia,” katanya, “dan yang kedua dari dua orang dalam gua. menggantikan Rasulullah Saw. dalam salat, sesuatu yang paling mulia dan utama dalam agama kita. Siapa lagi yang lebih pantas dari engkau untuk ditampilkan dari memegang pimpinan ini!”

Seluruh yang  hadir akhirnya bergantian membaiat Abu Bakr Shiddiq sebagai Khalifah.

Peran Umar ra, luar biasa dalam sejarah paling sulit, di sebuah tikungan sirkuit konflik kepemimpinan paling dahsyat dan krusial. Tidak bisa dibayangkan apa yang terjadi dengan masa depan ummat ini jika Umar bin Khathab tidak ambil peran ketika itu.

Setelah Nabi Muhammad Saw., tidak diragukan lagi Umar merupakan figur paling berpengaruh dan abadi dalam sejarah Islam. Kuat, kharismatik, tegas, tetapi adil; adil dan seorang pemimpin par excellence, orang-orang berbakat seperti Umar sangatlah langka dalam sejarah manusia. Sebagai sosok yang luar biasa dalam segala hal, Umar dianugerahi kemampuan istimewa dalam semua aspek kemanusiawian. 

Bahkan, Rasulullah Saw. pernah mengatakan bahwa jika ada nabi lain setelah dirinya, orang tersebut adalah Umar. Di samping Rasulullah Saw., prestasi Umar tidak ada tandingannya dalam sejarah Islam. Itulah sebabnya, hari ini setiap Muslim di segala penjuru dunia mendoakan munculnya seorang pemimpin seperti Umar untuk membimbing “ummah” (komunitas Islam sedunia) menembus gelombang sejarah yang bergolak. 

Umar bin Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza dilahirkan dan suku Adi yang merupakan cabang suku Quraish dari Makkah. Sebelum masuk Islam, Umar dikenal sebagai seorang pegulat tangguh dengan tinggi sedang dan tubuh berotot. Dia juga seorang orator yang berapi-api dan salah satu dari segelintir orang Quraish yang tahu baca-tulis. Umar tumbuh menjadi seorang pemuda yang jujur dan menyenangkan. Dia lalu menjadi pedagang dan saudagar yang cukup sukses di usianya yang baru dua puluh tahunan. 

Setelah Rasulullah Saw. mengumumkan kenabiannya, Umar menjadi “duri” yang gigih bagi beliau. Secara aktif Umar mengecilkan hati orang-orang untuk memeluk agama baru tersebut dan tak pernah ragu menyerang mereka yang mengabaikan nasihatnya. 

Ketika jelas-jelas Rasulullah Saw tidak akan berhenti mendakwahkan Islam, para penguasa elit Quraish memutuskan untuk membunuh beliau. Umar menawarkan diri untuk melakukan tugas tersebut. Semua yang hadir dalam pertemuan itu menyepakati Umar sebagai orang terbaik untuk pekerjaan itu karena dia berani, tegas, dan terkenal dengan keahlian berkelahinya. Umar kembali ke rumah untuk mengambil pedangnya dan segera berangkat mencari Rasulullah Saw.

Di tengah perjalanan, Umar berpapasan dengan Nu’aim bin Abdullah yang menanyakan arah tujuannya. Umar menjawab akan melenyapkan Rasulullah Saw. Nu’aim menanyakan alasannya ingin melakukan kejahatan semacam itu. Umar menjelaskan bagaimana Rasulullah Saw. dan pesannya telah membuat ayah bertentangan dengan putranya, dan saudara berkelahi dengan saudaranya di kota Makkah. Dengan membunuh Rasulullah Saw., Umar berharap bisa mengakhiri Semua kemarahan dan permusuhan. 

Kala itu, Nu’aim sudah memeluk Islam dan bertekad mencegah Umar melakukan misinya yang berpotensi menjadi musibah. Namun, Umar sama bertekadnya untuk melaksanakan tugasnya. Nu’aim menyadari gentingnya situasi saat itu dan mengatakan kepada Umar agar lebih dahulu mengurusi rumah tangganya sendiri. Saudari Umar, Fatimah, dan suaminya ternyata diam-diam telah memeluk Islam.

Tentu saja berita ini mengejutkan Umar dan melukai harga dirinya. Dia segera berbalik dan menuju rumah adiknya. Kala itu Fatimah sedang mempelajari Al-Quran bersama suaminya. Begitu pintu dibuka, Umar mendaratkan pukulan sangat keras terhadap iparnya. Dalam pergumulan berikutnya, Umar berhasil memukul saudarinya sampai mengucurkan darah. Umar tampak terguncang melihat darah saudarinya pada tangannya. Umar meminta untuk melihat ayat yang mereka bacakan. Saudarinya dengan terus terang mengatakan bahwa hanya orang yang membersihkan diri yang diizinkan menyentuh wahyu Tuhan. 

Setelah Umar membersihkan dirinya, Fatimah menyerahkan lembaran kulit bertuliskan ayat-ayat Al-Quran kepadanya, dan mulai membacanya, “Thaha. Kami tidak menurunkan Al-Quran ini kepadamu untuk menyusahkanmu, tetapi sebagai peringatan bagi orang-orang yang takut (kepada Allah). Diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan ruang angkasa yang tinggi. (Dia) Maha Pengasih, bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana). Semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, semua yang ada di antara keduanya, dan semua yang ada di bawah tanah adalah kepunyaan-Nya. Dan jika kamu mengeraskan suaramu maka sesungguhnya Allah mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi dari itu (yang terlintas dalam ingatanmu). (Dialah) Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Dia mempunyai a1-asmaaul husna (nama-nama yang agung),” (QS Thaha [20]: 1-8). 

Umar terus membaca ayat-ayat tersebut dan ekspresi di wajahnya pun mulai berubah. Apa yang dibacanya bukanlah bait-bait puisi atau prosa; melainkan sesuatu yang melampaui keduanya. Sebagai seseorang yang melek huruf dari segelintir orang di Makkah waktu itu, Umar tahu benar bahwa orang buta huruf seperti Muhammad tidak mungkin mampu menyusun kata-kata indah dan elegan seperti itu. Dia yakin itu wahyu Ilahi. Umar meminta untuk diantarkan kepada Rasulullah Saw. untuk menyatakan janji setia kepadanya.

Sejak hari itu, Umar menjadi seorang pendukung Islam yang dahsyat. Meskipun baru berusia di akhir dua puluhan ketika menjadi Muslim, kedatangan Umar ke dalam Islam membuat Rasulullah Saw. dan sekelompok kecil pengikutnya merasa senang karena Umar merupakan karakter yang kuat dan tangguh yang ditakdirkan memainkan peran legendaris dalam sejarah Islam. 

Dalam budaya Arab kala itu, memperkuat persahabatan melalui pernikahan sangat umum dilakukan. Walau Rasulullah Saw. memberi penghargaan tinggi kepada Umar karena pengabdian dan dedikasinya pada Islam, beliau kemudian menyatukan persahabatannya dengan Umar dengan menikahi putrinya, Hafsah. Rasulullah Saw. pun menjadi menantunya dan Umar menjadi tangan kanan Rasulullah Saw. di sisa umur hidupnya. 

Setelah Rasulullah Saw. wafat pada tahun 632, Umar yang pertama kali berjanji setia kepada Abu Bakar As-Shiddiq selaku penerus Rasulullah Saw., dan orang-orang Madinah pun mengikutinya. Abu Bakar terpilih sebagai “Khalifah Rasul Allah” (Pengganti Rasul Allah) dan menjadi penguasa Negara Islam. 

Berkat kecepatan berpikir, ketajaman intelektual, dan kepribadian kuat Umar dalam masyarakat Islam awal, kemungkinan perebutan suksesi yang berpotensi merusak berhasil dihindari. Dengan begitu, tercapailah transisi kepemimpinan yang mulus. Peran penting Umar dalam tantangan besar pertama yang dihadapi kaum Muslim awal setelah wafatnya Rasulullah Saw., menunjukkan visi jelas, kemampuan keorganisasian dan kebesaran yang dimilikinya. Meski mayoritas sejarawan Islam gagal menghargai pentingnya peran yang dimainkan Umar pada titik kritis dalam sejarah Islam mi. 

Selama dua tahun dan tiga bulan masa pemenintahan Khalifah Abu Bakar, Umar memainkan peran sangat penting sebagai penasihat, pengatur strategi, dan orang kepercayaan terakhir. Sepeninggal Rasulullah Saw., Abu Bakar jelas merupakan Muslim yang berwawasan paling dalam, dan dia sangat mengenal Umar dan memercayainya melebihi orang lain.

Di pembaringan terakhirnya, Abu Bakar memanggil semua tokoh masyarakat Islam awal untuk mengadakan pertemuan (syura). Dia mengatakan kepada mereka bahwa dirinya hendak mencalonkan Umar sebagai penggantinya. Pada pertemuan itu, tak seorang pun yang keberatan dengan usulan Abu Bakar. Umar merupakan tokoh sentral di antara para sahabat Rasulullah Saw. Dia dikenal karena pengorbanannya untuk Islam dan semua orang mengagumi rasa keadilannya. Dalam situasi tersebut, Abu Bakar merasa Umar adalah orang terbaik untuk memimpin komunitas Muslim. Sejarah mencatat kualitas kebijaksanaan dari pilihan Abu Bakar ini. 

Tahun 634, pada usia lima puluh tiga tahun, Umar menerima tanggungjawab kepemimpinan Negara Islam dan memerintah selama lebih dari satu dekade. Selama periode ini, Umar mampu mencapai apa yang gagal dicapai orang lain seumur hidupnya. Dengan Umar memegang kendali di Madinah, tentara Muslim menyeruak keluar Arab, mengalahkan Kerajaan Persia dan Kekaisaran Suci Romawi yang mahakuat layaknya petir yang menyambar dari surga. Tahun 638, pasukan Muslim menaklukkan Yerusalem dan sang Khalifah sendiri yang datang ke sana untuk menandatangani perjanjian damai dengan masyarakat kota bersejarah itu. 

Saat Umar mendekati Yerusalem, orang-orang kota itu tidak memercayai apa yang mereka saksikan karena salah seorang penguasa besar saat itu memasuki kota mereka sambil berjalan kaki, sementara ajudannya menunggang unta. Ketika si ajudan menawarkan sang Khalifah untuk menaiki unta yang tengah dikendarainya, Umar menolak tawaran itu dan berkata, “Kehormatan Islam sudah cukup bagi kita.” 

Kala waktu untuk shalat telah tiba, Uskup Yerusalem menawarkan Khalifah Umar untuk bershalat di dalam katedral, tetapi ditolaknya dengan sopan. Dia tidak ingin memberikan alasan kepada siapa pun untuk mengubah katedral menjadi masjid di masa depan. Perkataan yang membuat sang Uskup terkejut. Terpukau oleh keanggunan, kerendahan hati, dan toleransi Umar, Uskup menawarkan ruang di luar katedral, tempat Umar memimpin kaum Muslim untuk melakukan shalat. 

Selama sepuluh tahun pemerintahannya yang luar biasa, Umar tidak pernah melupakan nasihat terakhir Khalifah Abu Bakar kepadanya, “Wahai Umar! Takutlah selalu kepada Allah. Suatu perbuatan sunnah tidak akan diterima tanpa melaksanakan pekerjaan wajib. Timbangan kebaikanmu pada Hari Kiamat akan menjadi berat jika kamu mengikuti jalan yang benar di dunia ini. Perbuatan orang-orang yang mengikuti jalan yang salah di dunia ini tidak akan memiliki berat pada Hari Kiamat. Mereka akan mengalami periode yang mengerikan. Jadikanlah Al-Quran dan Kebenaran sebagai panduanmu menuju keberhasilan. Umar, jika kamu mengikuti jalan yang aku kemukakan kepadamu maka aku pasti akan berada di sisimu.” 

Apa yang Umar lakukan melebihi ungkapan-ungkapan bijak Khalifah Abu Bakar. Dia berkembang dan menonjol dalam banyak hal sampai-sampai masa pemerintahannya menjadi cerita-cerita rakyat Islam. Anak-anak Muslim seantero dunia tumbuh dengan mendengarkan cerita orang tua dan kakek-nenek mereka mengenai Khalifah Umar dan prestasi gemilangnya. 

Beberapa kontribusi penting Umar adalah pengembangan demokrasi Islam yang berjalan dengan baik dan pembentukan sebuah dewan penasihat guna membahas dan memperdebatkan suatu masalah sebelum keputusan akhir dibuat (syura). Selain itu, Umar membuat aturan hukum di seluruh Negara Islam yang berkembang pesat, dan memastikan perlakuan yang adil dan kebebasan berekspresi. 

Rakyat biasa bisa berdiri di masjid dan menginterupsinya di tengah-tengah khotbah atau pengumumannya untuk mempertanyakan masalah kebijakan apa pun. Itu termasuk perpajakan, administrasi politik, perkara-perkara masyarakat sipil, urusan-urusan kemiliteran, atau alokasi mahar pernikahan. 

Umar sepenuhnya bertanggung jawab kepada rakyatnya. Jika muncul keluhan, dia akan pastikan keluhan itu segera ditangani, dan dia tidak pernah ragu mengoreksi kesalahannya sendiri atau orango-rang yang bekerja untuknya. Jika orang-orang yang mengajukan keluhan terbukti salah, Umar akan memberikan penjelasan kepada mereka berdasarkan Al-Quran dan sunnah Rasulullah Saw. 

Dengan pesatnya ekspansi kekuasaan Islam, Umar menyusun Sebuah sistem administrasi provinsi dari para gubernur ditunjuk untuk mengawasi kelancaran jalannya setiap provinsi. Meskipun berkantor pusat di Madinah, Umar selalu menjaga hubungan dekat dengan semua gubernurnya yang melaporkan langsung kepadanya. Umar selalu mengingatkan mereka tentang pentingnya melayani masyarakat dengan kejujuran, keseimbangan, keadilan, dan kesetaraan. 

Sebuah fungsi sistem yudisial disusun dan dilaksanakan oleh Umar, sehingga sengketa hukum bisa diselesaikan secara adil dan efektif sesuai dengan pedoman dan prinsip-prinsip Islam. Umar juga mengembangkan departemen perpajakan dan pendapatan yang sama efisiennya untuk mengumpulkan dan mendistribusikan zakat, pajak, serta pendapatan lainnya dari semua wilayah Negara Islam. Semua itu berada di bawah pengawasan kepala bendahara yang melaporkan langsung kepadanya. 

Bagi Umar, menjaga kesejahteraan kaum fakir, miskin, anak yatim, dan orang cacat sangatlah penting karena dia merasa secara langsung bertanggung jawab atas kesejahteraan mereka. Untuk memenuhi kebutuhan kalangan yang paling rentan dalam masyarakat, Umar membentuk sistem jaminan sosial. 

Sebagai salah seorang sahabat yang belajar paling banyak dari Rasulullah Saw., dia juga mempromosikan program pembelajaran dan pendidikan dengan jalan membangun masjid dan sekolah di seluruh wilayah Islam. Sepanjang masa pemerintahannya, masjid dan pusat-pusat pendidikan menjamur di seluruh pelosok Negara Islam. Umar juga membantu membangun kembali kota-kota terkenal, seperti Basrah, Kufah, Al-Fustat, dan Mosul, yang kemudian menjadi semacam pusat pembelajaran, budaya, dan peradaban Islam yang paling menonjol. Selain itu, Umar membentuk pasukan reguler yang sangat disiplin, terampil, dan berdedikasi. Tak heran tentara profesional Persia dan Byzantium yang dipersenjatai begitu lengkap tidak bisa menandingi mereka.

Berkat jasa besar Umar pula, untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, sebuah kalender Islam diperkenalkan, sehingga umat Muslim memiliki kalendernya sendiri. Kalender Hijriah dibuat pada masa pemerintahan Umar, di mana hari pertama dalam kalender disesuaikan dengan hari Rasulullah Saw. meninggalkan Makkah menuju Madinah pada tahun 622. 

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.