Ujian Seorang Murid

Termasuk perilaku diantara perilaku yang harus dilakukan murid ketika ia pergi untuk mencari guru sufi dan mengambil tarekat dan sang guru, lalu disambutnya dengan kurang ramah dan menampakkan kecemberutan di wajahnya, maka hendaknya bersabar dan tidak guncang sedikit pun. Tapi berusaha duduk dengan membuang segala nafsunya ke luar pintu, sampai sang guru merasa kasihan dan memperlakukannya dengan lemah lembut. Kalau misalnya ia harus tinggal bersama sang guru dengan perlakuan yang kurang ramah dalam waktu setahun atau lebih, maka ia tidak boleh meninggalkan sang guru. Sebab tarekat merupakan sesuatu yang agung dan terhormat bagi para pelakunya, sehingga tidak boleh memberikan keringanan kepada setiap orang yang ingin mendatanginya. Mereka akan mengujinya selama setahun atau lebih sebelum mereka mengizinkannya untuk mengambil tarekat. Mereka mengatakan: “Setiap murid yang tidak diuji lebih dahulu oleh gurunya sebelum ia mengambil tarekat, maka sering kali tidak akan berhasil, sebab ia masuk ke dalam tarekat dengan tanpa adab dan tidak mengagungkannya. Maka tarekat akan menjauhinya sekalipun dalam waktu yang lama. Berbeda dengan orang yang masuk ke dalam tarekat dengan mengagungkan dan kerinduan yang sangat berat.”

Dalam al-Qur’an disebutkan, “Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka.” (QS al-Munitabinah: 10).

Maka seorang murid apabila ia datang berhijrah untuk mencari tarekat, hukumnya sama dengan perempuan yang berhijrah, dimana mereka sama-sama akan mencari petunjuk.

Guru kami Syekh Muhammad asy-Syanawi bercerita kepadaku: Ketika dia mau mencari tarekat maka dia pergi ke luar negeri, tepatnya di Persia, tepatnya di kota Kur untuk mengambil tarekat dari Syekh Abu al-Hama’il. Ternyata Syekh Abu al-Hama’il tidak menoleh kepada Tuan Guru asy-Syanawi dan tidak menunjukkan tanda-tanda keramahan di wajahnya. Tapi ketika beliau melihat tuan guru yang sangat berkeinginan kuat untuk mengambil tarekat, maka beliau mendekatinya sembari berkata, “Wahai Muhammad, aku lebih menyukai kebaikan yang ada pada dirimu dan juga yang ada pada orang lain. Aku hanya ingin mengujimu dengan apa yang sudah terjadi, agar engkau bisa masuk ke dalam tarekat dengan menghormati dan mengagungkan tarekat dan orang-orang yang ada di dalamnya.”

Guru kami asy-Syanawi mengatakan: “Andaikan tuan guru semakin berlaku kurang ramah terhadap diriku dalam waktu bertahun-tahun, tentu aku akan terus bersabar dan tidak akan meninggalkan pintunya.”

Syekh Abu al-Hama’il berkata: “Aku sudah membimbing (talqin) dzikir kurang lebih sepuluh ribu jiwa, tapi tak ada yang mengerti tentang aku dan bisa bersamaku selain Ibnu asy-Syana Maka perhatikanlah wahai saudaraku perbuatan orang-orang yang jujur, dan contohlah mereka. Semoga Allah senantiasa menunjukkan anda kejalan yang benar.

Dan diantara perilaku murid ketika ia telah memasuki tarekat, hendaknya tidak lagi menoleh dengan hatinya pada masalah-masalah duniawi dimana ia telah keluar darinya. Akan tetapi ia wajib membungkus seluruh dunia dan mengikatnya ke dalam kantong yang kemudian melemparkannya ke dalam lautan tiada harapan, agar antara emas dan tanah baginya tidak ada bedanya dan sejajar, tidak ada yang lebih bernilai dan tidak ada yang diinginkan lagi. Sehingga emas nilainya hanyalah sama dengan tanah. Ini diharapkan agar tidak bersaing dengan para pencari dunia untuk berebut “bangkai”. Maka barangsiapa berebut dan bersaing dengan mereka, maka akan terkena najis “anjing-anjing” pemburu dunia dengan gigitan dan gonggongannya yang akan menyibukkan pikirannya, dan mengotori waktunya. Maka putuskan untuk tidak berjalan bersama mereka.

Abu al-Qasim al-Qusyairi —rahimahullah— berkata: “Setiap murid yang di dalam hatinya masih tersisa kecenderungan terhadap harta dunia dan kesenangannya, maka nama murid hanyalah sebatas metafora, dan bukan hakiki.”

Dan sungguh sangat tercela, seorang murid yang sudah keluar dari sumber utama fitnah dalam agamanya ternyata kemudian kembali lagi ke dalam fitnah tersebut, dan malah menjadi budak tawanan dinar dan dirham, atau rumah dan profesi. Tapi sebenarnya wajib bagi murid menganggap ada dan tidak adanya dunia sama saja. Dengan demikian ia tidak pernah menyulitkan dan menyusahkan orang lain sekalipun orang Majusi. Sementara penjelasan lebih lanjut tentang hal itu adalah karena rezeki yang dibagikan Allah Swt. kepada hamba-Nya, tidak seorang pun yang tahu kecuali apa yang telah ia makan, ia minum dan ia pakai misalnya. Adapun sebelum itu maka tidak ada yang tahu sehingga ia bersaing dan berebut untuk mencari rezeki. Dan setelah ia tahu bahwa Allah mesti memberinya rezeki, maka tidak sepantasnya ia berebut dan bersaing dengan siapa pun untuk mencarinya. Sebab tidak seorang pun yang mampu mengambilnya atau memakannya sekalipun hanya sesuap makanan. Maka orang-orang yang bersaing untuk berebut dunia hanyalah karena kerakusannya. Sementara orang yang rakus akan sangat berharap segala sesuatu menjadi miliknya, dan orang lain tidak boleh memilikinya. Sifat seperti ini tidak layak dimiliki oleh orang fakir sufi, dan ini hanya boleh terjadi pada diri para pemburu dunia. Sebab mereka seperti orang buta yang menabrak dinding, maka segala yang bisa disentuh dan diraba akan dipegangnya. Barangsiapa memiliki sifat tercela seperti itu, maka tidak layak untuk masuk ke dalam tarekat. Maka jauhilah wahai saudaraku untuk menoleh dan kepincut pada sesuatu dari dunia yang bakal menyibukkan anda, sehingga lupa dengan Allah. Kemudian kalau anda masih tetap mencari, maka jauhkan diri anda dari kaum fakir sufi. Semoga Allah senantiasa menunjukkan anda pada kebenaran.

Hal-Hal Yang Bisa Memutuskan Seorang Murid
Dan diantara perilaku yang harus dilakukan murid adalah hendaknya menutup matanya semampu mungkin untuk tidak melihat rupa yang dianggap indah dan cantik. Sebab melihat pada hal-hal yang dianggap indah dan cantik ibarat anak panah yang menyasar di hatinya sehingga bakal membunuhnya. Terutama bila melihat dengan kesenangan nafsu (syahwat), maka melihat dengan cara ini seperti racun yang mematikan yang bakal melemaskan seluruh tubuh manusia dalam sekejap. Imam al-Qusyairi berkata:

“Diantara perkara besar yang dapat memutus seorang murid adalah bergaul dengan anak-anak muda dan perempuan, kemudian dengan hatinya cenderung mencintai kepada mereka. Maka barangsiapa diuji oleh Allah dengan sesuatu dan hal-hal tersebut maka kaum sufi secara sepakat mengatakan bahwa ia telah direndahkan oleh Allah. Bahkan tidak akan bisa memperbaiki dirinya, sekalipun ia menguasai sejuta karamah (kemuliaan). Sementara hatinya sudah disibukkan dengan makhluk dan dimasuki oleh setan, sehingga hatinya terhalang untuk mencintai Allah Swt.” Ia juga mengatakan: “Dan lebih jelek dari itu adalah menganggap remeh semua itu pada hatinya.”

Sementara itu al-Wasithi —rahimahullah— berkata: “Apabila Allah hendak merendahkan seorang hamba, maka Allah akan melemparkannya pada ‘bangkai-bangkai’ yang busuk tersebut.” Ia bermaksud dengan bangkai adalah anak-anak muda yang masih disenangi oleh nafsu-nafsu yang cenderung serong.

Fath al-Maushili —rahimahullah— berkata: “Aku bersahabat dengan tiga puluh orang guru yang dianggap sebagai wali abdal. Ketika aku hendak meninggalkan mereka, semua berwasiat kepadaku dengan mengatakan, ‘Berhati-hatilah bergaul dengan anak-anak muda belia’.”

Abu al-Qasim al-Qusyairi berkata: “Barangsiapa naik dan tingkatan kefasikan para murid dan ia memberi isyarat bahwa hal itu termasuk mencintai ruh dan bukan sekadar mencintai tubuh, maka kami katakan: ini termasuk tipu muslihat nafsu dan setan. Maka barangkali setan telah memberi fantasi kepada salah seorang dari mereka, bahwa hal itu tidak apa-apa, dan bahwa keindahan dalam wujud hanya keindahan al-Haq Swt. Maka kami katakan kepadanya, ‘Sesungguhnya apa yang anda kemukakan, bahwa keindahan yang anda saksikan hanyalah akan menghalangi anda untuk menyaksikan keindahan al-Haq’.”

Tuan Guru Ali al-Mawazini asy-Syadzili pernah ditanya tentang bagaimana melihat para pemuda yang tampan, apakah boleh bagi seorang yang telah menempuh Jalan Tuhan? Maka ia menjawab, “Selagi dalam diri manusia masih ada perbedaan antara rupa yang indah dengan rupa yang jelek berarti ia hanyut dalam watak dasar manusia dan syahwat. Maka ia tidak boleh melihat pada rupa yang indah dan cantik yang secara hukum (syariat) diharamkan.”

Tapi apabila menyaksikan keindahan kumbang dan katak sama seperti menyaksikan keindahan dan kecantikan yang ada pada diri manusia dan tidak ada bedanya, maka melihat hal tersebut di atas tidak dilarang. Sebab pada saat ini sudah hilang indera pembeda dan hanyut bersama Sang Pencipta, dan bukan pada makhluk. Sementara perkara seperti ini sudah cukup langka adanya dalam diri murid saat ini. Maka sikap lebih berhati-hati tentu lebih diprioritaskan bagi orang yang berakal.

Saya mendengar Tuan Guru Muhammad asy-Syanawi berkata:

“Tidak sepantasnya seorang murid berteman dengan anak muda yang ganteng, dan tidak boleh tinggal berduaan di tempat yang sepi. Maka hendaknya orang yang cerdik lebih berhati-hati dan waspada bergaul dan duduk bersama anak-anak muda belia kecuali di majelis dzikir atau tempat belajar yang dihadiri oleh seorang guru atau saudara-saudara yang saleh, akan tetapi dengan menutup mata.”

Sebagaimana cerita yang telah kami terima, bahwa kaum fakir sufi zaman dahulu tidak tahu kapan anak-anak muda itu mulai tumbuh jenggotnya kecuali setelah diberitahu orang lain. Hal ini terjadi pada Tuan Guru Muhammad bin ‘Anan bersama Syekh Mazin, dimana ia bercerita: “Aku mengabdi kepada tuan guru selama kurang lebih sepuluh tahun. Kemudian mulai saat itu jenggotku mulai tumbuh dan lebih dewasa, sementara tuan guru tidak pernah tahu akan hal itu sebelum ia diberitahu orang lain. Akhirnya setelah itu ia baru berani melihat wajahku.”.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.