Syeikh Al-Azhar Syeikh Saamy al-Jamal

Kebutuhan Dunia Islam Terhadap Dunia Sufi
Selama tiga tahun menjadi da’i di Indonesia, Syeikh Samil Al-Jamal dari Al-Azhar University banyak mengatamti gerakan Sufi di dunia Islam, khususnya Indonesia. Beberapa kesempatan ikut memberikan mauidzoh hasanah di sejumlah halaqah Sufi di Jakarta. “Dunia yang sudah carut marut ini, mutlak perlu dipancari oleh cahaya dunia Sufi,” katanya.. Sebagai penganut thariqah Syadziliyah, salah satu thariqat terbesar di Mesir, Syeikh Saami menyempatkan diri mampir ke KANTOR REDAKSI Cahaya Sufi untuk wawancara.

Harus dibaca juga..

Bagaimana anda melihat perkembangan thariqat sufi di dunia Islam khususnya di Mesir?
Perkembangan thariqat dewasa ini cukup signifikan di dunia Islam. Jika kita lihat perkembangan di Mesir, misalnya, banyak sekali berkembang luar biasa.  Namun mereka memiliki perbedaan metode. Banyak wirid yang berbeda-beda.  Dan bahkan tak jarang yang dirasuki klenik dan bid’ah. Penduduk Mesir sendiri memiliki tradisi fundamental dalam keagamaannya, dan tradisi itu adalah thariqah.

Namun hanya ada beberapa thariqah saja yang sangat mendalam soal Qur’an dan hadits, khususnya thariqah syadziliyah. Kenapa ? Karena Syeikh Abul Hasan adalah seorang yang alim, guru besar di bidang Tafsir, Hadits, Fiqih, Tasawuf, kimia, dan yang lain. Beliau dalam ucapannya menegaskan, ”Segala sesuatu yang bertentangan dengan Qur’an dan Sunnah, harus ditolak, jangan diambil. Namun bila berserasi dengan Al-Qur’an dan Sunnah, terimalah.”

Imam Syadzily memerintahkan pengikutnya untuk terus istiqomah dan ikhlas dalam menjalankan thariqah ini. Karena itulah, Al-Qur’an dan Sunnah menjadi pegangan. Semua wirid Syadziliyah bersumber dan berserasi dengan Al-Qur’an.

Para Syeikh thariqah banyak memberikan warna dalam dzikir dan tradisi, apakah itu menyimpang?
Apa yang kemudian dikembangkan oleh para Masyayikh Thariqah setelah periode beliau (Asy-Syadzily) tetap berserasi dan bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah dan tidak bertentangan.

As-Syadzily memerintahkan agar para pengikutnya tetap berpijak pada rukun Islam (syariat), Amar ma’ruf nahi mungkar; membangun kasih sayang dengan penuh rahmat kepada sesama manusia, menjaga sillaturahim, menjauhi dosa besar, birrul walidain dan kebajikan-kebajikan lain.

Ada metode yang luar biasa yang anda lihat?
Ada metode indah yang luar biasa dalam thariqat ini, yaitu sang salik diperintahkan agar beribadah sampai meraih derajat Rububiyah,  yaitu menjadi ’abdan robbaniyan, yang eksistensinya kun fayakun.

Seorang hamba  harus terus bertranformasi dari buruk menjadi baik,  seorang pencuri pun harus berubah jadi baik. Karena itu Islam sufistik inilah yang terus mengajak manusia dengan penuh cinta, bijak dan arif.

Sekarang banyak tokoh yang mengaku sebagai tokoh sufi tapi tidak serasi dengan dunia sufi.Komentar anda?
Jika saat ini para tokoh yang mengaku Sufi, banyak yang mencampur dengan sihir, ada yang klenik, untuk ambisi dunia, uang, dan kekuasaan, adalah fakta yang harus diluruskan. Bahkan ada yang memanfaatkan tasawuf sebagai saranan duniawi, dan poilitik.

Asy-Syadziliy tidak suka dengan dunia, kehebatan-kehebatan yang diklaim karomah, ambisi kuasa, jauh dari praktek klenik, hanya mencintai Allah dan Rasulullah dan keluarga Nabi, orang-orang sholeh, dengan mengikuti jejak ilmu mereka, bermajlis dengan mereka, mereka hanya diajak menyembah Allah semata.

Oleh karena itu perlu kita tegakkan rukun-rukun tasawuf dan thariqah. Tanpa rukun ini kita bisa roboh.

Anda bisa sebutkan  rukun-rukun utamanya?
Rukun-rukun itu antara lain:
Dzull (hina dina di hadapan Allah Swt)
Uzlah (menyepi dari cinta duniawi)
Sahr (jaga di malam hari)
Juu’ (lapar)
Dawam Thuhr (melanggenggkan keadaan suci)
Dawamudz dzikir (terus menerus berdzikir)

Makna tasawuf itu seperti dalam sabda Rasulullah Saw, ketika ditanya soal Ihsan, “Hendaknya engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya, jika tidak bisa melihatNya, maka Dialah yang melihatmu.”

Sekarang pun juga banyak jama’ah Sufi yang mulai tumbuh, pengamatan anda?
Jama’aah yang banyak itu perlu, lebih banyak lebih baik. Tapi kualitas harus terus ditingkatkan agar dunia Tasawuf bukan sekadar banyaknya jumlah jamaah, atau majlis, bukan itu. Karena Tasawuf adalah aktivitas kehambaan dan menjadi hamba yang hanya hamba Allah Swt. Jika ada sufi, tidak sholat, tidak zakat, tidak amar ma’ruf nahi mungkar, itu bukan sufi.

Kalau respon kaum muda di Timur Tengah pada dunia sufi?
Di Timur Tengah, kaum muda belum banyak yang mencintai dunia sufi. Karerna ada kesan kalau menjadi sufi hanya diam di rumah, belajar tekun, dan di masjid saja. Padahal tidak demikian. Khususnya kaum Ikhwan dan Salafy tidak menyukainya.

Padahal Hasan Al-Bana adalah Sufi. Mayoritas Syeikh Al-Azhar adalah para Sufi. Setelah al-Bana wafat, tiba-tiba berubah jadi gerakan yang radikal. Al-Bana seorang yang alim, taqwa, dan amar ma’ruf, tidak suka kekerasan. Setelah al-Bana wafat, kaum ikhwan mulai berubah.

Bagaimana peran para Syeikh Al-Azhar?
Peran syekh al-Azhar sangat besar. Karena mereka adalah para sufi besar. Syeikh Abdul Halim Mahmud sang sufi syadzily, punya karya banyak sekali, dan khususnya kitab Madrasah Syadziliyah, yang mengupas begitu  bagus tentang As-Syadziliy. Disana tampak sekali bahwa manhaj budaya, syariah, agama dan akhirat disusun dengan mahasa yang indah. Namun Syeikh Abdul Halim Mahmud sangat sederhana, dia benar-benar sufi. Beliau setiap hari keliling kampung membagi-bagikan uangnya pada fuqara’ dan masakin. Ia cinta pada fakir miskin dengan sesungguhnya.
Begitu juga Syeikh Mutawalli Sya’rawi, sangat pakar dalam bidang Al-Qur’an, Hadits dan Tasawuf.
Idealnya Seluruh Ummat Islam Mampu Berbahasa Arab

Ummat Islam dewasa ini harus memiliki wawasan baru, dan meninggalkan konflik serta perbedaan-perbedaan di masa lalu, untuk kesatu visi masa depan yang gemilang.
Menurut  Bahauddin ad-Dasuqy, Duta Besar Mesir untuk Indonesia,  yang juga mantan Dubes Mesir untuk Palestina, berbagai kelompok dan tatanan dunia Islam harus di-akomodasi dalam bentuk kerjasama, sehingga perbedaan budaya dan peradaban tidak menjadi hambatan bagi gerakan dunia Islam masa depan. Inilah awal mula kita bangun gerakan internasional Islam.

”Soal masjidil Aqsha (Al-Quds) misalnya, itu bukan soal negara Palestina semata, Al-Quds adalah masalah dunia Islam secara menyeluruh,” katanya.

Memang, menurutnya, Mesir, melalui para guru besar Universitas al-Azhar memiliki peran besar dan kontribusi bagi dunia Islam. Para tokoh al-Azhar memberi inspirasi dan tatanan bagi kebangkitan dunia Islam dan kaum intelektual secara menyeluruh.

”Fatwa-fatwa dari majlis Ulama al-Azhar sangat berpengaruh, dan berperan positif bagi perkembangan dunia Islam,” katanya.

Jika kita menyoroti dunia Islam, khususnya Timur Tengah yang sedang bergolak, dinilai sebagai bentuk kelemhanan internal kita. Padahal kita adalah negara yang kaya, kuat, dan memiliki sumberdaya alam yang luar biasa sesuai masing-masing wilayah.

”Bila kita kuat, mampu mengelola sumberdaya kita sendiri, maka kita tidak akan terjajah,” tambahnya.

Pada sisi lain kita butuh kesiapan secara meneyeluruh, saling bahu membahu satu sama lain, membangun tatanan yang kuat, bersatu dan bergerak.

Butuh kesiapan secara keseluruhan satu sama lain, membangun tatanan yang kuat, bersatu dan bergerak. Saling bahu membahu satu sama lain.

Banyak organisasi-organisasi semacam NGO,  tetapi kurang berperan. ”Kita butuh cita-cita politik yang kuat dan terwujud sebagai cita cita ummat Islam. Mulai dari soal ekonomi, membangun tatanan baru, bergerak secara bersama-sama. Indonesia juga harus berperan aktif di sini.”

Organisasi-organisi besar seperti Nahdhatul Ulama, Muhammadiyah, al-Washliyah harus punya agneda bersama untuk menghadapi globalisasi dunia. Karena organisasi-organisasi swasta semacam inilah yang bersentuhan langsung dengan ummat di bawah. Mereka adalah fondasi-fondasi, namun juga harus ada dorongan dan kerjasama dengan pemerintah untuk menciptakan kersama internasional itu.

”Kita ini kuat dan harus kuat. Jika kita kuat kita akan berpengaruh.  Jika pengaruh kita kuat, kita siapa pun akan menghormati kita.”

Kita berjuang bersama, agar globalisasi bukan penjajahan, tapi satu kesatuan yang saling mendukung dan saling menghormati satu sama lain.

Karena itu kita harus membangun kesatuan dan perpaduan ini melalui bahasa. Hal yang harus disosialisasikan ke seluruh dunia islam adalah soal bahasa arab. Bahasa arab adalah bahasa ummat islam, sudah seharusnya setiap umat islam mampu berbahasa arab. Ini akan mempercepat proses perpaduan dan komunikasi  untuk kesatuan umat. Apalagi kitab suci kita berbahasa arab.

Menurut sang Dubes, dalam waktu dekat Universitas Al-Azhar, Mesir, ingin membangun pusat bahasa arab di Indonesia.*

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.