Solusi Tasawuf dalam bisnis

 

Harus dibaca juga..

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Bagaimana menerapkan ajaran tasawuf dalam dunia bisnis, apakah boleh kita jadi terkenal karena produk kita,

bagaimana menyikapi adanya praktek gratifikasi dan bagaimana kriterianya dalam dunia tasawuf?
Terima kasih.

 

Wasalamu’alaikum Wr. Wb
Yudianto – mayudi**@gmail.com

Jawab:

Dalam dunia Sufi, posisi seseorang dalam berbisnis atau bermu’amalat ada dua: pertama, secara lahiriyah harus sesuatu dengan aturan syariat, dan secara bathiniyah hatinya hanya bekerja dengan Allah Ta’ala.

Banyak orang salah memahami “bekerja dengan Allah” ini. Diantara kesalahannya adalah ketika hatinya merasa bekerja dengan Allah, ujung-ujungnya agar Allah menggolkan bisnis duniawinya. Ini salah kaprah. Dimaksud bekerja dengan Allah itu adalah ukhrowiyah, tidak ada hubungannya dengan sukses atau pun gagalnya duniawiyah seseorang. Karena labanya tidak akan pernah dipetik didunia yang sifatnya material, namun labanya justru dipetik di akhirat nanti.

Karena itu kalau anda bersedekah jangan didorong agar bisnis anda maju, agar anda kaya, mengundang anak yatim piatu untuk diekploitasi agar duniawinya maju. Ini tindakan yang mengerikan.

Bekerja dengan Allah adalah aktivitas batin yang terus menerus  berdzikir, ikhlas, ridho, syukur dan tawakkal kepadaNya, Mahabbah dan Ma’rifat kepadaNya. Itulah yang disebut bekerja dengan Allah Ta’ala.

Gratifikasi itu sungguh tidak etis, dan melukai batin siapapun, termasuk melukai rasa keadilan. Kalau ada aturan boleh memberi fee, maka silakan transparan saja sejak awal, jika itu memang diperbolehkan dalam aturan pemerintahan kita. Jika itu terlarang, maka haram pula hukumnya.

Apakah kalau seseorang berbisnis dengan jujur dan benar akan gagal dan jatuh miskin?.

Solusi Tasawuf dalam bisnis
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Bagaimana menerapkan ajaran tasawuf dalam dunia bisnis, apakah boleh kita jadi terkenal karena produk kita, bagaimana menyikapi adanya praktek gratifikasi dan bagaimana kriterianya dalam dunia tasawuf? Terima kasih
Wasalamu’alaikum Wr. Wb
Yudianto
mayudi**@gmail.com
Jawab:
Dalam dunia Sufi, posisi seseorang dalam berbisnis atau bermu’amalat ada dua: pertama, secara lahiriyah harus sesuatu dengan aturan syariat, dan secara bathiniyah hatinya hanya bekerja dengan Allah Ta’ala.
Banyak orang salah memahami “bekerja dengan Allah” ini. Diantara kesalahannya adalah ketika hatinya merasa bekerja dengan Allah, ujung-ujungnya agar Allah menggolkan bisnis duniawinya. Ini salah kaprah. Dimaksud bekerja dengan Allah itu adalah ukhrowiyah, tidak ada hubungannya dengan sukses atau pun gagalnya duniawiyah seseorang. Karena labanya tidak akan pernah dipetik didunia yang sifatnya material, namun labanya justru dipetik di akhirat nanti.
Karena itu kalau anda bersedekah jangan didorong agar bisnis anda maju, agar anda kaya, mengundang anak yatim piatu untuk diekploitasi agar duniawinya maju. Ini tindakan yang mengerikan.
Bekerja dengan Allah adalah aktivitas batin yang terus menerus  berdzikir, ikhlas, ridho, syukur dan tawakkal kepadaNya, Mahabbah dan Ma’rifat kepadaNya. Itulah yang disebut bekerja dengan Allah Ta’ala.
Gratifikasi itu sungguh tidak etis, dan melukai batin siapapun, termasuk melukai rasa keadilan. Kalau ada aturan boleh memberi fee, maka silakan transparan saja sejak awal, jika itu memang diperbolehkan dalam aturan pemerintahan kita. Jika itu terlarang, maka haram pula hukumnya.
Apakah kalau seseorang berbisnis dengan jujur dan benar akan gagal dan jatuh miskin?.

 

 

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.