Sekadar Makna Basmalah

Harus dibaca juga..

KH. Abdul Manan A. Ghoni – Ketua Takmir Masjid PBNU
“Barang siapa mengerjakan suatu pekerjaan baik tanpa mengucapkan basmallah, maka dia tidak akan mendapatkan rahmat dari Allah.” (Hadits)

 

Kenapa bismillah itu artinya benar? Kalau orang belum tahu maknanya bismillah, manusia itu jangan suka dengan mudahnya mengkafirkan sesama muslim.  Ketika mengerjakan sesuatu berarti harus berada tujuan, maka orang yang mengerjakan sesuatu menurut Ibnu Athaillah untuk mendapatkan rahmat Allah. Karena itu harus dimulai dengan mengucap bismillah.

Allah Tempat bergantung
Kalimat Bismillahirrahmanirrahiim tidak digabung dengan Asmaul Husna yang lain, seperti contoh bismillahil ‘alimul hakim  bismillahil sububussalam atau yang lainnya, melainkan bismillahirrahmanirrahiim, karena mengawali perkara harus hidayahnya dulu bener rahmat Allah.

Sebab menurut Ibnu Athaillah orang itu tidak boleh bersandar pada dirinya, kepada ilmunya atau kepada pekerjaannya. Orang tidak boleh bergantung kepada pekerjaan, ilmu, dengan mengatakan Al hikmatu ‘ala nasfi in qitou rroja… Orang yang bersandar kepada ilmu itu tandanya Ketika menghadapi sesuatu ia panik, ketika menghadapi kesulitan ia mengeluh, ketika ia menghadapi musibah ia putus asa, terputusnya harapan.

Karena tujuan hidup mengerjakan sesuatu itu mencari rahmat Allah atau kasih sayangnya Allah, bagaimana orang bisa bersandar kepada dirinya sendiri. Padahal dirinya itu adalah makhluq dan rapuh, bagaimana bersandar pada pekerjaan, padahal pekerjaan tidak menentu, bersandar pada ekonomi padahal ekonomi itu bersifat fluktuatif, jika menghadapi macam-macam.

Dan Tuhan memberitahu pada kita bahwasanya ada yang namanya “Ash-Shomad”, dimana tempat semuanya bergantung, karena itu menurut Ibnu Athaillah, orang yang bergantung kepada ilmu, pekerjaan, diri sendiri dan amal adalah ia akan rapuh. Tiada lain Tempat bergantung kecuali kepada As-shomad, karena Dia lah tempat satu-satunya untuk bergantung.

Ar-Rahman
Asma-asma Allah Ta’ala diproyeksikan yang menunjukkan keistimewaan-nya, yang berada di atas Sifat-sifat dan Dzat Allah Ta’ala. Sedangkan wujud Asma itu sendiri menunjukkan arah-Nya, sementara kenyataan Asma itu menunjukkan Ketunggalan-Nya.Allah itu sendiri merupakan Nama bagi Dzat (Ismu Dzat) Ketuhanan. dari segi Kemutlakan Nama itu sendiri. Bukan dari konotasi atau pengertian penyifatan bagi Sifat-sifat-Nya, begitu pula bukan bagi pengertian “Tidak membuat penyifatan”. “Ar- Rahman” adalah predikat yang melimpah terhadap wujud dan keparipurnaan secara universal. menurut relevansi hikmah. dan relevan dengan penerimaan di permulaan pertama.

Dalam bismillah itu ada satu lafadz Allah “Ar-Rahmani”, yang mengasihi kepada semua makhluq-Nya, kepada siapa saja yang telah diciptakan-Nya, tidak pandang bulu, baik itu muslim, kafir, nasrani maupun yahudi. Rahmat Allah ada di mana-mana. Ada juga di kembang-kembang, tulisan-tulisan tak terhingga tempat, selalu ada yang namanya rahmat Allah.

Karena Allah itu ar-Rahman, Allah juga menunjukkan dalam firman-Nya, “dan rahmat-Ku mengikuti segala sesuatu,”. Karena itu kalau mengerjakan sesuatu yang dituju adalah Rahmat Allah, hal ini disebabkan rahmat Allah ada di mana-mana.

Di dunia rahmat Allah itu, tidak hanya untuk orang-orang beriman, orang kafirpun juga diberi rahmat. Semuanya diberi rahmat oleh Allah, karena Allah Maha Pengasih, dan kasih itu diperuntukkan bagi makhluq ciptaan-Nya.

Kita juga harus bisa membuktikan bahwa keberadaan kita menjadi rahmat bagi semuanya, bukan hanya kepada sesama muslim. Orang beriman itu harus  menunjukkan bahwa dirinya menjadi rahmat bagi semua di dunia ini.

Dari kata bismillah itu, seseorang jika mengawali pekerjaan dengan bismillah maka mereka mengharap bahwa dari pekerjaanya itu dapat memberikan kasih sayang kepada semua orang.

Ar-Rahiim
Nah kemudian, dilanjutkan dengan kata “ar-Rahiim”, yang artinya bahwa kasih sayang Allah hanya untuk orang-orang beriman di akhirat. Di dalam al-Quran, “akan Aku tetapkan rahmat itu dikekalkan untuk orang-orang yang bertaqwa.”  Sebab sifat ar-Rahiim-nya Allah hanya untuk orang-orang yang beriman kelak diakhirat nanti.

Menurut Ibnu Araby dalam Kitab Tafsir Tasawufnya, “Tafsirul Qur’anil Karim” menegaskan, “Ar-Rahiim” adalah yang melimpah bagi keparipurnaan maknawi yang ditentukan bagi manusia jika dilihat dari segi pangkal akhirnya. Karena itu sering. disebutkan, “Wahai Yang Maha Rahman bagi Dunia dan akhirat, dan Maha Rahim bagi akhirat”.

Artinya, adalah proyeksi kemanusiaan yang sempurna, dan rahmat menyeluruh, baik secara umum maupun khusus, yang merupakan manifestasi dari Dzat Ilahi. Dalam konteks, inilah Nabi Muhammad Saw. Bersabda, “Aku diberi anugerah globalitas Kalam, dan aku diutus untuk menyempurnakan akhlak (menuju) paripurna akhlak.”

Karena kalimat-kalimat merupakan hakikat-hakikat wujud dan kenyataannya. Sebagaimana Musa as, disebut sebagai Kalimah dari Allah, sedangkan keparipurnaan akhlak adalah predikat dan keistimewaannya. Predikat itulah yang menjadi sumber perbuatan-perbuatan yang terkristal dalam jagad kemanusiaan. Memahaminya sangat halus. Di sanalah para Nabi –alaihimus salam– meletakkan huruf-huruf hijaiyah dengan menggunakan tirai struktur wujud. Kenyataan ini bisa djtemukan dalam periode! Isa as, periode Amirul Mukminin Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah, dan sebagian masa sahabat, yang secara keseluruhan menunjukkan kenyataan tersebut.  (Fatchan)

 

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.