Samudera Al-Quran (2)

Imam Al-Ghazali

B. MENGENAL JALAN MENUJU ALLAH SWT.

Pengenalan tersebut dapat dilalui dengan tabattul (beribadat hanya kepada Allah dan berpaling dan selain-Nya), sebagaimana Allah Swt. berfirman:

“… dan beribadatlah hanya kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (Q.s. Al-Muzammil: 8).

Dilanjutkan dengan ayat berikut sebagai penjelasannya:

“… tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, maka ambillah Dia sebagai wakil (pelindung).” (Q.s. Al-Muzammil: 9).

Menghadap kepada Allah berarti melakukan upaya dzikir terus menerus, disamping berpaling dan hawa nafsu, membersihkan diri dari kotoran duniawi. Kebahagiaanlah yang menjadi hasil dari semuanya itu, sebagaimana firman Allah Swt.:

“Benar-benar bahagia orang yang mau menyucikan jiwanya (dengan beriman), dan menyebut (dzikir) dengan nama Tuhannya, kemudian ia salat.” (Q.s. Al-A’Iaa: 14-5).

Jalan yang clitempuh melalui dua jalan: Pertama, mulazamah (terus menerus), dan kedua, mukhalafah (kontra). Mulazamah artinya selalu tekun secara terus menerus berdzikir kepada Allah, sedangkan mukhalafah, berarti kontra terhadap hal-hal yang melupakan diri kepada Allah. Inilah yang disebut pergi kepada Allah. Pergi dalam konteks ini, baik dari segi tujuan bepergian maupun dari segi orang yang hendak pergi, sama sekali tidak bergerak. Keduanya malah bersama-sama (beriringan), Sebagaimana firman Allah Swt.: “… dan Kami (Allah) lebih dekat kepadanya (manusia) dartpada urat lehernya …“ (Q.s. Qaaf: 16).

Bahkan metafora di sini antara pencari dan yang dicari, ibarat gambar yang hadir dalam cermin. Tetapi bukan berarti tampaknya gambar itu karena adanya gambar dalam cermin. Manakala Anda mengusap cermin itu, jelaslah gambarnya. Bukan gambar yang pindah dalam cermin, juga bukan karena bergeraknya cermin menuju gambar, tetapi menjadi tampak karena hilangnya hijab (penghalang).

Allah menampakkan dengan Dzat-Nya dengan cukup jelas. Sebab mustahil meredupkan cahaya, karena dengan cahaya itu justru segala yang samar menjadi tampak. Sedangkan Allah adalah cahaya langit dan bumi. Remang-remangnya cahaya dari bingkai pandangan mata itu disebabkan dua faktor: Karena buramnya bingkai itu, atau karena adanya kelemahan dalam bingkai. Karena lemahnya bingkai tidak akan mampu menerima cahaya yang agung. Hal ini seperti mata kelelawar yang tidak mampu menerima cahaya matahari yang cukup kuat dan terang. Sehingga tidak ada jalan lain kecuali Anda harus membersihkan mata hati dari kotorannya dan menguatkan bingkainya. Dengan demikian maka tiba-tiba muncul gambar dalam cermin itu.

Karenanya, ketika Anda mengambilnya seketika itu pula, Anda katakan, “Gambar itu ada di dalamnya.” Maka, sungguh Anda telah menggunakan perisai alam lahut (berkaitan dengan rahasia ketuhanan) bagi alam nasut (berkaitan dengan rahasia manusia), sampal Allah memberikan kekukuhan dalam hati Anda dengan qaul (keputusan) yang kokoh. Lalu Anda mengetahuinya bahwa sebenarnya gambar itu tidak ada di dalam cermin, namun tampak pada cermin itu. Dan apabila gambar itu bertempat tinggal di dalam cermin, maka tidak mungkin tampak beberapa gambar yang sama dalam satu bentuk dan satu kondisi yang memantul dari beberapa cermin (andaikata dipasang beberapa cermin). Artinya apabila gambar itu bertempat tinggal di dalam cermin, maka apabila ada cermin lebih dari satu, gambar itu akan pindah dari cermin yang satu ke cermin yang lain. Betapa hebatnya, dalam satu pantulan, gambar itu tampak begitu saja pada sejumlah orang-orang yang ma’rifat kepada Allah?

Memang, gambar-gambar tersebut tampak begitu jelas dalam beberapa cermin, namun pada sebagian cermin yang lain tampak buram dan samar-samar saja bahkan melenceng. Situasi demikian disebabkan oleh frekuensi dari kejernihan cermin dan konsistensi dimensinya.

Rasulullah Saw. bersabda:

“Allah menampakkan (tajalli) pada manusia secara umum, dan kepada Abu Bakar, secara khusus.”

Mengenal suluk (merambah jalan Allah) dan wushul (komunikasi) kepada Allah, juga merupakan lautan yang begitu dalam dan lautan Al-Qur’an. Kami akan mengodifikasikan ayat-ayat petunjuk pada jalan suluk, sehingga secara global Anda bisa merenungkannya. Semoga hati Anda terbuka, sesuai dengan hidayat-Nya. Inilah bagian dan cahaya mutiara yang cemerlang.

 

C. PENGENALAN KONDISI WUSHUL (SAMPAI KEPADA ALLAH)

Pengenalan ini mengandung perihal kesenangan dan kenikmatan yang ditemui ketika wushul (sampai kepada Allah). Ibarat yang global Secara keseluruhan adalah surga. Puncak kenikmatan surgawi itu adalah kenikmatan melihat Allah Swt.

Di sisi lain juga diketengahkan soal kenestapaan dan siksa yang dijumpai pada orang-orang yang mahjubin (tertutup dari Allah) karena telah meninggalkan suluk itu sendiri. Ibarat globalnya dengan ragam siksaannya adalah neraka Jahim. Sementara siksa paling pedih adalah siksa hijab dan lb‘ad (tertutup dan terjauhkan dari Allah). Naudzubillahi min dzalik! Inilah yang digambarkan dalam ayat berikut:

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari (rahmat) Tuhan mereka. Kemudian mereka benar-benar masuk ke neraka jahim.” (Q.s. Al-Muthaffifin: 15-16).

Dalam pengenalan tersebut juga mengandung perilaku dua kelompok di atas, termasuk soal Padang Mahsyar, hisab, mizan dan shirat. Di sana ada fenomena yang jelas, yang bisa dilihat umumnya makhluk, dan ada pula rahasia-rahasia yang bisa dirasakan oleh orang-orang tertentu. Masih dalam kaitan pengenalan tersebut, diungkapkan soal surat yang nilainya sebanding dengan sepertiga ayat Al-Qur’an. Hanya saja kami tidak ingin mengodifikasikannya secara keseluruhan, karena memang tiada terbilang. Hanya saja pada kajian dan pemikiran yang tampak dalam cakrawala. Bagian ini merupakan bahasan yang dimetaforkan sebagai zamrud hijau.

 

D. PERILAKU PARA MAKHLUK YANG BERIBADAT DAN PARA MAKHLUK YANG INGKAR

Perilaku orang-orang salihin (yang senantiasa beribadat) tertera dalam kisah-kisah para Nabi, dan auliya’. Seperti kisah-kisah Nabi Adam a.s, Nuh a.s, Ibrahim a.s, Musa a.s, Harun a.s, Zakaria a.s, Yahya a.s, Isa a.s, Daud a.s, Sulaiman as, Yunus a.s, Luth as, Idris a.s, Khidir a.s, Syu’aib a.s, Ilyas a.s, dan kisah Nabi Muhammad Saw. serta Jibril, Mikail, dan sejumlah malaikat lainnya.

Sementara perilaku orang-orang yang ingkar dan pembangkang, tertera dalam kisah Namrud, Fir’aun, kaum Aad, kaum Luth, kaum Tuba’, Ashhabul Aikah (penduduk Aikah), orang-orang kafir Mekkah, para penyembah berhala, iblis, setan, dan yang lainnya. Bagian ini mempunyai faedah untuk mengingatkan dan menjadi gambaran. Kisah-kisah tersebut juga mengandung rahasia, rumus dan isyarat-isyarat yang membutuhkan perenungan panjang.

Pada kedua kisah di atas dijumpai adanya semerbak aroma wewangian, warna kelabu, tonggak kayu basah yang hijau. Dan ayat-ayat yang berkaitan dengan kedua hal di atas begitu banyak.

 

E. ARGUMENTASI TERHADAP ORANG-ORANG KAFIR DAN PENJELASANNYA DENGAN BUKTI YANG TEGAS DAN TERANG, SERTA MEMBUKA KEDOK TAKHAYUL DAN KEBATILAN MEREKA

Bagian ini ada tiga macam:

Menyebut Allah dengan sesuatu yang tidak layak bagi-Nya, misalnya bahwa malaikat itu sebenarnya anak-anak wanita Allah, dan Allah mempunyai anak juga teman. Allah itu tritunggal dan sebagainya.

Menyebut Rasulullah Saw. sebagal tukang sihir, dukun dan pembohong, mengingkari kenabiannya dan bahwasanya Rasul Muhammad Saw. itu tidak lebih dari manusia biasa seperti yang lain, yang tidak Iayak untuk diikuti.

Pengingkaran terhadap hari akhir; kontra terhadap hari kebangkitan di Padang Mahsyar; surga dan neraka; serta pengingkaran terhadap akibat taat dan maksiat. Argumentasi Allah terhadap mereka, dengan berbagai hujjah-Nya, mengandung berbagai kelembutan dan hakikat. Di dalamnya ada semacam “Maha Penawar Racun (At-Tiryaq Al-Akbar). Ayat-ayatnya pun banyak.

F. PENGENALAN STRUKTUR JALAN MENUJU ALLAH DAN CARA MEMPEROLEH BEKAL, SERTA PERSIAPAN PENGAMANAN MENGHADAPI PARA “PENCURI” DAN “PERAMPOK JALAN”

Pengertiannya, bahwa dunia itu adalah tempat dari sekian tempat orang-orang yang berjalan menuju Allah Swt. Sedangkan badan merupakan kendaraan (transportasi). Siapa pun yang mengabaikan tempat dan kendaraan, maka tidak akan sempurna perjalanannya. Siapa pun yang tidak memperhatikan tatanan kehidupan dunia, maka tidak akan sempurna ibadatnya dan tidak akan sampai kepada Allah, yakni melalui suluk. Suluk pun tidak akan sempuma, kecuali fisiknya sehat dan keturunannya langgeng. Keduanya akan tetap sempurna dengan adanya perlindungan terhadap eksistensi keduanya, melalul pengamanan terhadap bahaya yang mengancam kerusakan dan kehancurannya.

Sebab-sebab perlindungan terhadap eksistensi di atas, antara lain:

Makan dan minum, untuk kelanggengan fisik. Sedangkan nikah, untuk kelanggengan keturunan. Makan sebagai sebab untuk melestarikan kehidupan, sementara wanita dijadikan ladang untuk menanamkan benih keturunan. Hanya saja, hal tersebut secara hukum fitrah tidak dikhususkan pada yang dimakan maupun yang dinikahi. Apabila persoalan tersebut diabaikan tanpa mengetahui aturan-aturan perdata, mereka pasti akan saling menghina dan berbunuhan, sehingga mereka lupa menempuh jalan yang sebenarnya, bahkan justru menempuh jalan kehancuran.

Karena itu, Al-Qur’an menjelaskan perundang-undangan perdata berkaitan dengan harta-benda dalam ayat-ayat jual-beli, riba, utang-piutang dan waris, serta kewajiban nafkah, pembagian ghanimah (harta rampasan perang), sedekah, munakahah (pernikahan), pemerdekaan budak, hukum budak dan hukum pengasingan. Hal ini didukung dengan cara-cara tertentu melalui ikrar, kesaksian dan sumpah. Sedangkan berkaitan dengan kewanitaan, dijelaskan melalui ayat-ayat nikah, talak, ruju’, iddah, , shidaq (maskawin), ila’, dzihar (mencerai istri, dengan menyerupakan punggung ibunya), li’an, dan ayat-ayat tentang kemuhriman nasab, radha’ (sepersusuan) dan mushaharah (besan).

Sementara untuk pengamanannya, Allah melindungi melalui ragam sanksi hukum fisik, seperti memerangi orang-orang kafir dan pemberontak, sanksi hudud, penahanan dan penyiksaan, pembayaran kafarat, denda dan qishas.

Qishas dan denda untuk melindungi usaha destruksi terhadap jiwa dan anggota badan. Sedangkan hukuman had bagi pencuri dan perampok jalan, diberlakukan untuk melindungi kerusakan harta yang menjadi bekal hidup. Sementara hukuman had zina, liwath (sodomi), tuduhan zina, diberlakukan untuk menjaga hal-hal yang merusak keturunan dan nasab. Adapun jihad memerangi orang-orang kafir sebagai pengamanan terhadap orang-orang yang menentang kebenaran, yang bisa mengganggu roda kehidupan dan keagamaan, yang masing-masing merupakan instrumen menuju kepada Allah Swt.

Hukuman terhadap para pemberontak, sebagai usaha untuk menahan dari kondisi kekacauan yang merusak struktur politik keagamaan yang dipegang teguh oleh para penerus perjuangan Rasul Saw. Ayat-ayat ini pasti Anda jumpai. Di balik ayat-ayat tersebut terkandung nilai-nilai dasar dari kemaslahatan, hikmah dan sariguna, yang ditemui oleh mereka yang mau merenungkannya berkaitan dengan inovasi hukum syariat terhadap aturan duniawi. Bagian ini berkaitan dengan soal halal dan haram serta hukum-hukum Allah. Inilah yang dinamakan “Aroma Misik Harum” (Miskul Adzfar). Semua ini merupakan kodifikasi kandungan surat dari ayat suci Al-Qur’an.

Apabila Anda mengumpulkan keenam bagian di atas dengan uraian-uraiannya dari satu untaian permata, maka Anda akan menyusunnya dalam sepuluh macam: Penyebutan tentang Dzat, sifat-sifat, af’al, al-miad (janji), shirathal mustaqim; yakni dua sisi antara pemurnian dan penguraian, dan tentang perilaku para auliya’, perilaku para musuh Allah, serta penyebutan argumentasi terhadap orang-orang kafir dan masalah-masalah yang berkaitan dengan hukum.

Harus dibaca juga..

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.