Qalbu Sakinah

“Ketika ia rela apa pun dari Allah Swt, atas apa yang direncanakan dan ditakdirkan padanya, yang telah diatur dan diurus olehNya.”
“Kapan hamba bisa rela kepada takdirNya? Ditanya lagi.
“Manaka hamba bermunajat kepada Tuhannya, “Oh Tuhanku, bila Engkau memberiku aku bersyukur, bila Engkau menggagalkanku Aku rela, dan bila Engkau memanggilku aku menjawab, dan bila Engkau meninggalkanku aku tetap mengabdi.”

Harus dibaca juga..

  • Zuhud itu ada sepuluh bagian, yang paling tinggi dari derajat zuhud adalah paling rendahnya derajat wara’.
  • Wara’ itu ada sepuluh bagian, tertinggi dari derajat wara’ adalah paling rendahnya derajat yaqin.
  • Yaqin ada sepuluh bagian, dan paling tinggi derajatnya adalah paling rendahnya derajat ridho, karena ridho adalah derajat tertinggi ‘ubudiyah. Dan Allah menjadikan kebebasan dan keleluasaan jiwa dalam ridho, dan menjadikan kesusahan pada rasa benci.

Dikisahkan bahwa Athiyah al-Himshy ra, mengatakan, “Orang tuaku berkata kepada Ibrahim bin Adham ra, “Hai Abu Ishaq, bila anda menulis tentang hadits ini sebagimana kami melakukannya?”
Ibrahim mengatakan, “Aku disibukkan oleh tiga hal, kalau aku sudah selesai maka aku akan melakukan seperti yang anda lakukan.”
“Apa tiga hal itu?” Tanya ayahku.

“Tawakal kepada Allah atas rizki yang diberikan kepadaku; ikhlas beramal hanya bagi Allah, dan rela kepada ketentuan Allah Ta’ala. Soal tawakkal dan ikhlas, aku sudah bisa menyelesaikannya, dengan pertolongan Allah Ta’ala. Sedangkan rela (ridho) terhadap ketentuan Allah Ta’ala, sungguh aku sangat sibuk sekali hingga belum selesai.”

Lalu orang tuaku menangis menderu-deru, sembari berkata, “Betapa jauh kami ini, untuk menggapai yang kau raih. Lalu apakah kami mampu bicara posisi di atas ridho jika begitu?
Sedikitpun tak mampu”.

Muhammad bin Wasi’ ra berkata, “Sesungguhnya aku menutup diri kecuali kepada orang yang mulai pagi hingga petang tak ada makanan, namun ia tetap ridho kepada Allah Ta’ala.”
Sufyan Ats-Tsaury ra ditanya, “Kapankah seorang hamba rela kepada ketentuan Allah Ta’ala?”
“Manakala ia gembira dalam bencana, sebagaimana ia gembira dalam nikmat,” jawabnya. Seseorang bertanya kepada Imam Husein ra, “Abu Dzar ra, mengatakan, bahwa kefakiran itu lebih kucintai ketimbang kekayaan, dan sakit itu lebih kucintai ketimbang sehat.”

“Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Tapi menurutku, siapa yang rela terhadap pilihan Allah Ta’ala, ia pasti tidak berharap lain selain pilihan Allah Ta’ala,” jawab Imam Husein.
Yahya bin Mu’adz ra, mengatakan, “Aku mencari ilmu, namun aku tidak bisa istirahat. Lalu aku mencari amal, itu pun aku tak bisa istirahat. Lalu aku ridho kepada Allah Ta’ala, aku baru tenggelam dalam istirahat.” Abu Darda’ ra. mengatakan, “Yang penting bukan memakan roti gandum kering, juga bukan memakai pakaian wool, tetapi yang penting adalah ridho atas ketentuan Allah Ta’ala.”
Dalam syair:
Ketentuan Allah Swt  bakal tiba
Sang hamba suka atau pun  tidak.
Bukan itu yang langgeng
Tapi semua toh bakal terjadi.

Dalam pedang Sayyidina Umar bin Khothob ra tertulis
sebuah syair:
Telah terjadi hukumNya padamu
Maka putuskanlah menurut apa yang dikehendakiNya
Sambutlah yang bakal terjadi
Walau dirimu tak menghendaki
Hari manakah yang aku bisa lari dari mautku
Hari yang aku tak ditakdirkan atau tidak
Hari yang tidak ditakdirkan pasti aku tidak mati
Dan pada hari yang ditakdirkan pun
Peringatan tak bisa menyelamatkan.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.