Qalbu Sakinah

“Ya Tuhanku, izinkah aku untuk memberi kabar apa yang kulihat.”
Allah Ta’ala berfirman, “Silahkan engkau mendapat izin…”
Lalu Jibril turun dan memberi kabar apa yang dilihat di Lauhul Mahfudz. Betapa mengejutkan lelaki itu tetap saja sebagaimana semula bermunajat: “Ilahi, bagiMu-lah Puji wahai Tuhan atas qodlo’ dan qodarMu, pujian yang  melebihi pujian orang yang memuji dan syukur yang melebihi syukurnya orang yang bersyukur.”

Harus dibaca juga..

Lalu Jibril kembali dengan penuh kekaguman atas kesempurnaan ridho orang itu kepada Allah Ta’ala atas apa pun hukum dan aturan yang diberlakukan padanya. Begitu juga sebuah riwayat, bahwasanya Allah Ta’ala memberikan wahyu kepada salah satu NabiNya: “Hendaknya engkau katakan pada hambaKu Fulan bin Fulan, “bahwa kamu ahli neraka..”

Ketika risalah itu sampai kepada si fulan itu, ia justru memuji Allah Ta’ala.  “Alhamdulillah atas apa yang telah ditentukan padaku. Perkara adalah perkaraNya, dan hukum adalah hukumNya.”
Allah Ta’ala berfirman kepada NabiNya, “Temui sekali lagi, dan berikan kabar padanya bahwa Aku telah mengampunimu  sepanjang ia rela atas ketentuanKu.” Kemudian risalah Ilahi itu disampaikan pada fulan tersebut, lalu ia menjerit dan berakhir dengan kematian. Perlu diketahui bahwa ketentuan Allah itu berkisar empat hal:

  1. Ketentuan  nikmat Allah Ta’ala , maka bagi hamba haruslah ridho dan bersyukur.
  2. Ketentuan cobaan Allah Ta’ala, maka bagi hamba harus rela dan sabar.
  3. Ketentuan taat dari Allah Ta’ala maka bagi hamba harus rela dan memandang anugerahNya serta menegakkan kewajiban hingga maut menjemputnya.
  4. Ketentuan maksiat, maka bagi hamba ridho bahwa itu takdir Allah Ta’ala dan bertaubat.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw,  ditanya mengenai Qodlo dan Qodar. Beliau menjawab, “Malam yang gelap, lautan yang dalam, dan rahasia Allah yang agung. Siapa yang ridho kepadaNya, maka
ia akan ridho atas takdir itu. Dan siapa yang benci maka Allah akan membencinya.”

Diriwayatkan ketika gergaji diletakkan di atas kepala Nabi Zakaria as, ia berhasrat untuk memohon pertolongan kepada Allah Swt, kemudian Allah Swt memberi wahyu, “Wahai Zakaria! Pilih mana engkau rela dengan aturanKu padamu atau bumi ini akan Aku balik, lalu semua yang ada di muka bumi hancur.” Nabi Zakaria as, hanya diam (rela dengan turanNya), tiba-tiba gergaji itu putus menjadi dua.
Rabi’ah al-Bahsriyah ra, sedang sakit, lalu ditanya, “Apakah engkau tidak memanggil dokter?”
“Siapa yang mengaturku?” balik bertanya.
“Allah Ta’ala…” kata mereka.
“Apakah orang seperti saya ini pantas menolak aturan takdir Tuannya?” jawabnya.
Abu Bakr ash-Shiddiq ra sedang sakit, dan ditanya:
“Apakah kami harus memanggil dokter untukmu?”
“Allah Swt sudah melihat keadaanku…”
“Apa yang dikatakan olehNya?”

“Dia mengatakan, “Sesungguhnya Aku melakukan apa yang-Ku kehendaki..”
Seorang Nabi tiba-tiba mengadu kepada Allah Swt, atas musibah yang dibencinya, kemudian Allah Swt,  menurunkan wahyu, kepadanya:
“Sudah berapa kali engkau mengadu kepadaKu,
dan Aku bukan layak dicerca dan bukan layak dikeluhi! Demikian pula awal keadaanmu ada dalam IlmuKu, kenapa engkau harus benci? Apakah kamu senang jika dunia kukembalikan gara-gara kamu? Atau Aku mengubah Lauhul Mahfudz akibat dirimu? Lantas Aku mengatur rencana yang meringankan dirimu sebagaimana kehendakmu, bukan menurut kehendakKu, sehingga apa yang engkau senangi bukan apa yang Aku senangi? Maka demi KebesaranKu  Aku bersumpah, seandainya masih ada gejolak sekali lagi dalam dadamu, Aku pasti akan merobek baju kenabianmu, dan aku lempar dirimu ke neraka, dan Aku tidak peduli.”

Para ahli bijak mengatakan, “Tidak mengherankan orang yang diberi cobaan lalu sabar. Tetapi yang menakjubkan adalah yang diberi cobaan namun ia rela.”
Abdul Wahid bin Zaid ra ditanya, “Manakah yang lebih utama diantara dua orang ini: Seorang senang hidup selamanya agar bisa taat kepadaNya, dan seorang lagi ingin segera mati demi rindu kepadaNya?” “Tidak dua-duanya,” jawab Abdul Wahid, “Tetapi yang utama adalah seorang yang menyerahkan perkaranya kepada Allah Swt, dan ia berdiri di atas jejak ridho kepada Allah dengan benar. Bila
ia dihidupkan lama ia pun senang, begitu pula jika harus mati ia pun senang. Itulah derajat rela kepada Allah Ta’ala, dan perilaku orang yang ma’rifat kepadaNya.”

Umar bin Abdul Aziz ra, ditanya,”Apa sebenarnya yang membuatmu senang?”
“Apa yang ditakdirkan oleh Allah Ta’ala kepadaku,” jawabnya.
Abu Abdullah an-Nasaj ra, mengatakan, “Allah Ta’ala mempunyai hamba-hamba yang sangat malu dengan kesabaran, lalu mereka menempuh jalan ridho. Dan Allah Ta’ala mempunyai hamba-hamba, manakala mereka mengetahui darimana datangnya takdir, pasti mereka sangat menerimanya dengan cinta dan ridho.”

Dalam hadits dijelaskan, “Pertamakali yang ditulis oleh Allah Ta’ala di Lauhul Mahfudz adalah Laa Ilaaha Illalloh Muhammadur Rasulullah, siapa yang menyerahkan dirinya pada qodlo’Ku dan sabar atas cobaanKu, serta bersyukur atas nikmatKu, Aku tulis ia tergolong orang yang sangat benar (shiddiq), dan Aku bangkitkan dia bersama para Shiddiqun. Namun siapa yang tidak rela pada rencanaKu, tidak sabar atas cobaanKu dan tidak syukur atas nikmatKu, hendaknya ia memilih Tuhan selain Aku.!”  Juru bicara mereka lalu berkata, “Hai diri! Sungguh aku memasrahkan totalmu pada Tuhanmu, bila Dia berkehendak, Dia membuatmu lapar, dan jika Dia mau, Dia membuatmu kenyang, jika Dia mau, Dia bisa membuatmu mulia, dan jika Dia mau, Dia membuatmu hina. Kalau Dia Mau, Dia menghidupkanmu, dan bila Dia mau, Dia mematikanmu! Dia Maha Cukup dan Dia lebih Utama dibanding dirimu. Secara keseluruhan dirimu hanya bagiNya, hai diri! Kamu tidak punya apa-apa, dan aturan itu hanya bagi Yang Maha Mengatur, Mencipta dan memerintah!”Yahya bin Mu’adz ar-Razy ra, ditanya, “kapan kehidupan orang beriman itu bagus?”

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.