Qalbu Sakinah

Syeikh Ahmad ar-Rifa’y
“Ya Allah sungguh aku berlindung kepadaMu dari rasa takut (menjadi penakut), dan aku memohon kepadaMu dari kebakhilan (pelit), dan aku mohon kepadaMu dari terlempar pada

Harus dibaca juga..

umur yang
sia-sia, dan aku mohon kepadaMu dari fitnah dunia dan adzab kubur.”(Hr Al-Hakim).

Riwayat dari
Mush’ab bin Sa’d dari ayahnya yang berkata: Kami mohon perlindungan dengan kalimat-kalimat yang Nabi Saw, berlindung dengan kalimat ini:
“Ya Allah sungguh aku berlindung kepadaMu dari rasa takut (menjadi penakut), dan aku memohon kepadaMu dari kebakhilan (pelit), dan aku mohon kepadaMu dari terlempar pada umur yang
sia-sia, dan aku mohon kepadaMu dari fitnah dunia dan adzab kubur.” (Hr Al-Hakim).

Nabi Saw, memohon perlindungan dari hal-hal yang memutuskan diri dengan Allah Ta’ala.
Rasa takut (penakut) adalah faktor yang membebani untuk
bicara kebenaran.
Bakhil bisa membuat penghambat untuk meraih kebenaran

Umur yang sia-sia bisa mengalihkan aktivitas meraih kebenaran.
Fitnah dunia bisa memutus diri dari kebenaran.
Dan azab kubur adalah kesimpulan dari semua itu dan kita mohon perlindungan dari Allah Ta’ala.
Itulah kandungan permohonan perlindungan yang mulia dari Nabi Muhammad Saw, sebagai petunjuk agar membuang hasrat penakut dan bakhil, dan dibangkitkannya semangat menuju Allah Ta’ala, yang merupakan nilai luhur kaum ‘arifin.

Ya Allah berilah pertolongan pada kami atas apa yang Engkau cintai dan Engkau ridhoi. Wahai Yang membuat kebaikan orang-orang saleh, wahai yang menjadi wali bagi Muttaqin, dan wahai yang menjadi bukti bagi orang yang bingung, wahai tambatan kebahagian orang-orang ‘arifin, wahai Yang Maha Pengasih bagi yang dikasihi.

Ridho kepada Allah Ta’ala.
Ketahuilah bahwa seorang hamba manakala mengetahui bahwa Allah Swt adalah Dzat Paling Bijaksana atas aturanNya, dan Maha Kuasa dan Maha Tahu atas apa yang diputuskan dan diaturNya, dan apabila hamba tahu dirinya bodoh  terhadap apa yang dicinta dan dibenci, maka ia akan Ridho kepada Allah Ta’ala dalam aturan dan ketentuanNya.

Ridho adalah tentramnya qalbu kepada Dzat Yang Maha Mengatur dan membiarkan pilihan kepadaNya disertai kepasrahan. Tidak ada yang lebih berat bagi nafsu kecuali harus ridho terhadap ketentuan Allah Ta’ala. Karena ridho pada ketentuanNya bisaanya berbeda dengan kerelaan hawa nafsunya. Maka berbahagialah jika ada hamba yang memprioritaskan ridhonya Allah Ta’ala dibanding kerelaan dirinya. Diriwayatkan bahwa Nabi Musa as bermunajat: “Ilahi, Engkau beri keistimewaan padaku dengan Kalam, dan belum pernah Engkau Bicara kepada manusia sebelumku. Maka tunjukkanlah aku pada amal yang bisa kuraih ridhoMu…”
Allah Ta’ala menjawab, “Hai Musa! RidhoKu padamu, adalah ridhomu atas ketentuanKu…”
Ad-Darany ra mengatakan, “Aku berharap meraih ridhoNya sekejap saja, dan walau pun Allah Ta’ala memasukkan diriku ke dalam neraka, aku pun rela dengan ketentuanNya. Dan yang paling berhak untuk ridho adalah ahli ma’rifat, karena ridho adalah Pintu Allah paling agung.”
Diriwayatkan pada sebagian kitab Allah Swt:
Bahwa Jibril as,  sedang turun ke bumi. Lantas ia melihat sosok lelaki yang memiliki pancaran ketenangan.

“Betapa hebat lelaki ini,” kata Jibril.
Kemudian Allah Ta’ala berfirman pada Jibril, “Hai Jibril! Lihat namanya di Lauhul Mahfudz yang berderet dengan nama-nama
ahli nereka!”
“Tuhanku, lalu apakah semua ini?” Tanya Jibril.
“Hai Jibril! Sesungguhnya Aku tidak dimintai pertanggung-jawaban apa yang Kulakukan, dan tak seorang pun tahu dari semua makhlukKu apa pun PengetahuanKu, kecuali yang Aku kehendakinya…” jawab Allah Ta’ala.
“Oh Tuhan, apakah Engkau memberi izin padaku untuk memberi informasi atas apa yang aku ketahui?”
“Silahkan, engkau dapat izin…” jawab Allah Ta’ala.

Jibril as lalu turun ke bumi memberi kabar apa yang sesungguhnya terjadi dan bagaimana situasi sebenarnya yang menimpa orang itu. Tiba-tiba orang itu malah bersujud, sembari bermunajat, “Bagimulah segala puji wahai Tuhanku atas ketentuanMu dan takdirMu. Pujian yang melebihi pujian orang-orang yang memujiMu, dan semakin tinggi dibanding syukurnya orang-orang yang bersyukur.”
Orang itu terus memuji Allah Ta’ala hingga Jibril as menduga bila orang tadi tidak mendengar apa yang telah disampaikan.

“Hai hamba Allah, apakah kamu mendengar apa yang ku ucapkan?” Tanya Jibril as.
“Ya, aku mendengar. Engkau memberi kabar bahwa engkau telah mendapatkan diriku berada diantara deretan daftar ahli neraka di Lauhul Mahfudz sana…”
“Lalu kenapa masih saja memujiNya dan bersyukur padaNya?” Tanya Jibril penasaran. “Subhanallah

wahai Jibril! Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menentukan dengan sepenuh kesempurnaan ilmuNya, dan keleluasaan rahmat dan kasihNya, dengan kelembutan RububiyahNya, serta hakikat hikmahNya. Lalu apalah artinya aku sampai aku tidak rela? Maha Berkah Allah Tuhanku….”
Lalu orang itu sujud kembali, dan terus menerus bertasbih
dan bertahmid. Kemudian Jibril as, kembali kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman pada Jibril, “Kembalilah ke Lauhul Mahfudz, dan lihatlah apa yang bakal kau lihat….” Jibril kembali ke Lauhul Mahfudz, tiba-tiba nama orang tersebut berderet dengan daftar nama-nama ahli syurga.

Allah Ta’ala berfirman, “Hai Jibril! Itulah yang kau lihat, Aku tidak diminta  pertanggungjawaban apa yang Aku lakukan.”

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.