Negeri Sufi

Kiai Mursyid memang aneh. Bukan seperti kiai biasa. Juga bukan seperti Kiai Khos yang selama ini dikenal publik. Sebab para muridnya terdiri dari masyarakat bawah sampai masyarakat atas. Dari anak-anak hingga orang tua-tua yang sudah senja. Terkadang di rumahnya itu, ratusan rombongan tamu datang, terkadang yang beberapa gelintir manusia, bahkan beberapa hari juga pernah lengang. Kadang yang datang dengan pakaian seragam militer, dengan pangkat jenderal, terjkadang pengusaha kaya raya, namun tidak jarang yang ditemui justru para pemulung dan tukang becak. Semuanya tampak akrab dengan Kiai itu.

Harus dibaca juga..

Ada jutaan muridnya, ada yang satu sama lain mengenal, ada yang tidak kenal sama sekali, walau pun di ibu kota Jakarta, mereka sebenarnya duduk pada satu instansi bahkan satu kantor.

Seluruh lapisan masyarakat, model manusia seperti apa pun, dari yang paling aneh, paling gila, paling nyentrik, bahkan paling jahat, merasa mendapatkan perlindungan jiwa di sana. Apalagi yang paling alim, paling hebat, paling mampu dan paling banyak massanya, juga merasa mendapatkan perlindungan hati di sana.

Tetapi, manusia juga tetap manusia. Manusia tidak lepas dosa dan alpa. Hanya kesombonganlah yang menyeret manusia untuk merasa paling suci, paling Islami, paling alim, paling dekat dengan Tuhannya. Karena itu di pintu gerbang pesantren itu ada tulisan besar.

“Janganlah anda merasa paling kotor dan paling berdosa di tempat ini. Sebab masih banyak orang yang lebih kotor dan lebih berdosa ketimbang anda di sini. Janganlah pula anda merasa paling alim dan paling suci di sini, sebab masih banyak orang alim dan orang suci lebih dari anda di sini.”
Membaca tulisan itu, setiap tamu yang datang bahkan setiap santri yang keluar masuk pesantren itu, sering dihentakkan egonya sampai ke titik paling rendah. Bahkan banyak tamu yang hilir mudik, karena satu dan lain hal, tidak sempat bertemu Kiai Mursyid, sudah merasa bebas dari beban yang menghimpit ketika memasuki gerbang pesantren itu.

Banyak pula para tamu yang membayangkan sosok Kiai Mursyid sebagai sosok yang kharismatis, dengan pakaian kebesaran dan jubah yang menjuntai. Tetapi begitu jumpa kiai itu, terasa seperti berjumpa dengan ayahandanya sendiri. Bahkan lebih dari itu, tiba-tiba sosok kiai itu adalah sosok bapak spiritual yang meluruhkan gumpalan-gumpalan yang berkarat dalam hati.

“Di sini ini seperti supermarket. Mencari apa saja ada …” kata Kiai Mursyid ketika menerima rombongan tamu-tamu dari luar kota.
Memang demikian. Sebab santri Kiai Mursyid memang terdiri dari berbagai macam manusia, dan ilmu yang dimiliki Kiai Mursyid memang lebih dari sekadar seorang Kiai. Sebab, beberapa tokoh dari perbankan internasional dari mancanegera sering datang hanya untuk konsultasi soal moneter. Ada para politisi yang bertanya soal strategi berbangsa dan bernegara. Ada juga para Ulama besar negara-negara Islam yang datang, hanya untuk bertanya satu dua persoalan saja, ketika persoalan itu sudah ditanyakan hampir ke seluruh tokoh-tokoh Ulama besar, tetapi mengalami jalan buntu. Lalu Kiai Mursyid hanya memberi jawaban satu dua kalimat saja, mereka sudah puas. Namun tak jarang Kiai Mursyid harus bicara soal pertanian dan pendidikan anak-anak di desa, situasi madrasah dan surau, pada orang-orang desa.

Misalnya, seorang professor Filsafat dari Al-Azhar University jauh-jauh datang dari Mesir hanya untuk menanyakan sebuah kompromi polemik intelektual dan teologis antara Al-Ghazali dan Ibnu Rusydi yang selama berabad-abad tidak bisa dikompromikan secara memuaskan. Tetapi ketika filosuf Al-Azhar itu mendatanginya, dengan membawa masalah tersebut, akhirnya hanya dijawab oleh Kiai Mursyid dengan kata-kata sederhana, terkadang penuh dengan anekdot dan hikmah yang berbau kontroversial.
“Apakah Syeikh tadi sudah masuk ke masjid saya itu, melihat arsitektur dan bangunannya?” tanya Kiai Mursyid.

“Sudah Pak Kiai…” jawab Professor dari Al-Azhar itu.
“Apakah syeikh bisa menjelaskan pada khayalak tentang bangunan itu?”
“Insya Allah saya bisa, bahkan sangat detil. Sebab saya memang pernah belajar arsitektur di Universitas Kairo.”

“Baiklah. Kalau teman anda ini, apakah teman anda ini juga ikut masuk di Masjid?” tanya Kiai Mursyiod pada teman syeikh atau Professor itu.
“Maaf Pak Kiai,” jawabnya dengan berbahasa Arab fasih, “saya hanya melihat-lihat dari luar saja. Tapi saya bisa menjelaskan bentuk detilnya kepada khalayak. Karena saya sebenarnya seorang insinyur bangunan Pak Kiai,” kata teman professor tadi.

“Nah, itulah cara mempertemukan Al-Ghazali dengan Ibnu Rusydi. Syeikh atau professor yang sudah masuk ke dalam masjid lalu keluar dari masjid, kemudian menjaskan kepada khalayak tentang bangunan masjid itu, menempati posisi Imam Al-Ghazali. Sedangkan anda yang hanya melihat masjid dari sisi luarnya, lalu berusaha menjelaskan kepada khalayak tentang sudut-sudut bangunan di dalam masjid, maka anda menempati posisi Ibnu Rusydi.”

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

agen slot onlineAplikasi Capsa Susun onlineDaftar Bandar Ceme Onlineion casinoBaccarat Onlineion casinoBaccarat Onlinedaftar situs judi slot online terpercayaBandar Togelsbobet casinoSabung Ayamhttps://run3-game.net/https://www.foreverlivingproduct.info/https://rodina.tv/Bandar Sakong OnlineAgen Slotndomino99newmacau88ndomino99fifaslot88newmacau88newmacau88Live Casinocapsa susunhttps://daftardadu.online/