Negeri Sufi

Di luar langit sana, tiba-tiba bumi mengepulkan asap hitam. Tampak seperti bola hitam yang meruak ke angkasa. Boleh jadi, itulah meteor siang bolong, yang sedang melesat, mengikuti edarnya.

Harus dibaca juga..

Lalu di sebuah surau desa terpencil yang terbuat dari anyaman bambu, dua sosok masih bersila saling berhadapan, sembari mengepulkan asap rokok.
“Negeri ini sedang berguncang, sebagaimana yang kita lihat dalam riak gelombang lautan,” kata Mat Salik.

“Apanya yang aneh?” tanya Syamsuddin.
“Lho, apa sampean tidak merasa asing?”
“Saya kira kok biasa-biasa saja…”
“Maksudnya?”
“Lho iya, bukankah semua itu sudah jadi watak dunia. Selama kita hidup di dunia, ya selalu begitu, tak henti-hentinya?”
Dua orang itu kemudian terdiam. Masing-masing menerawang ke angkasa. Bintang-bintang kecil bertaburan, lalu segerombol bintang membentuk lingkaran yang saling tarik menarik, seperti misteri huruf Hamzah dalam jajaran huruf Hijaiyah.

Tanpa jawaban dan diskusi yang jelas, kedua hamba Allah itu kembali ke rumah masing-masing, namun ada kesepakatan keduanya akan segera sillaturrahim ke Kiai Mursyid, guru mereka berdua.

Di sebuah kota kecil, sebuah bangunan menara menjulang ke langit. Menara itu menjadi lambang sebuah cahaya senantiasa memancar, bukan hanya limawaktu sehari ketika suara adzan menusuk angkasa, tetapi juga seringkali dianggap sebagai lambang kesejukan kota kecil itu. “Selama menara itu masih bersinar, kota ini akan senantiasa damai.” Demikian pameo yang berkembang di benak penghuni kota itu.

Di bawah menara itu, tentu sebuah bangunan yang berjajar seperti sebuah kampung kecil di tengah kota. Bangunan-bangunan itu sederhana, tetapi sangatlah bersih. Tak banyak orang bersuara, kecuali sesekali ledakan tawa yang membahana, bahkan juga suara-suara burung yang berkicau di sudut-sudut kampung itu, serta suara-suara bocah yang sedang bermain dengan gembiranya.

Dan bangunan paling sederhana diantara bangunan-bangunan itu, dihuni oleh Kiai Mursyid dan keluarganya. Walau sederhana, tetapi ruang tamu yang luas, dan dan dapur yang lebih luas lagi. Di sana Kiai Mursyid memimpin sebuah pesantren yang tidak sampai ribuan jumlah santrinya. Tetapi dari sanalah sebuah bangsa dibangun dalam arti sebenarnya.
Kiai ini masih sangat muda, belum sampai lima puluh tahun usianya. Tetapi ia memang cukup dikenal sebagai Kiai Sufi, di kalangan para Sufi negeri ini. Lalu bangunan yang mirip kampung kecil itu, tidak lain adalah bangunan pesantren itu. Kelihatan, segalanya berjalan alamiyah, tidak megah, tetapi kokoh dengan bangunan-banguna kayu jati yang berusia tua.

“Mengapa Pak Kiai tidak membangun pesantren modern, lalu tetap mempertahankan tradisi utama di sini? Bahkan kalau perlu dibangun sebuah akademi paling modern dengan nuansa tradisi yang unik?” tanya seorang tamu dari Jakarta yang ssudah melalang buana di negeri-negeri Islam dan pelosok dunia, sembari ia bandingkan dengan lembaga-lembaga pendidikan Islam di luar negeri, khususnya di Afrika dan Timur Tengah, sehingga Kiai Mursyid bisa menjadi pelopor pertemuan peradaban Islam paling modern tanpa melepas tradisinya?
“Kami di sini mendidik hati, menanamkan biji-biji tauhid, agar tumbuh menjadi sosok pohon sejarah kehambaan, yang berbuah manusia-manusia yang senantiasa mendapatkan ridhaNya…” jawab Kiai Mursyid tetap merendah.

“Saya sudah dua hari di sini Pak Kiai. Saya mengamati semuanya, mendata para santri, mendata murid-murid Kiai dari berbagai profesi. Kenapa seorang insinyur, seorang doktor pula, tiba-tiba harus ditugasi Kiai membersihkan kamar mandi setiap hari. Bahkan itu semua di luar disiplin ilmunya. Mengapa tidak dimanfaatkan dan dikembangkan potensinya, dengan planning modern?”
“Bolehlah anda berpendapat begitu. Tetapi saya tanya, mana universitas terhebat di dunia ini yang bisa membentuk karakteristik manusia yang mengenal dirinya dan mengenal Tuhannya? Siapa yang bisa menjamin bahwa ide anda itu bisa membuat hatinya berubah, karakternya bisa sesuai dengan keinginan anda,” jawab kiai itu.

Tamu dari Jakarta itu rupanya terhenyak dengan jawaban kiai. Walau pun fikirannya masih tidak puas, diam-diam hatinya tidak menolak lontaran kiai tersebut.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.