Mewaspadai Yang Luput Setelah Pemberian

Al-Harits Al-Muhasibi
Betapa sangat mengherankan, seorang hamba yang beriman kepada Tuhannya meyakini kedahsyatan sanksi dan pedihnya azab dari-Nya; demikian pula mengenal nilai pahala dan karamah-Nya; bagaimana dia bisa tenang

Harus dibaca juga..

dan kalbunya tidak merasa gelisah ataupun khawatir, padahal dia melihat dirinya setiap hari berada dalam keberpalingan?

 

Dan yang lebih mengherankan dari hal itu: merasa tentram dengan bertambah jauhnya Allah dari dekat-Nya.

Apabila seorang hamba dulu telah dibiasakan sebelumnya mendapatkan taufiq (bimbingan), ‘ishmah (perlindungan diri) dari perbuatan maksiat, kalbunya terbebas dari kesibukan urusan dunia, dan tetap teguh mengagungkan nama Allah dalam dzikir-Nya, juga sangat terguncang ketika lupa kepadaNya. Lantas Allah menarik semua itu darinya dan menimpakan cobaan dengan segala kebalikannya: terus-menerus dalam kelalaian, sering lupa, dan ketertutupan mata hati dengan pengabaian kewajiban-kewajiban. Sehingga dia menjadi orang yang dijauhkan dari-Nya, terusir dan sisi-Nya, mengalami kebimbangan, dan terombang-ambing sambil mencari jalan kembali, namun tidak ada jalan baginya untuk mendapatkan taufiq.

Bagaimana orang tidak akan merasa terguncang dengan bencana yang ditimpakan Allah ini — dalam bentuk kehinaan dan kenistaan, keterasingan dan adanya jarak, setelah mendapat kemuliaan dan karamah, kepatuhan kepada-Nya dan kesigapannya menyambut seruan?

Bahkan Rabb, Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi, dulu memberikan penerimaan (ijabah) dengan segera, tanpa melalui doa maupun permintaan kepada-Nya, namun setelah itu dia begitu berbahagia, bersenang-senang, sibuk mencari yang duniawi, tidak bersusah hati atas kehilangan yang menimpanya, dan tidak merindukan sesuatu yang telah luput darinya. Tidak pula mempertimbangkan untuk surut dari kelalaian yang menyebabkannya mendapatkan sanksi?

Kesedihannya adalah kekhawatiran-kekhawatiran terbersit dalam kalbu yang tidak pernah berhenti dan merendahkannya dengan kemasygulan hati.

Bagaimana kesedihan tidak akan menggelayutinya, sedangkan kalbunya disibukkan dengan tuntutan-tuntutan kepada Allah, dia dihalangi oleh hijab dari Allah, dan dicegah dari kedekatan dengan-Nya, sehingga dia termasuk orang-orang yang dihalangi dari rahmat Allah (al-hirman)? Dan Allah telah memberinya sanksi dengan menarik karunia-karunia yang secara langsung didapatkan dariNya (al-mawahib) dan kemuliaan ‘inayah. Sehingga, dia menjadi orang yang dipalingkan dari-Nya setelah sebelumnya tunduk menghadap-Nya, juga yang disibukkan — bukan dengan kesibukan bersama Rabb-nya.

Lebih parah dari hal itu adalah, ketika kepedihannya tidak semakin bertambah padahal Allah telah menarik kemuliaan-kemuliaannya dan menjatuhkan sanksi dengan lebih menjauhkannya [dari Diri-Nya], karena kemurkaan-Nya dan jatuhnya derajatnya di mata-Nya.

Sungguh sangat mengejutkan, bagi orang yang berada dalam posisi spiritual (manzilah) seperti ini! Kita berlindung kepada Allah dari timpaan sanksi-sanksi-Nya dan memohon kepada-Nya agar dipindahkan pada posisi yang diridhai-Nya dan disenangi-Nya, melalui tobat yang dapat menyucikan kita dan setiap yang tidak diinginkan, dan menghadap kepada-Nya, dengan berpaling dari kesibukan dunia dan para penghuninya. Kita memohon kepada-Nya juga agar hal itu segera terjadi.

Akan tetapi kesedihan dan kepedihan terlanjur tenjadi, dan jiwa telah berpaling.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.