Menyampaikan Islam yang indah dan Damai

Nanang Qosim Yusuf, 28 th – Master Trainer Muda Berbakat
Meski kosa kata sufisme atau tasawuf tidak dikenal di periode awal Islam, namun jalan Sufi sudah diajarkan Nabi Muhammad Saw kepada para sahabat sebagai sarana guna

Harus dibaca juga..

mencapai kebenaran dan menggapai kedekatan kepada Allah ‘Azza Wajalla. Betapa Nabi Agung itu ditengah gairah membangun masyarakat yang berperadaban, kepada para sahabat, tak ketinggalan memberi teladan dan menganjurkan mereka untuk zuhud, wara’, ridha, dzikir dan lain sebagainya yang pada perkembangan Islam berikutnya, terutama di-era tabi’ittabi’iin menjadi popular dan “trade mark” bagi para Sufi, para penempuh jalan spiritual.

Sebut saja misalnya, wara’ . Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. mengatakan, “Kami dahulu selalu meninggalkan tujuhpuluh perkara yang termasuk ke dalam hal-hal yang dihalalkan, karena khawatir terjerumus ke dalam satu hal yang haram.”

Surat yang ditujukan Umar bin Khaththab kepada Abu Musa al-Asy’ary membuktikan betapa ridha sudah menjadi bagian dari kehidupan Islam generasi pertama. “Ammaa ba’du… Bahwa segala kebaikan terletak di dalam keridhaan. Maka jika engkau mampu, jadilah orang ridha; jika tidak mampu, jadilah orang yang sabar,” begitu tulis putera Khaththab.

Sayyidina Ali KW ketika menjelaskan zuhud, sahabat yang sekaligus sepupu Rasulullah Saw ini menautkannya pada dua kalimat dalam al-Quran Al-Hadiid (QS:57) ayat 23: “Supaya kamu tidak bersedih karena apa yang lepas dari tanganmu dan tidak bangga dengan apa yang diberikan kepadamu,” (QS. Al-Hadid (57):23).

Ibnu Khaldun pernah mengungkapkan bahwa tasawuf sebagai jalan untuk meraih kebenaran dan hidayah merupakan perilaku moral serta penerapan realitas pada ruh syari’at dan adab-adabnya telah dijumpai dan dikenal di kalangan generasi salaf seperti para sahabat nabi, para taabi’iin, dan taabi’ittabi’iin.

Begitulah tasawuf menjadi media edukasi Islam terhadap individu dan masyarakat yang tercermin di dalam kehidupan Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya serta para murid mereka dari generasi taabi’iin. Tasawuf dalam pendidikan Islam telah menjadi semacam objek kebaikan yang berkelindan seperti yang dilansir Nabi Saw dalam hadits shahihnya, “Sebaik-baik zaman adalah zaman dimana aku hidup, kemudian zaman orang-orang setelahku, dan kemudian zaman orang-orang yang mengikuti mereka.”

“……zaman orang-orang yang mengikuti mereka” itulah yang kemudian diterjemahkan oleh Nanang Qosim yusuf sebagai Zaman Kebijaksanaan ditengah kehidupan masyarakat moderen yang mengalami dis-orientasi dan mengidap sejenis penyakit jiwa split personality. Hadits Rasulullah itu juga yang meng-ilham-i nya untuk menulis sebuah buku The 7 Awareness.

Lantas, apa yang menarik dari Naqoy, begitu Nanang Qosim Yusuf biasa disapa, dan buku The 7 Awareness nya itu ?

Yang menarik dari Naqoy, meski ia terlahir dari keluarga yang secara materi sangat berkekurangan namun keluarga dan kedua orang tuanya (yang buruh tani) telah mengajarkannya bagaimana belajar memahami kehidupan; mencoba menjadi manusia seutuhnya; menjadi hamba Tuhan dengan penuh keikhlasan.

Pesantren tempatnya melanjutkan study selepas SD, merupakan pondok pesantren salafiyah yang masih menggunakan sistem pendidikan konvensional (sorogan dan bandongan), disamping Naqoy belajar ilmu fiqh dan tasawuf, dipesantren yang telah berusia ratusan tahun itu ia akrab dengan ritual-ritual tarekat. [pagebreak] Ketika mengambil gelar sarjana S1 di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, karena keterbatasan finansial, ia tak mampu ngekost seperti layaknya mahasiswa rantau. Ia tinggal di masjid Fatahillah yang letaknya tidak jauh dari kampus dan Naqoy menjadi merbot, cleaning service, (setelah gagal menjadi kandidat muadzdzin) disana. Meski demikian, di masjid itu ia banyak mendapat bimbingan dari Prof. DR. Nazarudin Umar, seorang intelektual yang penguasaannya terhadap tasawuf dan Dunia Sufi telah mendapat pengakuan dari berbagai kalangan. Malah dikemudian hari, Naqoy bersama Prof. DR. Nazarudin Umar membangun lembaga ICNIS, sejenis lembaga kajian psikologi dan ke-islaman yang pesertanya dari berbagai lapisan masyarakat dan beragam agama dan keyakinan.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.