SERIAL JACK&SUFI: MENGGEMBALA DOMBA

Tiba-tiba datang masa Pandemi di negeri ini, masa karantina, dan masa penuh kecemasan , ketakutan dan kegelisahan. Suara telpon bordering atau suara tut HP, hampir menjadi “wirid” public. Sebuah era penuh dengan Autis Gadget jadi rutinitas yang luar biasa.

Harus dibaca juga..

Di sudut rumah-rumah perkotaan, hingga pelosok desa, suara-suara berbauran antara tawa, tangis, dan bahkan suasana membisu yang berkecamuk. Globalisasi, selangkah lagi kuburan. Gelap, mencekam dan mencemaskan masa depan kemanusiaan? Siapa yang bertanggungjawab atas kehancuran bumi dan pertumpahan darah kelak?.

Jack, sudah lama tidak keluyuran di remang-remang Jakarta. Ia banyak diprotes oleh followernya, karena menghilang tanpa rimba. Sesekali ia muncul di perkantoran, sesekali ia memasuki lorong-lorong papa di sudut-sudut pinggiran, sekadar menyapa orang-orang yang terpinggirkan oleh kenyataan Ibu Kota. Para Fuqara’ dan Masakin. .

“Apa kamu sudah menikmati aroma duniawi Jack, sampai kamu terpendam oleh kuburmu sendiri?” bunyi tulisan WA.

“Apa artinya aroma wewangian, jika tanpa aroma busuk yang menusuk? Manusia yang menikmati romantisme di sekitarnya, hanyalah tipudaya!”

Itu jawaban Jack pada sahabatnya yang jauh, yang mengolok-olok Jack, sejak ia menghilang dari peredaran.

“Hahaha… Rupanya kamu masih Jack juga…Bro, Aku yang ganti tersindir nih. Pasca Pandemi kita harus ketemu. Tapi dimana Bung? Rimbamu semakin senyap, tidak jelas.”

“Ada…tenang saja..”

Sahabatnya si Jon, sejak berpisah dengan Jack, menjadi Ustadz terkenal. Massanya ribuan. Namanya muncul di media massa cetak dan elektronik. Ia menjadi Ustadz yang nyentrik, karena dia mantan preman yang bertobat di depan Jack, dan mendalami agama pada seorang Kyai. Ia punya pengajian dengan jamaahnya serta keliling kemana-mana sampai ke luar negeri. Ustadz Jon.

Jack memang sudah pindah ke suatu daerah pelosok kampung, dengan doma-dombanya yang lumayan banyak. Sehari-hari ia menggembala domba. Sore hari ia dengan komunitas anak-anak yang belajar Al-Qur’an padanya. Ia mengajar Al-Qur’an anak-anak, yang dulu pernah ia rindukan saat di Ibu Kota. Karena dari usia anak-anak itulah karakter umat dan bangsa ini dibangun. Ia mendidik anak-anak itu dengan sepenuh kasih saying, bahkan setiap kali memandang wajah-wajah mereka, bola mata Jack selalu mengembang. Ia merasakan kesejukan tapi juga keharuan dan jeritan masa depan. Lalu tesss, celah-celah pipinya seperti ada sungai mengalir.

Senyap tiba-tiba. Jack menundukkan kepala, sesekali teringat wajah Jon yang sedang pidato di atas mimbar dengan ribuan massa. Sesekali ia terenyuh, jika sahabatnya itu sampai terjebak oleh massa yang banyak dan keharuman nama. Jack menghela nafas dalam-dalam, tangannya menengadah ke langit. Ia berdoa untuk keselamatan ummat, generasi ummat dan juga untuk si Jon. “Ya… Robb.  Ya..Robb…” hanya itu yang terdengar di sisa doanya. Lalu sunyi.

Saat di Ibu Kota, Jack memang punya komunitas di area yang remang, mulai dari preman, gelandangan, orang-orang di pinggiran rel kereta, hingga tempat hiburan. Ia sempat dekat dengan para tokoh, para pejabat dan para cendekia. Mungkin mereka ada yang masih suka mengingat sosok Jack, mungkin sudah lupa oleh lipatan waktu yang berubah. Apakah mereka dengan senyum di hati yang mengembang atau dalam duka yang meringsut, Jack menyerahkan sepenuh kepada Allah set, sembari terus mendoakan mereka, memohonkan ampunan pada Allah dosa-dosanya.

Ia punya sahabat baru anak-anak kampong, masyarakat kampong, yang tidak tahu sama sekali masa lalunya. Ia pergi ke kampung bukan karena muak dengan Ibu Kota, Jakarta. Ia tidak pernah ingin lari karena setiap saat memandang limbah-limbah negeri ini mengumpul di sana.

Di kampung jauh lebih nyaman, tenteram, jauh dari hingar bingar, dan berbagai keruwetan jiwa-jiwa yang gersang di Ibu Kota. Saat-saat seperti itu, Jack selalu beristighfar, agaria tidak terjebak oleh rasa nyaman di kampong, dan apa yang ada saat ini menjadi pelarian dirinya. Tetapi ia selalu ingat saat mula dia pergi menuju kampung ini.

“Ya Robb, Engkau lebih tahu apa yang kumau…” hanya itu kata-kata yang menghiburnya.

“Apa yang kau mau Jack?” Suara lembut tanpa suara dan rupa.

“Bagaimana aku menegakkan KetuhanMu, jika kehambaanku belum benar…..?”

“Jack, kamu jangan takut dan gelisah. Kemarilah…Tinggalkan dirimu, kemarilah…!” Suara itu terus menggema, merontokkan dadanya, meremuk redamkan tulang-tulang jiwanya.

Jack menjerit sekencang-kencangnya. Suaranya memecahkan malam kelam di Ibu Kota. Malam itu ia gedor seluruh keakuannya, seluruh elemen dan sejumlah rasa yang terkumpul dalam “merasa bisa”. Padahal ia merasa takut jika dirinya bahagia dan gembira, setakut ia ketika mengaduh oleh derita.

Dalam lunglai yang tak berdaya, ia menyelinap di balik malam. Tidak tahu kemana ia harus melangkah. “Semua akan kalah oleh dzikir…” suara itu muncul mirip suara gurunya dulu, bibirnya mulai  mengembang senyum, lalu ia melangkahkan kaki tanpa henti berdzikir. “Tuhan, aku menuju kepadaMu….” Hanya derap langkah yang gagah, dan secercah cahaya di kegelapan malam itu, terus menuntun Jack ke suatu tempat. Gubug reyot di pinggir sawah, dekat lereng bukit.

Tempat favorit Jack saat-saat jenuh di Ibu Kota. Gubug reyot dari bambu di sebuah sawah semi perkebunan, yang dulu pernah ia beli. Mulailah ia bangun pelan-pelan sambil bertani sayur mayur dan beternak domba. Anak-anak muda kampung diajak kongkow diskusi apa saja tentang kehidupan dan masa depan mereka. Kadang mereka sebagian ikut bekerja di pertaian dan peternakannya. Dan ia lebih suka dipanggil Kang Jack di kalangan anak-anak muda disana.

“Hidup ini harus realistis, tapi kreatif. Jangan banyak berkhayal dan melamun. Seluruh manusia hebat di muka bumi ini tumbuh oleh Istiqomah!”

Kalimat itu selalu mengema di hati kalangan anak-anak muda di sana.

Jack juga sangat akrab dengan masyarakat di kampung itu,  terutama anak-anak kecilnya. Awalnya ia bikin komunitas dongeng, lalu berkembang jadi TPQ di sebuah Musholla kayu yang dibangun. Saat mulai mengajar, anak-anak sangat bahagia dengan kehadirannya. Toh, Ia tetap tidak mau dipanggil Pak Ustadz, tapi panggil saja Bang Jack.

Jika tengah malam tiba, Jack menyendiri, berlatih membelah kegelapan dengan pedang cahaya tafakkur. Satu persatu ia lepaskan seluruh apa saja yang menempel di hatinya, apakah itu ilmu pengetahuan, amaliyah, bahkan ketersingkapan demi ketersingkapan ruhani yang pernaih dilimpahkan padanya. Sampai pada satu titik, ia merasa sendiri, tanpa siapa-siapa, tanpa ada makhluk lain, tanpa syurga dan neraka, tanpa langit dan bumi, makhluk-makhluk lainnya, tanpa ilmu, tanpa amal, tanpa status, tanpa “aku”. Ia rasakan makhluk Allah hanya dia sendiri. Dan hanya Allah yang dituju, dipandang hingga sampai ia tidak melihat lagi dirinya. Karena dirinya juga makhluk, dan makhluk itu asalnya tidak ada. Ada karena diadakan. Maka yang berhak ada, hanyalah Yang Maha Ada. Tahap inilah yang disebut dengan fana’ dan tersembunyi di dalam ekspressi Kemahasucian Allah, hingga hanya ada Subhanallah Subhaanallah Subhanallah.

“Tanpa pertolonganMu, Oh Tuhan, aku tak akan menyadari ketiadaanku ini. Maka Tolonglah Tuhan, agar ketiadaanku ini menegakkan Ke-Ada-an AbadiMu…Keagungan, Kebesaran dan KeindahanMu…” bisik Jack penuh lirih.

Malam sudah sepertiga waktunya yang teraklhir. Allah Turun menghampirinya. Semakin tenggelam, Siapa yang Dipandang dan Siapa yang Memandang.

Malam berganti malam. Siang berganti siang. Jack terus bermunajat, agar setiap memasuki malam, tetap ada siang di hatinya. Tetapi ketika memasuki siang, agar tidak ada malam di hatinya.

Jack sedang belajar lagi. Suluk kehidupan yang sesungguhnya sedang ia jalani kembali, seperti dulu, saat khalwat di Pesantren Sufi. Tapi kini ia jalani Khalwat dalam Keramaian, untuk meluluskan Khalwat dalam hingar binger Ibu Kota.

Ketika ia membuka TPQ dan ikut bermain dengan anak-anak, ia yakini, semua anak-anak, dan siapa pun adalah Gurunya. Ia hayati betul itu, agar setiap sosok dari mereka memantulkan pelajaran spiritual dalam jiwanya. Bahkan pada binatang, domba-domba dan burung-burung, pada awan, angin, api dan gemricik air. Ia belajar bagaimana mereka semua tidak pernah berhenti bertasbih kepada Allah swt.

Sore itu ia memasukkan domka-dombanya ke kandang. Sekian lama ia pelajari satu persatu karakter dan watak dombanya. Rupanya ada domba yang patuh, ada yang nakal, ada yang radikal, ekstrim, ada pula yang provokatif, dan ada juga diantara domba yang hobinya hanya mengejar betina. Suatu ketika ia ingin menggembala kuda dan hariamu. Pasti butuh kesabaran ekstra dan kelembutan jiwa.

Senja hampir temaram. Angin pegunungan mulai menusuk. Jack tersenyum simpul sembari bersyukur atas Pendidikan Ilahi yang diberikan pada hari ini.

M. LUQMAN HAKIM

Next Post

Comments 1

  1. abdul wahab says:

    Subhanalloh…memberi semangat untuk terus mengabdi padaNya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.