Manusia Ihsan dan Esensi Ke khalifahan

DR. NURSAMAD KAMBA
Tujuan penciptaan manusia dijelaskan sendiri oleh Allah dalam QS al-Tur: 56 (tiadalah Aku menciptakan manusia dan jin kecuali untuk beribadah kepada-Ku).

Harus dibaca juga..

Beribadah pada dasarnya bukan sekedar ritual-ritual yang diwajibkan maupun yang disunnahkan melainkan penghambaan diri secara total kepada Tuhan. Makna penghambaan diri tersebut tiada lain adalah kepatuhan, ketertundukan, dan kepasrahan kepada kehendak Tuhan. Yaitu Kehendak Tuhan dari menciptakan manusia sebagaimana dijelaskan OIeh-Nya dalam QS. al-Baqarah: 30 dalam konteks uraian kisah penciptaan manusia, yakni menjadi khalifah. Dalam dialog antara Allah dan para malaikat tentang sosok yang akan menjadi khalifah, dapat dipahami bahwa para malaikat pada umumnya underestimate dengan sang khalifah sementara Allah mengunggulkannya. Cara pandang Allah berbeda memang dengan cara pandang para malaikat. Allah memandang manusia sebagai Tiupan Roh dari-Nya dan karena itu memiliki kemampuan untuk memperoleh ajaran asma kullaha (QS. al-Baqarah: 31). Sedangkan pandangan para malikat hanya berdasar pada bentuk fisik.

Barangkali, Allah bermaksud dengan kisah dialogis bersama para malaikat untuk menjelaskan sisi keunggulan sang khalifah pada rohnya bukan pada fisiknya sebagaimana sabda Nabi dengan tegas: “sesungguhnya Allah tidak memandang kepada penampilan dan harta kalian tetapi memandang kepada hati dan amalmu.” HR. Bukhari-Muslim; sabdanya yang lain “sesungguhnya Allah tidak memandang kepada tubuh dan penampilan kalian tetapi memandang kepada hatimu.” HR. Muslim. Mengapa demikian, karena fisik memiliki keterbatasan organik yang hanya mampu berinteraksi dengan dunia materi, sedangkan Allah immateril. Lebih dari itu membiarkan manusia terkungkung oleh materi dan menjauh dari Allah akan menjerumuskannya kepada kebinasaan dan kepunahan.

Meski manusia cenderung kepada materi, hasratnya kepada keabadian melekat dalam dirinya. Di sinilah pentingnya pembimbingan bagi manusia agar tidak salah memilih jalan menuju keabadaian. Allah, dengan segala Rahman-RahimNya memberikan pembimbingan kepada manusia agar tidak salah memilih jalan keabadian, Seperti yang ‘diperagakan’ Adam dan Hawa di Surga, Allah telah memperingatkan mereka agar tidak memakan buah khuldi. Namun mereka tergoda bukan karena buahnya melainkan keabadian yang dijanjikan, tatkala sang lblls berhasil meyakinkan mereka bahwa keabadian adalah dengan memakan buah terlarang. Dengan demikian, kisah penciptaan dalam al-Quran dimaksudkan untuk menjelaskan dua hal; pertama sisi keunggulan manusia pada spiritualitasnya, dan kedua, sisi kelemahannya pada fisiknya. Memang roh dan fisik menyatu dalam diri manusia. Memisahkannya berarti kematian. Meski demikian manusia tetap sebagai makhluk spiritual tak ubahnya dengan perikeadaan dan kondisi al-Qur’an yang terlihat sehagai mushaf dalam bentuk fisiknya, namun esensinya adalah kalamullah, Firman Allah yang bercitra spiritual.

Penekanan pada aspek spiritualitas manusia amat penting, karena untuk menunaikan tugas kekhalifahannya manusia memerlukan koneksitas yang berkesinambungan dengan Allah Sang Sumber Cahaya dan Sumber Segala Kebaikan. Setiap kali manusia mengalami diskoneksi dengan Allah maka ia akan selalu terancam kepunahan dan kebinasaan. Terbukti pada diri Adam dan Hawa ketika beralih perhatian terhadap janji keabadaian dan Iblis, Allah kemudian menurunkan mereka dari Surga. Berkali-kali Allah niengingatkan anak cucu Adam agar terhindar dari nasib yang pernah menimpa moyang mereka, yakni kemungkinan tertipu oleh janji-janji palsu Iblis melalui godaan-godaan yang menjerumuskan: yaitu godaan-godaan mendesak untuk memenuhi kebutuhan nafsu ammarah atau nafsu tirani.

Nabi Muhammad bahkan sebelum resmi menerima wahyu dan sebelum dinobatkan menjadi nabi selanjutnya rasul, sangat memahami esensi manusia sebagai makhluk spiritual. Lihatlah, betapa geluruh hidupnya dipenuhi fenomena-fenomena spiritual. Dari semenjak dalam kandungan, ayahnya sudah wafat. Semenjak kecil sudah yatim piatu, tetapi beliau tumbuh menjadi remaja dengan kepribadian yang amat mandiri. Ini tentu karena kesadaran spiritualnya sudah tumbuh sejak dini, Beliau sukses membangun karirnya sebagai pengusaha muda yang cepat mapan juga karena kecederungan spiritualnya. Berbagai riwayat menguraikan dan menjelaskan peristiwa simbolis yang sungguh amat bermakna bagi terbentuknya kepribadian beliau yang amanah, jujur, dan profesional. Diriwayatkan dalam suatu hadis shahih bahwa tatkala Muhammad berusia sekitar 10 tahun lebih dua malaikat datang membedah dadanya dan membersihkannya dari penyakit hasad, dengki, dan curang selanjutnya diisi dengan sifat-sifat hiim (kebesaran hati, kelapangan dada), respektif, dan fleksibel.

Ini adalah ajaran utama Muhammad yang bersifat universal. Seseorang yang ingin berhasil dalam hidup dan karirnya harus membersihkan diri dari hasad dan curang. Di sini pula rahasianya mengapa Muhammad sebelum menjadi nabi memiliki profesi pedagang dan pengusaha karena dalam dagang orang akan teruji apakah mampu membuktikan kesuciannya dari hasad dan curang. Apalagi dengan memiliki sifat-sifat kelapangan dada, keterbukaan, respektif, dan fleksibel merupakan kunci-kunci sukses yang diajarkan oleh Muhammad secara pribadi.

Penafsiran atas peristiwa bedah dada Muhammad seperti ini didasarkan kepada pandangan lbnu Katsier dalam tafsirnya atas ayat-ayat QS. al-Insyirah. Menurut lbnu Katsier, bedah dada yang dialami Muhammad bersifat mental. Namun tidak tertutup kemungkinan untuk memahaminya secara fisik. Tapi penafsiran yang bersifat mental lebih relevan mengingat status Muhammad pada masa terjadinya peristiwa tersebut masih manusia biasa. Maka dapat dipahami bahwa ajaran pembersihan diri dari hasad dan curang selanjutnya memiliki sifat-sifat keterbukaan, respektif, dan fleksibel adalah ajaran khas beliau yang merupakan ijtihadnya sendiri dalam rengka membangun karir dan hidupnya.

Semua ini menunjukkan satu hal bahwa Muhammad yang kelak akan terpilih oleh Allah utuk menerima wahyu dari-Nya sejak dini sudah menyadari pentingnya spiritualitas dan menegaskan hakekat manusia sebagai makhluk spiritual. Untuk penegasan ini, yakni manusia sebagai makhluk spiritual dilakukan oleh beliau melalui kegiatan tahannuts, yakni berkhalwat sambil berderma atau melakukan bakti sosial. Kelak, hubungan antara tahannuts dan pencapaian tingkat spiritual yang tinggi dicontohkan oleh beliau adalah peristiwa isra’ mi’raj. Hakekat dari pada isra’ mi’raj adalah melakukan pendakian menuju Tuhan dan setelah sampai kepada Tuhan kembali lagi kepada dunia manusia untuk menyebarkan kebaikan. Kembali kepada dunia manusia dengan citra Sifat-Sifat Asma al-Husna. ltulah sebabnya mengapa ada sabda Nabi “Sho1at adalah mi’rajnya orang beriman.” Karena dengan sholat seseorang sampai kepada Tuhan dan menyatu dengan-Nya (aqim al shalaata lidzikri. QS. Thahaa: 14) tapi kemudian dari sholatnya itu tercegah dari kemungkaran dan perbuatan-perbuatan keji; orang yang sholatnya efektif akan menjadi sumber kebaikan bagi yang lain. Ajaran lain yang tersimpul dalam tahannuts nabi adalah bahwa perbuatan baik tidak sempurna dan optimal kecuali dengan merawat spiritualitas.

Tugas dan Fungsi Kekhalifahan:

1. Menjadi Manusia Kebanggaan Allah.

Dari kisah penciptaan manusia dan dialog Allah-Malaikat tentang sosok sang khalifah sesuai dengan QS. al-Baqarah: 30-37, dipahami bahwa para malaikat begitu skeptis terhadap sosok khalifah yang menurut mereka hanya akan menciptakan kerusakan dan pertumpahan darah di bumi. Sebaliknya, Allah malah menegaskan ke-Maha Mengetahuinya atas segala sesuatu. Allah kemudian mengajarkan Adam asma semuanya dan dipamerkannya di hadapan para malaikat. Lalu mereka disuruhnya sujud sobagai apresiasi kepada Adam. 

Keseluruhan uraian al-Qur’an tentang dialog Allah dan para malaikat menegaskan dua hal: pertama, keunggulan khalifah terletak pada koneksitasnya kepada Allah dan memperoleh pengajaran asma dari Allah; kedua, kebinasaan sang khalifah tatkala salah memilih jalan keabadaian dengan tunduk kepada godaan selain Allah, dalam hal ini direpresentasikan oleh Iblis.

Akankah manusia sang khalifah berhasil membuktikan kepada para malaikat bahwa skeptis mereka, bahkan tuduhan menciptakan kerusakan dan pertumpahan darah di bumi adalah keliru sebagaimana yang menjadi harapan Allah? Ataukah akan mengalami kegagalan dan terjerumus ke dalam jalan sesat yang tidak menghantarkannya kembali kepada Allah? ltulah perjuangán panjang manusia di muka bumi. Dalam perjalanan itu Allah memberikan bantuan dalam tiga bentuk:

Bisikan ilahi.
Menurunkan Wahyu Tertulis.
Mengutus Nabi/Rasul.

Dengan ketiga bantuan (ma’unah) tersebut, menurut Allah dalam QS. an-Nisa: 165, manusia tidak lagi memiliki alasan untuk mengecewakan Allah di hadapan para malaikat. Sebagaimana yang dicontohkan oleh para wali, orang-orang suci dan para kekasih Allah. Mereka dengan keberhasilan mengikuti petunjuk-petunjuk Allah dalam tiga bentuk tersebut menjadi sumber pencerahan bagi umatnya. Mereka menjadi sumber kebaikan kepada sesama. Mereka menjadi khalifah yang sanggup mengemban amanah bagi kehidupan di bumi. Sebagaimana ditegaskan Allah dalam QS. Al-Ahzab: 72, bahwa amanah tersebut telah ditawarkan kepada para langit dan bumi, tetapi mereka menolak dan kemudian diterima oleh manusia. Dan sesungguhnya amanah yang dimaksudkan tiada lain kecuali memelihara, memajukan dan memakmurkan kehidupan di dunia. Ini tugas utama khalifah agar menjadi counter terhadap sikap skeptis para malaikat bahwa manusia hanya akan menciptakan pertumpahan darah dan kerusakan di bumi.

Di sini terdapat korelasi antara manusia sebagai makhluk spiritual dengan tugas dan fungsi kekhalifahannya memelihara, memajukan dan memakmurkan kehidupan di dunia. Jelas sekali bahwa peradaban manusia sesungguhnya bukanlah peradaban materialisme, melainkan peradaban spiritualisme. Peradaban materialisme sesungguhnya telah meminjam salah satu fungsi utama spiritualitas, yakni akal manusia. Tetapi berhenti pada satu taraf dan merasa cukup dengan itu, yaitu taraf berpikir saja. Menurut al-Muhasibi, akal adalah satu-satunya karunia ilahi yang paling berharga bagi manusia. Karena akal manusia dapat mengerti dirinya dan orang lain. Karena akal manusia dapat mengenali tanda-tanda dan jejak Allah, selanjutnya mengenaliNya. Bahkan, dengan akal manusia dapat menyatu dengan cahaya Allah atau bahkan menyatu ddngan Allah endiri.

Untuk taraf-taraf fungsi akal tersebut terdapat penggunaan istilah al-Qur’an yang berbeda satu sama lain; misalnya untuk taraf mengenali jejak dan tanda-tanda kebesaran Allah disebut akal; untuk taraf menangkap Cahaya Allah disebut al-Shadr; untuk merasakan hadirnya Allah disebut al-Qalb; untuk merasakan kebersatuan dengan Cahaya Allah disebut Fuad; Untuk hanyut dalam Allah disebut lubb. Korelasi antara manusia sebagai makhluk spiritual dengan tugas dan fungsi kekhalifahan untuk menjalankan amanah memelihara, memajukan dan memakurkan kehidupan dapat dicapai dengan mengefekifkan atau meningkatkan taraf fungsi akal menjadi lubb. Walhasil, seseorang menjadi khalifah jika sudah mampu mencapai taraf kebersatuan dengan Allah. Tetapi taraf kebersatuan dengan Allah pada titik ini tidak hanya pada aspek kognitif, tetapi juga terutama pada aspek penerapannya. Dengan kata lain yang lebih praktis seseorang dapat disebut mencapai taraf spiritual yang tinggi jika sudah mempraktekkan esensi mi’raj, yakni kembali kepada dunia manusia dengan berbekal Sifat-Sifat ilahiyah antara lain; berbuat tanpa pamrih, mencintai khidmah kepada yang lain, suka mengorbankan diri untuk kepentingan orang lain, sangat peduli terhadap orang-orang yang dianjurkan oleh Allah untuk dibantu dan dikasihani. Dengan demikian, maka indikator pencapaian spiritual yang tertinggi adalah ketulusan dalam niat dan perbuatan, kecintaan dan kepedulian terhadap sesama, dan semangat yang tak pernah padam untuk menjadi sumber kebaikan.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.