Manusia Holistik

Harus dibaca juga..

Paduan Psikologi Humanistik dan Tasawuf
Oleh  Rani Anggraeni Dewi, MA
Sudah menjadi jamak, bahwa antara Psikologi Humanistik dan Tasawuf sama-sama membincangkan “unsur dalam” manusia yang menjadi hakikat eksistensi diri. Drive, karakter dan locus spiritual  juga menjadi disiplin kajian keduanya. Meski demikian, satu hal yang tak terbantah, tasawuf tidak sekedar “meraba” sisi luar dan agak dalam diri manusia. Sebagai misal, jika dalam psikologi humanistik pengembangan pribadi untuk menjadi self actualized people  ditandai dengan perilaku yang baik dan lurus serta memiliki pengalaman peak experience. Tidak demikian dengan tasawuf, dalam tasawuf untuk menjadi pribadi insan kamil dicirikan tidak saja memiliki pengalaman trasendental dan akhlak terpuji tetapi juga mencerminkan akhlak citra ilahi.

Benar kedua pandangan diatas sama-sama menganggap pengembangan pribadi merupakan tujuan fundamental, akan tetapi psikologi humanistik tertuju pada pengembangan pribadi, pada potensi yang didasari oleh kebutuhan dasar hierarkis. Sebaliknya, ilmu tasawuf menembus potensi batiniah. Pendek kata, pengembangan pribadi pada psikologi humanistik sebatas dimensi eksoteris, sementar ilmu tasawuf
penekanannya pada dimensi esoteris.

Fakta inikah yang kemudian membuat Maslow sebelum wafatnya (ujug-ujug) mencantumkan satu kebutuhan dasar manusia lagi yang di-istilahinya dengan transpersonal  ? Wallaahua’lam !  Yang pasti Rani memiliki jawaban pertanyaan yang sedikit “menggelitik” itu. Malah dengan tegas Rani menilai bahwa Psikolgi Humanistik, tak ubahnya seperti ilmu psikologi moderen lainnya, telah gagal “mengawal” masyarakat moderen kepada kehidupan yang lebih “fresh” dan “soft”.

Meski demikian, ibarat dalam sebuah kelompok orkestra, Rani bak seorang dirigen yang
mengorkestrasikan agar sebuah tampilan berpadu-padan, selaras, apik terlihat mata dan nyaman diterima mati. Rani mampu mempertemukan “titik pandang” psikologi dengan tasawuf dalam mengatasi problem kejiwaan manusia moderen. “Kekurang mampuan psikologi dalam menjawab persoalan hidup inilah yang
menyebabkan saya berpikir akan perlunya metode pengembangan pribadi yang holisitik, demi melahirkan sosok pribadi humanis yang sufistik.

Maslow memperkenalkan dengan istilah transpersonal yang diidentikkannya dengan realisasi akan kebutuhan transendensi diri. Dan sebenarnya di antara kebutuhan akan aktualisasi diri, sebenarnya terdapat meta-kebutuhan (meta-needs) yang diistilahkan sebagai kebutuhan akan kebermaknaan, kebutuhan luhur nilai-nilai insaniah (being valued), seperti kebutuhan memiliki kesempurnaan, keindahan, keunikan,kebenaran atau kebahagiaan. Masih berkaitan dengan pemenuhan jenjang kebutuhan, Maslow bertutur:”…As you move up trough the hierarchy, the needs are also more distinctly human and less animalistic”. Pribadi yang ter-aktualisasi oleh Maslow dilukiskan: “Pribadi yang teraktualisasi sebagai seseorang yang menggunakan dan
memanfaatkan secara penuh bakat, kapasitas, dan potensi”.

Orang-orang yang dapat mengaktualisasikan dirinya itu merasa sukses dan mencapai kepuasan. Mereka dapat meraih kebahagiaan yang hakiki dibandingkan orang yang tidak mengalami aktualisasi diri. Pada umumnya Orang-orang yang dapat meng-aktualisasikan diri nya bercirikan jujur, menjadi dirinya sendiri, tepat dalam mengekspresikan pikiran dan emosi-emosinya, melihat hidup dengan jernih, berusaha mencari dan menghadapi emosi dari pada menghindari, dan memiliki kemampuan jauh diatas rata-rata.

Rendah hati, kreatif dan ekspresif, memiliki kadar konflik yang rendah baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain, membaktikan hidupnya pada pekerjaan-pekerjaan dan kewajiban-kewajiban dengan penuh kegembiraan. Bahkan ia mampu melihat realitas tersembunyi, lebih sedikit memiliki kecemasan atau ketakutan dan pesimisme, berani membuat kesalahan, mampu menyesuaikan diri dalam perubahan, dan mengalami “peak experience”,  yakni, “Something that tends to take you outside your self, you are not thinking about your self but rather are experiencing whatever you’re experiencing as fully as possible”.

Bukankah setiap orang memiliki potensi untuk mencapai aktualisasi diri ?  Ya. Benar, sebab hal ini merupakan kebutuhanintrinsic manusia, namun umumnya orang sulit mencapai tingkat  aktualisasi diri, bahkan kebutuhan akan berprestasi sekali pun tidak. Sebagian orang sulit menyadari akan kebutuhan hakikat dirinya. Padahal manusia memiliki kapasitas untuk tumbuh.

Sayangnya, hasil penelitian menunjukkan hanya sebagian kecil persentasi orang yang mampu mendekati realisasi penuh atas kemampuan-kemampuan mereka. Kenapa orang sulit mencapai tingkat aktualisasi diri ? Untuk konteks kekinian dan kedisinian, penyebab utamanya adalah mindsite materialisme yang sudah membanjiri  kepala banyak orang.

Padahal dalam proses pengembangan pribadi, aktualisasi diri dilakukan tanpa melibatkan kepentingan pribadi yang sifatnya “untung-rugi”, tetapi dilaksanakan dengan penuh
tanggung jawab dan ketulusan. Tujuan aktualisasi dalam proses pengembangan pribadi semata-mata untuk mencapai kebutuhan being values, antara lain, untuk meraih kebahagiaan, penuh makna, dan kesempurnaan.

Aktualisasi diri juga diarahkan untuk melakukan perbaikan dalam sikap dan perilaku dengan cara membaktikan hidupnya pada pekerjaan dan kewajiban yang didasarkan pada panggilan hati nurani (innervoice) dengan sikap bersungguh-sungguh. Jika ia seorang guru, pasti ia menjadi guru yang baik, bukan sembarang guru. Jika ia seorang mahasiswa, pasti ia menjadi mahasiswa yang baik, bukan sembarang
mahasiswa. Jika ia seorang karyawan, pasti ia menjadi karyawan yang baik, bukan sembarang karyawan, dan
seterusnya dan sebagainya. Nah, ini menuntut kerja keras, disiplin, latihan dan tidak jarang perlu menunda kenikmatan.

Mereka benar-benar mandiri dan sungguh-sungguh dalam menentukan apa yang menjadi kehendaknya.
Perbuatan-perbuatan mereka benar-benar berdasarkan hati nurani, bukan karena orang lain, atau prestise. Sikap seperti ini dalam proses pengembangan pribadi akan membawa individu pada aktualisasi diri yang salah satu cirinya mengalami pengalaman puncak atau “peak experience”.Begitulah kenyataannya.

Wilcox menyebutkan, salah satu ciri dari orang yang beraktualisasi diri adalah pribadi yang memiliki pengalaman puncak atau pengalaman mistik. Bagi Maslow, peristiwa peak experience akan membuahkan perubahan yang sehat dalam memandang diri sendiri dan orang lain. Peak experience merupakan
ungkapan subjektif di mana seseorang mengalami perasaan kagum yang besar atas terbukanya pandangan yang terbatas.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT
agen slot onlineAplikasi Capsa Susun onlineDaftar Bandar Ceme Onlineion casinoBaccarat Onlineion casinoBaccarat Onlinedaftar situs judi slot online terpercayaBandar Togelsbobet casinoSabung Ayamhttps://run3-game.net/https://www.foreverlivingproduct.info/https://rodina.tv/Bandar Sakong OnlineAgen Slotndomino99newmacau88ndomino99fifaslot88newmacau88newmacau88Live Casinocapsa susunhttps://daftardadu.online/