Makna Ayat-Ayat dan Karomah

Syeikh Abu Nashr As-Sarraj
SYEKH Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— berkata: Dikisahkan dan Sahl bin Abdullah —rahimahullah— yang mengatakan. “Ayat-ayat (tanda-tanda) itu milik Allah, mukjizat untuk para nabi. Sedangkan karamah (kemuliaan) untuk para wali dan orang-orang muslim pilihan.”

Dikisahkan dan Sahl bin Abdullah —rahimahullah— yang mengatakan, “Barangsiapa mampu berzuhud dalam masalah dunia selama empat puluh hari dengan Jujur dan ikhlas maka akan muncul padanya karamah dari Allah. Jika tidak muncul karamah maka hal itu karena dalam ia berzuhud tidak secara jujur dan ikhlas.”

Ditanyakan kepada Sahl bin Abdullah tentang apa yang dikatakan ini, “Bagaimana demikian?” Maka ia menjawab, “Dia mengambil apa yang dikehendaki dan sisi manapun yang dikehendaki-Nya pula.”

Dan al-Junaid —rahimahullah—berkata, “Orang yang membicarakan tentang karamah, sementara ia sendiri tidak memiliki sedikit pun karamah yang dibicarakannya maka perumpamaannya adalah seperti orang yang mengunyah jerami.”

Saya mendengar Ibnu Salim mengatakan, “Iman itu ada empat sendi (rukun): (1) Iman dengan takdir; (2) Iman dengan Kekuasaan Allah (Qudrah); (3) Membersihkan diri dari segala daya dan kekuatan (dari dirinya); (4) Memohon pertolongan kepada Allah Swt. dalam segala sesuatu.”

Saya juga mendengar Ibnu Salim yang pernah ditanya, “Apa makna ucapan Anda, iman dengan Kekuasaan Allah (Qudrah)?” Ia menjawab, “Yaitu Anda beriman, sementara hati Anda tidak mengingkari, bahwa Allah memiliki hamba yang berada di Timur, karena kemuliaan (karamah) dan Allah yang diberikan kepadanya dengan memberinya dan Kekuasaan, maka si hamba tadi belum sempat berbalik dari kiri ke kanan —karena sangat cepatnya— ia telah berada di Barat. Artinya Anda beriman dengan kemungkinan tersebut dan itu bisa terjadi.”

Dari Sahl bin Abdullah pernah mengatakan kepada seorang pemuda yang menemaninya, “Jika setelah itu Anda masih takut dengan binatang buas, maka Anda jangan lagi menemaniku,”

Saya bersama rombongan (jamaah) pernah masuk sebuah gedung milik Sahl bin Abdullah di Tustar. Setelah memasuki gedung itu lami masuk djsebuah rumah (kecil) yangorang-orang menyebutnya rumah binatang buas. Kemudian kami menanyakan, mengapa tempat itu disebut demikian. Mereka menjawab, “Biasanya ada binatang-binatang buas datang kepada Sahl bin Abdullah, kemudian ia memasukkannya ke dalam rumah itu dan menerimanya sebagaimana layaknya tamu kemudian memberinya makan dengan daging, lalu melepaskannya kembali.” — Dan hanya Allah Yang Mahatahu benar tidaknya cerita ini. Namun tak seorang pun dari orang-orang saleh di Tustar yang mengingkari kisah tersebut.

Saya mendengar Abu al-Husain al-Bashri bercerita: Di Abadan ada seorang laki-laki fakir berkulit hitam yang bertempat di bawah puing-puing bangunan yang telah roboh. Sementara itu aku membawa sesuatu. Ketika matanya menatapku ia tersenyum dan dengan tangannya ia memberi isyarat ke tanah. Aku lihat tanah yang ia tuding itu, ternyata semuanya berupa emas yang berkilau. Kemudian orang itu berkata padaku, “Berikan padaku apa yang engkau bawa itu.” LaIu kuserahkan padanya apa yang aku bawa, dan lari meninggalkannya. Masalahnya ternyata membuat aku ketakutan.”

Saya mendengar al-Husain bin Ahmad ar-Razi —rahimahullah— berkata: Saya mendengar Abu Sulaiman al-Khawwash bercerita: Pada suatu hari aku pernah menunggang seekor keledai. Rupanya ia diganggu oleh lalat sehingga ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Kupukul kepalanya dengan kayu yang ada di tanganku. Kemudian keledai itu mengangkat kepalanya dan berkata padaku, “Pukullah, karena sesungguhnya engkau yang memukul kepalamu!” Kemudian Abu Abdillah berkata: Saya katakan pada Abu Sulaiman, “Wahai Abu Sulaiman apakah hal itu terjadi pada Anda atau Anda hanya mendengar?” Ia menjawab, “Saya mendengarnya berkata sebagaimana yang Anda dengar dari saya.”

Sayajuga mendengar Ahmad bin ‘Atha’ ar-Rudzabari berkata: Saya memiliki madzhab tertentu dalam masalah bersuci (thaharah). Di suatu malam saya beristinja’ (bersuci sehabis buang air kecil atau besar) —dalam riwayat lain: saya berwudhu— hingga lewat seperempat malam. Namun hatiku tetap gundah dan tidak bisa tenang, lalu saya menangis sembari berdoa, “Wahai Tuhanku! Ampunilah.” Kemudian saya mendengar suara tanpa rupa yang mengatakan, “Wahai Abu Abdillah ampunan itu dalam ilmu (syariat).“

Sementara itu Abu Ja’far al-Khuldi —rahimahullah— memiliki cincin (yang ada batu permatanya). Pada suatu hari ia naik perahu sampan di sungai Tigris. Ketika Ia hendak memberikan bungkusan kepada tukang dayung perahu, ternyata bungkusan itu talinya lepas, sementara cincin itu berada di dalamnya, maka cincin tersebut tercebur ke dalam sungai Tigris. Ia memiliki sebuh doa untuk mencari kembali barang hilang yang sudah diuji keampuhannya (mujarab). Kemudian berdoa dengan doa tersebut, ternyata ia menemukan cincin tersebut di tengah-tengah lembaran yang dibukanya. Doanya adalah sebagai berikut: “Ya Allah, wahai Dzat Yang mengumpulkan manusia di suatu hari yang tidak diragukan lagi kebenarannya (Kiamat), kumpulkanlah barangku yang hilang kepadaku.”

SyekhAbu Nashr as-Sarraj —rahimahullah—berkata: Kemudian Abu Thayyib al-Akki memperlihatkan pada saya satu kitab yang di dalamnya disebutkan barang-barang hilang yang kemudian dikembalikan lagi oleh Allah dalam waktu singkat kepada orang yang berdoa dengan doa ini. Lalu saya melihatnya, ternyata banyak lembaran yang digunakan untuk menulisnya.

Saya mendengar Hamzah bin Abdullah al-’Alawi berkata: Aku pernah mengunjungi Abu al-Khair at-Tinati, dan dalam hati kecilku sudah berjanji (beritikad) —sementara yang tahu hanya aku dengan Allah— hanya akan memberi salam kepadanya kemudian keluar dan tidak makan makanan yang dihidangkannya. Saya masuk dan mengucapkan salam kepadanya kemudian langsung pamit untuk kembali pulang dan saya keluar dari rumahnya. Ketika saya telah menempuh perjalanan yang jauh dari desa itu, tiba-tiba ia sudah berada di depanku dengan membawa makanan sembari berkata, “Wahai anak muda, makanlah makanan ini! Anda telah keluar pada saat yang tepat dengan apa yang Anda janjikan.”

Mereka adalah orang-orang yang terkenal kejujurannya dan kuat dalam beragama. Mereka adalah imam (figur) dalam disiplin masing-masing dan teladan dalam hukum-hukum agama. Umat Islam telah membenarkan dalam hukum-hukum keagamaan mereka dan menerima kesaksian mereka terhadap Rasulullah Saw. pada Hadis dan cerita yang mereka riwayatkan dan nisbatkan kepada Rasulullah Saw. Sehingga tidak seorang pun diperkenankan untuk mendustakan dan berprasangka jelek terhadap cerita-cerita ini dan yang semisal. Jika mereka benar dan jujur dalam satu masalah maka seluruhnya juga akan benar. —Dan semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kita.

ARGUMENTASI TERHADAP ORANG-ORANG YANG TELAH MENGINGKARI KEKARAMAHAN PARA WALI DAN PERBEDAAN ANTARA PARA WALI DENGAN NABI

SYEKH Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— berkata: Orang yang hanya mengkaji kulit luar telah mengatakan, bahwa karamah-karamah (kemuliaan) seperti itu tidak boleh terjadi pada selain para nabi. Karena para nabi-lah yang dikhususkan untuk memilikinya. Sementara ayat, mukjizat dan karamah adalah satu makna. Itu disebut mukjizat karena menjadikan para makhluk tidak mampu melakukannya seperti yang dilakukan para nabi yang memiliki mukjizat. Maka barangsiapa meyakini dan menetapkan hal itu kepada selain para nabi berati telah menyamakan antara mereka dengan para nabi.

Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— memberi jawaban atas pernyataan tersebut: Orang yang mengingkari hal tersebut hanya karena ia khawatir terjadi sikap merendahkan mukjizat para nabi a.s. Sementara itu orang yang berpendapat demikian jelas salah, karena antara para wali dengan para nabi terdapat perbedaan yang sangat mendasar dari beberapa aspek:

Pertama, para nabi diperintah —dan ini dianggap sebagai ibadah— untuk memperlihatkan mukjizat pada makhluk (manusia). Dan sebagai argumentasi terhadap orang yang diajak beriman kepada Allah Swt. Dan apabila menyembunyikan apa yang seharusnya ditampakkan maka mereka telah menyalahi apa yang diperintah Allah, karena menutupi apa yang seharusnya diperlihatkan. Sebaliknya, para wali diperintah untuk menyembunyikan karamah yang ada pada dirinya agar tidak dilihat oleh makhluk. Apabila mereka memperlihatkan pada makhluk untuk mendapatkan kedudukan di mata manusia maka sesungguhnya mereka telah menyalahi perintah Allah dan bermaksiat kepada-Nya dengan memperlihatkan apa yang seharusnya disembunyikan.

Kedua, bahwa para nabi berargumentasi dengan mukjizatnya terhadap orang-orang musyrik, karena hati mereka sangat keras dan tidak beriman kepada Allah. Sedangkan para wali berargumentasi dengan karamah terhadap diri (nafsu) mereka sehingga bisa tenang, yakin, tidak gentar dan tidak gelisah ketika telat tidak ada rezeki. Sebab nafsu selalu memerintah pada kejahatan, selalu ingkar, syirik dan dikodratkan untuk selalu ragu, dimana ia tidak pernah yakin dengan rezeki dan bagian yang telah dijamin oleh Penciptanya.

Saya pernah bertanya kepada Ibnu Salim tentang hal itu, “Apa makna karamah, sedangkan mereka dimuliakan (diberi karamah) hingga bisa meninggalkan dunia dengan pilihannya sendiri? Dan bagaimana mereka diberi kemuliaan (karamah) dengan cara batu bisa menjadi emas. Lalu apa kira-kira alasan untuk hal itu?”

Ibnu Salim menjawab, “Allah tidak memberikan hal itu kepada mereka sesuai dengan kadarnya. Akan tetapi hal itu diberikan kepada mereka untuk dijadikan argumentasi pada diri (nafsu) mereka sendiri ketika sedang goyah dan gelisah karena telatnya rezeki yang dibagikan Allah, sehingga mereka bisa mengatakan kepada dirinya, ‘Dzat Yang bisa mengubah batu menjadi emas untukmu sebagaimana yang kamu lihat, bukankah Dia juga mampu menggiring rezeki untukmu sekiranya kamu tidak mengira dan mana datangnya?’ Dengan demikian mereka menjadikan apa yang terjadi itu sebagai argumentasi atis kegelisahan diri (nafsu) mereka sendiri di saat telat rezekinya dan bisa mematahkan alasan-alasan nafsunya. Dengan demikian, hal itu akan menjadi sarana untuk melatih dan mendidik dirinya (riyadhah).”

Ibnu Salim menceritakan kepada kami suatu kisah yang searti dengan hal di atas, dimana kisah ini berasal dan Sahl bin Abdullah yang menceritakan: Di Basrah ada seorang laki-laki bernama Ishaq bin Ahmad. Ia termasuk pemburu dunia yang kaya raya. Kemudian ia keluar dari segala dunia yang ia miliki dan bertobat. Ia memilih bersahabat dengan Sahl bin Abdullah. Suatu hari ia berkata kepada Sahl, “Wahai Abu Muhammad, sesungguhnya nafsuku tidak bisa lepas dari kegelisahan dan takut kehilangan rezeki dan sarana hidup.” Maka Sahl berkata kepadanya, “Ambillah batu itu dan mintalah kepada Tuhanmu untuk djadikan makanan yang bisa Anda makan.” Kemudian Ishaq bin Ahmad bertanya, “Lalu siapa imamku dalam masalah ini, sehingga aku melakukannya?” Sahl menjawab, “Imam Anda adalah Nabi Ibrahim a.s. dimana ia pernah meminta kepada Tuhannya, ‘Wahai Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati. “Allah berfirman, ‘Belum yakinkah kamu ?‘ Ibrahim menjawab, Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)” (Q.s. al-Baqarah: 260).

Maknanya bahwa, nafsu tidak akan tenang kecuali melihat dengan mata kepala, karena sudah menjadi watak dasar nafsu, ia selalu meragukan hal yang gaib. Makanya Ibrahim berkata, “Perlihatkanlah padaku bagaimana supaya nafsuku bisa tenang. Sesungguhnya aku telah beriman akan hal itu, sementara nafsuku tidak akan bisa tenang kecuali melihat dengan mata kepala.”

Demikian pula yang terjadi pada para wali Allah. Allah perlihatkan pada mereka karamah itu sebagai pelajaran dan pendidikan untuk nafsu mereka, sekaligus untuk tambahan keyakinan mereka. Dengan demikian ada perbedaan yang mendasar antara para wali dengan para nabi a.s. Sebab para nabi diberi mukjizat sebagai argumentasi dalam dakwah mereka dan sebagai bukti atas adanya Allah serta sebagai pengakuan akan keesaan Allah Swt.

Ketiga, bahwa para nabi a.s., semakin banyak mukjizat yang diberikan kepada mereka, maka makna kenabiannya akan semakin sempurna dan semakin memperkokoh hatinya, sebagaimana yang terjadi pada diri Nabi Muhammad Saw. Beliau dikaruniai semua mukjizat yang pernah diberikan kepada para nabi sebelumnya, dan masih ditambah mukjizat-mukjizat lain yang tidak pernah diberikan kepada seorang nabi pun selain beliau, misalnya penstiwa Isra’ dan Mi’raj, terbelahnya bulan, memancarnya air dan celah-celah jari-jemari beliau.

Sementara itu untuk menjelaskan hal ini akan cukup panjang. Akan tetapi maksud kami dari penjelasan ringkas ini bahwa pada nabi a.s. semakin banyak mukjizat yang diberikan maka makna kenabian dan keutamaannya akan semakin sempurna. Sedangkan para wali, ketika karamah mereka semakin bertambah banyak maka rasa takut dan kekhawatirannya akan semakin bertambah. Mereka khawatir bahwa hal itu terjadi hanya merupakan tipu daya tersembunyi dan menjadi sebab jatuhnya kedudukannya di sisi Allah Azza wa-Jalla atau memang menjadi bagiannya dari Allah.

Harus dibaca juga..

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.