Kenapa Bencana Melanda Negara Mayoritas Islam?

Sejumlah surat masuk dalam meja redaksi, dan semuanya bernada serupa. Dan surat-surat itu senantiasa meminta jawaban dan solusi dunia Sufi dalam menyikapi dan menghadapi cobaan dan bencana. alah satu surat ke meja redaksi diharapkan mewakili para pembaca:

Harus dibaca juga..

Assalamu’laikunm wr. wb.
Di Indonesia ini penganut Islamnya terbanyak di dunia tapi mengapa selalu saja dilanda bencana yang tak kunjung henti. Apa karena Islamnya hanya Islam kulit tidak sampai Islam hakikat mohon penjelasan
Wassalamu’laikunm wr. wb.
Windu (pencari1jalan@yahoo.com)

Pertanyaan anda barangkali juga menjadi kegalauan bagi ummat Islam, dengan pertanyaan yang sama. Misteri apa dibalik semua ini?
Pertama: Allah menguji manusia dengan hal-hal yang buruk dan hal-hal yang baik. Untuk mengukur sejauhmana kesalehan tindakannya di dunia sebagai hamba, dan sekaligus apakah seorang hamba lulus menghadapi ujian-ujian itu. Jika lulus ia naik derajat, dan jika tidak, ia terdegradasi.
Kedua: Allah menyeleksi para hambaNya dari semua level dan kalangan. Mulai dari paling awam, paling elit atau pun dari kalangan biasa, pejabat, politisi, pengusaha, ustadz, kyai, ulama, dan tukang becak. Nilai derajat itu ditentukan, apakah sang hamba sabar dan ridlo atau tidak. Bukan dilihat dari – apakah seorang itu semakin sukses dan bangkrut,- bukan itu ukurannya.
Ketiga: Allah ingin mempercantik alam ini, dan tentu saja memasukkannya dalam salon ruhaniyah melalui bencana itu, agar semesta kelak lebih indah dan menyejukkan iman kita.
Keempat: Agar kita semua bosan dan jenuh dengan kepalsuan dunia, dan lebih memilih Allah dan RasulNya. Karena Kecemburuan Allah pada kita, atas Cinta dan KasihNya yang Agung kita abaikan, dengan perselingkuhan kita pada makhluk, akhirnya Allah membentak kita dengan sesuatu yang keras, agar kita kembali ke pelukan RahmatNya. Bentakan Allah itu diturunkan semata karena saking cinta dan sayangNya Allah kepada kita.
Kelima: Banyaknya gelombang yang melebihi dahsyatnya Tsunami. Suatu badai kekeringan dan kegersangan spiritual, yang menumbuhkan kehausan dan kegersangan jiwa dari ummat Islam itu sendiri. Begitu marak bendera-bendera Islam, slogan-slogan takbir, teriakan-teriakan demonstran membela Islam, tetapi hati dan ruh mereka seperti terpanggang di atas sahara kegersangannya. Lalu mereka kehilangan moral sejati, akhlaq ruhani, kebeningan hati sebagai ummat, lebih senang bermain-main di kawasan limbah dan kulit-kulit kering belaka.
Keenam: Jika banyak orang miskin yang tak berdosa terkena bencana, sementara koruptor semakin berjaya, ketidakadilan semakin merajalela, dan premanisme semakin bergaya, semata karena Allah menyayangi hamba-hambaNya yang miskin, agar tidak terkutuk bersama-sama para penjahat itu, para munafiqin yang mengaku sok Islam tetapi hatinya busuk itu.
Ketujuh: Derajat ummat ditentukan sejauhmana keikhlasannya dalam beribadah, kesabarannya dalam menghadapi cobaan, keridloaannya dalam merespon ketentuan dari Allah Ta’ala.
Kedelapan: Allah tidak pernah menzalimi hambaNya tetapi para hamba itu sendiri yang menzalimi diri sendiri. Allah tidak pernah marah kecuali karena didahului oleh rasa CintaNya yang Agung. Allah tidak pernah memanipulasi para hambaNya dan tidak punya kepentingan dengan maksiat atau taatnya hamba. Tetapi, para hamba seringkali memanipulasi Nama-Nama BesarNya demi hawa nafsunya, simbo-simbolNya demi kepentingan kekuasaan hamba, dan sesungguhnya para hambalah yang butuh Allah Ta’ala.
Kesembilan: Para hamba Allah di muka bumi telah banyak kehilangan rasa kehambaannya. Mereka lebih senang menjadi hamba dunia dan nafsunya, bahkan sangat bangga menjadi hambanya syetan. Coba anda survey di khalayak, berapa persen ummat Islam ini yang masih memegang teguh sifat kehambaanya: Rasa Fakir kepada Allah, Rasa hina di depan Allah, Rasa tak berdaya di hadapanNya, Rasa lemah di depanNya? Bukankah mayoritas saat ini malah merasa cukup dan tidak butuh Allah, merasa mulia karena menganggap dirinya lebih Islam dan lebih dekat Allah; merasa kuat dan berkuasa di muka bumi?
Kesepuluh: Dalam dunia Sufi, menghadapi cobaan dengan kesabaran, diperuntukkan kalangan awam. Tetapi bersyukur atas bencana dan cobaan, adalah sikap bagi kalangan khusus. Bersyukur terhadap nikmat adalah sikap kaum awam, bersabar menghadapi nikmat adalah sikap kalangan khusus.
Kesebelas: Jangan dikira, bahwa kejadian-kejadian alam yang hancur itu bukan karena ulah manusia. Akal dan pengetahuan manusia yang terbatas beralibi: Bagaimana bencana terjadi karena ulah manusia? Bukankah ini gejala alam murni? Bukankah ini semua bisa diprediksi? Bukankah bencana ini karena faktor-faktor evolusi dan seterusnya? Mari kita belajar pada tragedi Nuh as, ketika putranya Kan’an mengandalkan ilmu pengetahuan dan rasionya, sampai ia tenggelam dalam kekufurannya. Belajar pula pada kaum Luth, ketika ulah mereka menimbulkan bencana bumi yang tragis. Ingatlah pula hadits Nabi saw, mengenai Qiyamat, “Bahwa kiamat tidak akan terjadi sepanjang masih ada satu manusia yang berdzikir Allah Allah…”
Keduabelas: Bila Cahaya menerangi seluruh dunia dan seluruh ummat manusia mengalami pencerahan semua tanpa sisa, dunia pun akan kiamat. Begitu juga sebaliknya, jika kegelapan memenuhi jiwa manusia seluruhnya secara total, dunia juga kiamat. Namun, hadits Nabi memberikan indikasi bahwa fakta qiamat bagi dunia adalah ketika dunia dengan manusianya mencapai kegelapan total. Bukan Cahaya total.
Ketiga Belas: Ibadah, kepatuhan, ketaqwaan, kesalehan, dan kemuhsinan ummat Islam, sangat mempengaruhi perjalanan kosmik semesta, karena manusia adalah sentral dari makhluk Allah, dan sentral manusia adalah qalbunya. Begitu juga sebaliknya, kejahatan, kebejatan, kesombongan dan kealpaan manusia mempengaruhi tatasurya dan jagad semesta. Dalam dunia Sufi disebutkan, bahwa aspek lahiriyah fisika itu hanyalah akibat dari batin dan hakikat kita.
Keempatbelas: Perhitungan matematika, logika dan fisika, hanyalah perhitungan gejala dan tanda. Ada yang lebih neukleus (inti) bahwa perhitungan ruhani menempati posisi sentral dalam gerak gerik semesta ini.
Kelimabelas: Bagaimana anda melihat bencana? Anda lihat dengan matahati anda sendiri-sendiri: Jika anda sedang dalam gairah mencintai Allah dan RasulNya, matahati akan memandang betapa agungnya Asma dan SifatNya. Jika anda sedang alpa dan lalai, menuruti kepentingan nafsu diri, itulah bentakan-bentakan Ilahi kepada anda. Jika Anda dalam kondisi sangat miskin secara duniawi, padahal anda dekat denganNya, itulah cara Allah menyelamatkan diri anda. Jika anda sedang berkecukupan, tetapi harta anda menumpuk bagai sampah di peti kekayaan anda, itulah cara Allah mengingatkan agar anda mengeluarkan kotoran-kotoran harta anda. Jika anda sedang bercahaya bersamaNya; itulah cara Allah menampakkan KemahasucianNya, dan caraNya memperdengarkan tasbihnya alam kepada anda.
Keenambelas: Lihatlah dengan matahati pula, dibalik yang tampak di semesta kehidupan ini, maka disanalah matahati menyaksikan Allah, dibalik, dibawah, di atas, sebelum, sesudah alam semesta ini. Jika tak mampu demikian, sesungguhnya matahati anda sedang kabur dari Cahaya Allah, karena tertupi oleh mendung-mendung duniawi dan nafsu anda, dari Cahaya ma’rifat kepadaNya.
Renungkan semua itu, sembari terus beristighfar kepada Allah…

Next Post

Comments 1

  1. safitri ahmad says:

    segala sesuatu adalah anugerah, terlalu banyak perbedaan pendapat , sedangkan di dalam al quran tertulis biarkan allah azza wa jalla yang memutuskan mengenai ibadah, kitab, perbedan perbedaan apapun dalam hisabnya. anda melihat sebagai m,usibah tapi sesungguhnya adalah anugerah ilahi yang terindah. menurut ajaran syaikh abdul qadir al jaelani randian anhu segala sesuatu ada dalam kesederhanaan dan dalam hadist aisah r.a di katakan bahwa Rasulullah saw sikap dan tindak tanduknya bagaikan al quran yang berjalan . dalam kesufian anda di haruskan jujur ( shidiq ), fakir . semua umat menangis ketika melihat rumah nabi muhammad saw di gusur begitu juga situs suci. sedangkan dalam dunia SUFI adalah anda meninggalkan segalanya hanya al khaliq , musibah tapi sesungguhnya anugerah .anda bertanya di mana wali allah … di mana para sufi ? sedangkan dalam hakikatnya segala dalam rencana allah azza wa jalla dan dalam genggamannya . tidak bergantung pada mahluk , dalam dunia sufi anda akan di masukan dalam hisab qadar yang artinya allah azza wa jalla lah yang menggerakkan mahluk , teguran akan pengultusan kepada mahluk entah dengan dijaganya makam, atau ajaran si a ,b c, d, lebih baik sedangkan hanya satu anda berpatokan kepada al quran , sunnah rasulullah saw, bukan hanya berkata , berteori tapi melakukan dengan kesungguhan sudahkah ? apakah anda rela meninggalkan harta dengan cara anda bagikan semua harta anda pada orang orang miskin , teguran keras pada hati kita . sya berbicara berdasarkan dalil & tafsir al quran itu sendiri .berat ujian seorang sufi , mereka bergerak atau hanya diam karena allah azza wa jalla yang menggerakkan tau tapi tidak di bicarakan , sedangkan yang tidak memiliki kehendak hanya malaikat . manusia masih memilikinya dan dalam rukun iman yang ke 6 bagi seorang sufi dalah menyatu dalam kehendak ilahi. bila saya salah dalampenyampaian mohon maaf. saya hanya sekedar berbagi .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.