Kalau Sudah Ma’rifat, Tidak Shalat?

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Bapak Luqman Hakim. Saya pernah berjumpa dengan seseorang yang mengaku ma’rifat. Yang menurut  penjelasan muridnya, bahwa guru mereka sudah tak butuh shalat lagi karena telah manunggaling kawulo gusti.

Harus dibaca juga..

Jadi yang dikerjakan orang itu sehari-hari hanyalah mu’amalah kepada sesama makhluk, dan perlu diketahui juga bahwa selama saya mendengarkan ceramah guru mereka, tidak ada satu ayat pun Al-Qur’an pun yang keluar dari bibirnya. Malah yang ditekankan tentang filosofi Jawa (kejawen), orang tersebut juga pernah berkata bahwa sering jalan-jalan ke akhirat, bisa bercakap-cakap dengan malaikat dan segudang kemampuan ghoib lainnya. Nah pertanyaan saya, Apakah ada dalilnya jika manusia yang telah wushul maka sudah tidak ada kewajiban lagi seperti sholat dll…?

Apakah orang tersebut jelas-jelas telah menyimpang, atau sebaliknya…?
Mohon penjelasan Bapak Luqman Hakim.

 

Wasalamu’alaikum Wr. Wb
Gandhi Wibisono – artpreneur@xxxxx.xxx

Jawab:
Dalam tradisi Tasawuf, semakin seseorang naik derajat ma’rifatnya semakin ketat dan disiplin syariatnya. Sebab semakin mengenal Allah, semakin mengenal rahasia syariat dan agungnya perintah Allah dibalik syariat.

Kalau ada yang ma’rifat lalu meninggalkan syariat, pasti keblinger, dan itu bukan sufi juga bukan ajaran Islam, apa pun namanya. Mereka biasanya berpandangan bahwa syariat adalah Jalan menuju Hakikat, kalau sudah sampai hakikat untuk apa bersyari’at? Nah, disinilah keblingernya. Syariat itu bukan Jalan menuju hakikat. Tetapi bersyariat itu adalah menjalankan perintah dari Yang Maha Hakiki, Allah Rabbul ‘Izzah. Jika ia ma’rifat lalu meninggalkan syariat, berarti ia tidak ma’rifat kepada Allah, tapi ma’rifat kepada jin dan syetan, serta hawa nafsunya sendiri, walaupun perilakunya kelihatan bagus dan lembut serta memiliki dimensi ghoib yang tinggi misalnya. Tapi tipudaya itu bisa kelihatan lembut dan bisa kasar, bisa hebat dan bisa membuat orang tersihir.
Mungkin saja dia beralasan, saya juga menjalankan perintah sholat tetapi sholat saya berbeda dengan sholatnya orang awam yang lima waktu itu. Sholat saya adalah sholat hakikat tidak perlu berbunyi dan bergerak dan berkata-kata.

Nah, ia tidak menyadari betapa lemah dirinya. Orang ma’rifat kok merasa bisa sholat, ini jadi janggal. Sejak zaman Nabi sampai besok kiamat, teknis dan tata cara sholat tetap sama. Selama manusia masih memiliki kesadaran ruang, waktu, dimensi, arah dan akalnya sehat, masih wajib sholat. Yang tidak wajib sholat orang gila, orang tidur, orang lupa, anak kecil yang belum baligh.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.