JACK & SUFI Mencemaskan Dunia Baru?

DUNIA BARU?

Harus dibaca juga..

Jangan Cemas

Malam itu, para pemuda kampung  berkumpul di Padepokan Jack. Mereka mulai asyik dengan obrolan malam seputar agama, masa depan, dan harapan-harapan di tengah ketidak pastian hidupnya. Mereka anggap Padepokan Jack rumah kedua mereka. Pemuda-pemuda kampong ini tentu jauh dengan karakteristik pemuda kota. Mulai dari cara pandang hidupnya, hingga soal-soal impiannya.Walaupun idealism mereka tidak bisa diabaikan, kadang begitu genuine, orisinal, tanpa beban. Setiap memandang wajah-wajah mereka, Jack seperti menyalakan titik terang harapan masa depan umat ini. Dalam hatinya bermunajat, “Oh Tuhan, tambahkan padaku pengetahuan, berikan padaku kefahaman. (Robbii zidnii ‘Ilma, warzuqnii fahma….)”

“Bang, bagaimana kita bias berpacu dengan bangsa-bangsa Barat yang sudah maju di segala bidang. Kita baru memulai, mereka hamper sampai di penghujung. Mereka sudah mampu mendekatkan bulan, bintang dan matahari seakan ada di depan kita, sedangkan kita? Kita masih konflik satu sama lain? Mulai saja belum….Bang!”

Pertanyaan Dedy, pemuda tamatan SMA, yang sudah tidak mampu lagi meneruskan kuliah di perguruan tinggi.

“Ada yang mau bertanya lagi?”

“Saya meneruskan pertanyaan Dedy, Bang…” sela Ahmad.

“Oke…Silakan”

“Bagimana yang dirasakan oleh Bang Jack dengan pertanyaan Dedy, saat Bang Jack sedang ngangon domba…”

Gerrrr

“Wah pertanyaan cerdas…Saya tahu isi pikiranmu…”

“Tambah saya Bang,” celethuk Sandii. “Nanggung….Begini, apakah akan ada Perang Dunia Ketiga?”

Jack mendengar semua dengan manggut-manggut. Ini semua soal masa depan mereka, dan umat manusia. Tiba-tiba mereka dikeutkan oleh siuara domba yang mengembik. Suaranya cukup keras. Jack berlari ke kandang. Dan benar seekor domba betina sedang beranak. Mereka ramai-ramai mendatangi kandang domba, menyaksikan lahirnya dua domba dari satu induk.

Jack tersenyum ceria, bersyukur pada Allah swt.

“Domba-domba ini menjawab semua pertanyaan kalian tadi.”

“Pelajaran apa Bang dari domba ini?”

“Pertama-tama induk domba ini bersabar dalam mengandung, dengan penuh tawakkal akan masa depan anak-anaknya. Ia tak pernah gelisah dan takut, kelak anak-anaknya ini makan apa. Kedua bagi bagi para domba, bukan tempat yang mewah dan teknologi peternakan yang mereka impikan seperti di negara-negara maju, toh dunia domba dengan wataknya seluruh dunia ini tetap sama. Walau merteka, misalnya lahir dari hasil cloning. Ketiga, kasih sayang dari pemilik atau penggembala, sangat berpengaruh pada perilaku domba.”

Anak-anak muda itu ganti yang manggut-manggut. Ada yang faham ada yang tidak.

“Hmmm baru tahu saya filosufi Domba ini…” kata Ahmad yang tadinya menyepelekan domba di era global yang serba maju ini.

“Okey, Dedy, apa arti sebuah kemajuan jika tanpa kasih sayang dan cahaya?  Nabi saw, lahir di tengah negeri padang pasir, dengan peradaban kaumnya yang begitu rendah dan jahiliyah. Tapi beliaulah satu-satunya yang bisa menaklukkan dunia. Yakinlah pada Allah. Nabi menaklukkan bangsa-bangsa tidak dengan teknologi dan uang. Tidak dengan kekuatan senjata dan maupun kekuatan bisnis yang mengglobal. Juga bukan karena kekuasaan yang hebat seperti Fir’aun dan sejumlah kekuatan superpower… Tetapi karena Cahaya….Cahaya yang menyibak kegelepan umat manusia. Kegelapan anti Tuhan, kegelapan kebodohan, kegelapan moral…”

Hening, membungkam, sedikit mencekam.

Mereka menghela nafas panjang. Orasi Jack cukup meyakinkan dan menggugah.

“Dan ini jawaban khususnya untuk pertanyaan Ahmad. Para Nabi semuanya pernah menggembala domba. Seorang penggembala seperti Musa dan Harun tidak pernah sedikit pun gentar di hadapan Fir’aun yang berkuasa dan menjadi superpower ketika itu. Seorang Ibrahim tak pernah nervous di hadapan Namrud yang dictator dan kejam. Seorang Yusuf, sosok yang pernah dijual pada Maharaja, tidak pernah takut dengan ancaman-ancaman penjara Raja ketika itu. Dan semuanya pernah menggembala domba. Apalagi Sang Nabi kita Muhammad Saw….Yang saat itu harus dikepung oleh kekuatan-kekuatan hebat di dunia.  Dan saya selalu belajar pada domba-domba ini. ”

Pemuda-pemuda itu mulai terbengong-bengong. Wajah mereka mulai memerah, semangat yang bangkit dari kedalaman jiwanya seperti sedang berkobar-kobar.

“Perang Dunia Ketiga? Jangan pernah takut. Orang-orang beriman jiwanya akan selalu aman. Ingatlah manusia itu lemah dan tak berdaya. Jangan pernah takut dengan retorika-retorika mereka yang tidak beriman. Jangan pernah terpedaya dan terpesona oleh ucapan dan kata-kata mereka, sehebat apa pun logika mereka. Dan kamu Sandi, jangan pernah takut dengan bayanganmu sendiri….Mulai zaman Nabi Adam as sampai besok Kiamat, sep[anjang mereka disebut manusia, tetap saja watak dan karakternya sama!”

 “Siaaaap!” sambut Sandi.

Merekas berjalan menuju Musholla kecil di Padepokan.

“Jadi kami-kami harus bagaimana Bang….” Celethuk Dedi.

Jack tertawa dan tersenyum lebar. Ia sudah menduga akan ada pertanyaan seperti itu. Ia pandang satu persatu wajah-wajah pemuda itu. Pandangan Jack serasa menembus jantung mereka. Menghujam dan meruntuhkan ego mereka. Dan mereka tampak menunduk, merenungi kata demi kata Jack.

“Anugerah Allah itu melimpah. Anugerah lahir maupun batin. Ia akan melimpah kepada kalian kalua kalian menyiapkan Wadah Anugerah. Kalau kalian menyiapkan hati kalian penuh hinadina di hadapan Allah, maka Allah menurunkan PertolonganNya dan mengangkat derajatmu. Kalau Allah memberikan IlmuNya pada kalian, maka kalian ditakdirkan belajar, kreatif dan berdoa. Kalau Allah melimpahkan Nikmat-nikmatNya, kalian lebih dahulu membangun Wadah Syukur.”

Malam mulai larut dengan kegelapannya. Jack mengajak anak-anak muda itu Shalat dan berdoa bersama-sama sebelum pulang.

“Jangan lupa ya. Gantung Wudhu…”

Mereka menjawab dengan  tersenyum dan saling memandang.

M. Luqman Hakim

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.