Terapi Takabur - Page 3

E-mail Print PDF
Article Index
Terapi Takabur
Halaman 2
Halaman 3
All Pages

Kedua: Wara’ dan ibadat.
Seorang ahli ibadat pun tidak bisa lepas dari takabur. Kadang-kadang muncul kesombongan sebagian mereka, sampai pada batas yang berkaitan dengan bencana dan kebahagiaan, dianggap karena karamahnya. Siapa pun yang menyakiti bahkan sampai mengakibatkan kematian, sehingga ada yang berkata, “Kalian lihat, apa yang telah ditimpakan Allah karena menyakitinya?” Maka, saat la disakiti oleh yang lain, la berkata, “Kalian bakal melihat musibah apa yang aka terjadi.”

 

Orang sombong tidak mengerti, bahwa sekelompok orang kafir pernah menghajar para Nabi. Namun mereka tetap menikmati kehidupan dunia, tidak tertimpa bencana. Kadang-kadang ketika di antara mereka masuk Islam, justru mereka bahagia di dunia dan akhirat. Seakan-akan orang sombong tersebut lebih utama daripada Nabi, dan orang yang menyakitinya lebih hina daripada orang-orang kafir.

Seorang ahli ibadat, seharusnya tawadhu’ ketika melihat orang berilmu, karena dirinya merasa bodoh. Sementara ketika melihat orang fasik seharusnya mengatakan, “Siapa tahu orang ini menutupi akhlak batinnya dengan pura-pura maksiat lahiriahnya. Sedangkan batinku ada kedengkian atau kesombongan bahkan kotoran tersembunyi, yang menyebabkan dendam Allah kepadaku, sampai amal-amalku yang bersifat lahiriah ditolak. Padahal Allah hanya memandang hati seseorang bukan wujud lahirnya.”
Di antara kotoran batin adalah takabur tersebut. Pernah diriwayatkan, dahulu ada laki-laki dari bani Israil yang populer sebagai penjahat. Ia disebut sebagai si jahat bani Israil, karena kemursalannya. Suatu ketika la duduk di samping seorang ahli ibadat. Dalam benaknya berkata, “Siapa tahu Allah mengasihiku karena berkatnya.” Diam-diam ahli ibadat tersebut juga berkata dalam hatinya, “Bagaimana orang fasik ini bisa duduk di dekatku?” Akhirnya ahli ibadat ini mengusirnya, “Pergilah dari sisiku!”

Allah swt. kemudian mewahyukannya kepada Nabi zaman itu, “Perintahlah keduanya agar memulai kembali amalnya. Aku benar-benar telah mengampuni si penjahat, dan menghapus pahala amal ahli ibadat itu. “
Kisah lain, ada laki-laki yang menzinai budak wanita dan seorang ahli ibadat. Laki-laki ini akhirnya sujud kepada Allah swt. Kemudian ahli ibadat tersebut langsung membentak, “Hai, bangun! Demi Allah, pasti Allah tidak akan mengampunimu!” Kemudian Allah swt. menurunkan wahyu, “Wahai orang yang bersumpah kepada-Ku, sebenarnya Aku tidak mengampuni dosamu!”

Bagi orang yang jeli, sangat waspada dengan kejadian seperti itu, lebih senang mengatakan seperti dalam kata-kata Atha’ As-Salami, karena wara’nya. Jika ada angin taufan menimpa manusia, la berkata, “Musibah itu tidak lain karena faktor diriku. Seandainya Atha’ mati, pasti mereka selamat.”
Dalam suatu kesempatan, sebagian sufi berkata, “Aku berharap rahmat bagi mereka, seandainya keadaanku tidak berada di antara mereka.”

Lihatlah, betapa banyak orang yang ikhlas beramal dengan penuh wara’, namun mereka tetap takut dengan dirinya. Bandingkan dengan orang yang terbebani amal-amal fisik, siapa tahu mereka terhindar dari riya’ dan bencana, kemudian berharap kepada Allah melalui amal yang dibanggakan.

Ketiga: Sombong karena keturunan.
Terapinya, melalui kontemplasi terhadap asal-usulnya, bahwa ayahnya tercipta dari sperma yang kotor, dan kakeknya tidak lain berasal dari tanah. Tidak ada yang lebih kotor dari sperma, dan tidak ada yang lebih hina dibanding tanah.
Bagi orang yang menyombongkan asal-usul keturunan, semakin sombong dengan perlakuan khusus orang lain. Seandainya nenek moyangnya bisa bicara, pasti mengatakan, “Hai siapa sebenarnya Anda? Bukankah Anda tidak lebih dari ulat yang berasal dari kencing orang yang kebetulan mempunyai status kebaikan?”
Karenanya, dikatakan oleh penyair:

Seandainya engkau bangga
pada darah biru nenek moyang
engkau benar pula
Namun betapa buruknya
apa yang telah dilahirkan mereka


Bagaimana bisa takabur, kelak pada hari Kiamat, orang bangsawan ahli dunia menjadi penyulut api neraka, dan merasa lebih baik jika mereka menjadi babi dan anjing, agar bisa bebas dari siksaan seperti itu.
Bagaimana mereka takabur, dengan membanggakan keturunan ahli agama, padahal kemuliaan mereka karena agama. Dan justru dari agama itu muncul tawadhu’? Malah di antara ahli agama itu ada yang menyesal, “Duh, seandainya aku dulu jadi serigala atau burung saja.” Mereka sangat takut akan akhirat karena kesombongan atas prestasi ilmu dan amalnya. Sangat mengherankan, orang takabur disebabkan keturunannya, sementara dirinya sendiri tidak memiliki perilaku yang luhur?

Keempat: Harta, rupawan dan pendukung.

Sesungguhnya takabur karena harta, rupa yang elok, dan banyak pendukung merupakan kebodohan yang melenceng dari jatidiri. Sebab, harta mengundang pencuri dan perampok. Demikian pula elok rupa dan ketampanan, bisa luluh oleh penyakit demam selama sebulan, dan bisa musnah oleh penyakit cacar sesaat. Bila ini disadari oleh seorang Muslim, bahwa batinnya penuh kotoran, la tidak akan pernah tergiur oleh sikap takabur lantaran ketampanan dan rupawan. Kalau saja la tidak mandi seminggu, pasti badannya lebih kotor daripada bangkai, karena bau badan, bau kotoran nafas, kotoran mata dan bau lainnya.
Apa yang disombongkan orang gembel dengan ketampanannya? Padahal, manusia itu sebenarnya amat menjijikkan, karena dalam perutnya ada kotoran dan najis.



 

Comments  

 
0 #13 Al Fana 2010-01-21 08:15 Segala sesuatu itu milik Allah, jadi tidak ada alasan untuk bagi kita untuk takabbur karena kita tidak punya apa-apa dan tidak bisa apa-apa kecuali dengan pertolongan Allah Quote
 
 
0 #12 yayat 2010-01-07 02:36 ya rob sungguh kau maha mengetahui dr apa yg aku ketahui.. Quote
 
 
0 #11 Widodo 2009-12-15 20:18 Asslmlkm.
Kepada para mursyid pembimbing sufinews.saya mohon barokah do'anya.agar saya diberi pertolongan,pet unjuk,dan kasih dari ALLOH SWT,supaya hati saya dibersihkan dari kotoran yg menutupi mata hati saya.yg membuat saya slalu tertipu keindahan dunia.sebelum dan sesudahnya,saya ucapkan beribu terimakasih.
Aslmkm
Quote
 
 
0 #10 Widodo 2009-12-15 00:25 Pada para mursyid yg membimbing sufinews.aku mohon dg sgala kerendahan hati do'a agar hatiku dibersihkan dari sgala kotoran antara lain sombong.aku mohon Quote
 
 
0 #9 onny supriyono 2009-11-29 12:50 semoga Alloh selalu menjauhkan segala perbuatan yang tercela Quote
 
 
+1 #8 Arsih 2009-11-22 13:25 Ya Robbi, Engkaulah yg menciptakan dan melindungi kami. Semoga Engkau berkenan melindungi kami hambaMU yg lemah ini dari sifat takabur, Amin Quote
 
 
0 #7 amin 2009-11-12 14:05 Ya Allah Gusti, Engkau yg Mahatahu apa yang tersembunyi di hati ini. Bila ada bibit takabur, bimbing hamba utk mengusirnya jauh-jauh. Quote
 
 
0 #6 Muhammad Hakim 2009-11-09 11:48 Assalamu'alaikum warahmatullah wabarokatuh

Alhamdulillah, setelah saya renungkan dalam2 dengan hati, bahwa tidak ada yg bisa kita sombongkan karena memang segala sesuatu tidak ada yg dari kita.. semuanya adalah dari Allah Swt.. jadi dari segala sisi, semua sudut, segala aspek saya memandangnya, bahwa kita memang hanyalah seorang hamba yang tidak bisa apa apa tanpa pertolongan Allah.. semoga Allah selalu membimbing kita , mengampuni dosa dosa kita, mengasih sayangi kita dan memudahkan segala urusan kita ke depannya.. amin
Quote
 
 
0 #5 rio 2009-11-04 21:38 yaa ilahi jauhkanlah hambamu dari sifat takabbur Quote
 
 
0 #4 Fithrie 2009-11-01 16:10 Subhanallah..
Allahuakbar..
maski aq merasakan diriku ini adalah seorang yang takabur,,
tetapi semoga setelah membaca ini sifat takaburku itu hilang,, amin..
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh