Terapi Takabur - Page 2

E-mail Print PDF
Article Index
Terapi Takabur
Halaman 2
Halaman 3
All Pages

Terapi Takabur
Terapi secara keseluruhan terhadap penyakit kotor dari takabur, pertama kali manusia harus tahu diri, bahwa awalnya adalah sperma yang hina dan ahkirnya adalah bangkai yang rendah. Dengan demikian, ia bisa menyadari diri, dan memahami firman Allah swt.:
“Binasalah manusia, alangkah amat sangat kekafirannya? Dari  apakah Allah menciptakannya? Dari  setetes sperma, Allah menciptakannya lalu menentukannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya dalam kubur. “ (Q.s. Abasa: 17-21).

 

Manusia diciptakan dari rahasia ketiadaan yang hampir-hampir tidak pernah diperhitungkan, yang tentunya, tidak lebih dari tiada itu sendiri. Kemudian manusia dicipta dari debu, lalu dari sperma, selanjutnya dari segumpal darah, dan dari segumpal daging. Yang tidak ada telinga dan matanya, tidak ada daya hidup dan kekuatan. Semua itu dicipta setelah kondisinya pada tahap sangat minus, masih dihimpit oleh penyakit dan cacat, diberi watak-watak antagonis, sehingga mereka saling membunuh, lantas mereka benci pada penyakit, kelaparan dan dahaga. Manusia ingin mengetahui sesuatu, namun sesuatu itu membuatnya bodoh. Manusia ingin melupakan sesuatu, tetapi ia tetap saja ingat. Ia benci sesuatu, tetapi sesuatu malah bermanfaat baginya. Ia menyenangi sesuatu, tiba-tiba malah membuatnya menderita. Sementara la tidak bisa menghindarkan sedetik pun untuk lari dari ancaman nyawanya, akal, kesehatan, atau anggota badannya.

Dan akhirnya adalah maut, dan kemudian dihadang siksa serta hisab. Apabila la tergolong ahli neraka, maka, babi sekalipun lebih baik daripada dirinya. Lalu sisi mana la layak sombong? Padahal la adalah hamba sahaya hina yang tidak memiliki kekuasaan sedikit pun.

Al-Hasan Bashri berkata kepada sebagian orang yang sombong ketika berjalan, “Jalan macam itu, orang yang di dalam perutnya ada tinja.” Layakkah sombong orang yang mandi membersihkan kotoran badannya sehari dua kali, sementara begitu terus hidupnya?
Terapi takabur secara rinci, melalui empat metode:

Pertama: Ilmu
Rasulullah saw bersabda:
“Penyakit ilmu itu adalah sombong.” (Al-Hadits).

Sabdanya pula, “Janganlah kamu tergolong ulama yang sewenang-wenang, sebab ilmumu tidak akan sempurna karena kebodohanmu!” Sungguh sangat jarang orang berilmu selamat dari sifat sombong. Kadang-kadang merasa dirinya terpandai lebih dari manusia lain, yang merupakan kualifikasi mulia di hadapan Allah swt. Terkadang merasa dirinya paling religius dibanding yang lain. Dan kadang-kadang dalam kehidupan duniawi la merasa haknya paling layak untuk dihormati manusia. Bahkan la merasa heran jika orang-orang tidak tunduk kepadanya. Bila ini yang terjadi, maka sebenarnya orang yang berilmu demikian itu adalah lebih layak dikatakan sebagai orang bodoh. Sebab, ilmu yang hakiki itu adalah yang mampu mengantar seseorang untuk mengenal Tuhannya dan dirinya sendiri, serta takut akan akhir hidupnya kelak, dan takut berhadapan dengan hujjah Allah swt.

Sebaiknya, bila kita hendak berbuat dosa dan bersikap takabur, kita katakan pada diri sendiri, bahwa orang melakukan dosa lantaran kebodohannya. Sementara diri kita melakukan dosa karena ilmu yang kita miliki, sedangkan hujjah Allah atas diri kita lebih kuat.

Abu Darda’ berkata, “Barangsiapa bertambah ilmunya, maka bertambah pula ketawadhu’annya.”
Dan Allah swt. berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad saw, “... dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (Q.s. Asy-Syu’ara: 215).
Rasulullah saw bersabda, ‘Ada kaum yang membaca Al-Qur’an, mereka tidak melewati batas kerongkongannya (fasih), lalu mereka berkata, ‘Kami benar-benar membaca Al-Qur’an. Lalu adakah yang lebih fasih membacanya daripada kami’?” Kemudian Rasul saw menoleh, lantas bersabda, “Mereka itu adalah golongan kalian wahai ummat, merekalah yang menjadi penyala api neraka.”
Karena inilah ulama salaf sangat hati-hati. Bahkan, Hudzaifah r.a. pernah salat berjamaah. Usai salam la berkata, “Hendaknya kalian mencari imam selain aku, atau kalian salat sendiri-sendiri saja! Sebab dalam diriku muncul pandangan, bahwa tidak ada lagi yang lebih utama daripada aku.”
Sebaiknya kita mengambil pelajaran, banyak orang Islam yang melihat Umar r.a. sebelum memeluk Islam, lantas tetap menghinanya, sebagaimana sebelum Umar masuk Islam. Bisa jadi orang Islam seperti itu murtad, setelah melakukan penghinaan tersebut.

Orang takabur jelas penghuni neraka, dan menyombongi orang takabur itu bisa menjadi penghuni surga.
Banyak orang alim, namun akhir kehidupannya buruk, dan banyak orang bodoh akhirnya malah bahagia.
Bagaimana ulama bisa takabur, jika mengetahui kondisi tersebut? Padahal Nabi saw bersabda, “Orang yang berilmu nantinya didatangkan pada hari Kiamat, kemudian dilempar ke neraka, lalu isi perutnya keluar, lantas berputar seperti berputarnya khimar pada penggilingan berkeliling menemui penghuni neraka. Maka penghuni neraka bertanya, ‘MengapaAnda ini?’Lalu dijawab, Aku telah memerintahkan kebajikan, namun aku sendiri tidak melaksanakannya. Dan aku melarang kejahatan, tetapi aku malah melakukannya’. “ ,
Ilmuwan atau ulama mana yang selamat dari tragedi tersebut, mengapa mereka tidak takut sanksi takabur?
Allah swt. telah berfirman, tentang Bal’am bin Ba’ura, salah seorang ulama besar pada zamannya:
“Maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia pun mengulurkan lidahnya (juga).” (Q.s. Al-A’raaf. 176).

Karena si Bal’am terlalu menuruti hawa nafsunya. Tentang ulama Yahudi, Allah swt. berfirman:
“... adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab....” (Q.s. A1 Jumu’ah: 5).
Lihatlah dalam beberapa hadis mengenai ulama suu’, ketika kesombongannya mengalahkan ketakutannya kepada Allah swt Mereka berperilaku demikian, karena sibuk dengan ilmu yang tida berguna bagi agamanya, seperti perdebatan, bahasa dan sebagainya. Atau mereka menekuni ilmu, sementara batinnya kotor, sehinga kotoran jiwanya menumpuk.



 

Comments  

 
0 #13 Al Fana 2010-01-21 08:15 Segala sesuatu itu milik Allah, jadi tidak ada alasan untuk bagi kita untuk takabbur karena kita tidak punya apa-apa dan tidak bisa apa-apa kecuali dengan pertolongan Allah Quote
 
 
0 #12 yayat 2010-01-07 02:36 ya rob sungguh kau maha mengetahui dr apa yg aku ketahui.. Quote
 
 
0 #11 Widodo 2009-12-15 20:18 Asslmlkm.
Kepada para mursyid pembimbing sufinews.saya mohon barokah do'anya.agar saya diberi pertolongan,pet unjuk,dan kasih dari ALLOH SWT,supaya hati saya dibersihkan dari kotoran yg menutupi mata hati saya.yg membuat saya slalu tertipu keindahan dunia.sebelum dan sesudahnya,saya ucapkan beribu terimakasih.
Aslmkm
Quote
 
 
0 #10 Widodo 2009-12-15 00:25 Pada para mursyid yg membimbing sufinews.aku mohon dg sgala kerendahan hati do'a agar hatiku dibersihkan dari sgala kotoran antara lain sombong.aku mohon Quote
 
 
0 #9 onny supriyono 2009-11-29 12:50 semoga Alloh selalu menjauhkan segala perbuatan yang tercela Quote
 
 
+1 #8 Arsih 2009-11-22 13:25 Ya Robbi, Engkaulah yg menciptakan dan melindungi kami. Semoga Engkau berkenan melindungi kami hambaMU yg lemah ini dari sifat takabur, Amin Quote
 
 
0 #7 amin 2009-11-12 14:05 Ya Allah Gusti, Engkau yg Mahatahu apa yang tersembunyi di hati ini. Bila ada bibit takabur, bimbing hamba utk mengusirnya jauh-jauh. Quote
 
 
0 #6 Muhammad Hakim 2009-11-09 11:48 Assalamu'alaikum warahmatullah wabarokatuh

Alhamdulillah, setelah saya renungkan dalam2 dengan hati, bahwa tidak ada yg bisa kita sombongkan karena memang segala sesuatu tidak ada yg dari kita.. semuanya adalah dari Allah Swt.. jadi dari segala sisi, semua sudut, segala aspek saya memandangnya, bahwa kita memang hanyalah seorang hamba yang tidak bisa apa apa tanpa pertolongan Allah.. semoga Allah selalu membimbing kita , mengampuni dosa dosa kita, mengasih sayangi kita dan memudahkan segala urusan kita ke depannya.. amin
Quote
 
 
0 #5 rio 2009-11-04 21:38 yaa ilahi jauhkanlah hambamu dari sifat takabbur Quote
 
 
0 #4 Fithrie 2009-11-01 16:10 Subhanallah..
Allahuakbar..
maski aq merasakan diriku ini adalah seorang yang takabur,,
tetapi semoga setelah membaca ini sifat takaburku itu hilang,, amin..
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh