Dimas Kanjeng Dan Sunyinya Akal Sehat

Kasus Dimas  Kanjeng Taat Pribadi Probolinggo dan AA Gatot Brajamusti, bagi manusia Indonesia bukan hal yang luar biasa. Karena atmosfir magic telah berkembang menjadi industri budaya yang dinikmati oleh semua kalangan. Apalagi  ketika industri spiritual semu (pseduo spiritual)

didukung oleh manajemen modern,  dan sejumlah aktivitas hipnotis, keparanormalan, dan motivasi psikhologis serba instan dengan tema-tema agama, dengan  janji sukses material. Hal yang tak kalah pahitnya dalam industri ini seperti power sedekah, power ikhlas,  keajaiban doa, istighosah politis,  marak tanpa kontrol, untuk dijadikan legitimasi gerakan industri spiritual yang palsu, yang setara dengan narkoba untuk kepentingan spiritual.

Sukses besar, dan sejumlah harapan masa depan, ancaman,  ketakutan,  issue dan instanisme, adalah tema  yang paling laris untuk dijual, dan pembelinya  kalangan  professional, terpelajar maupun awam.  Booming batu akik beberapa waktu silam misalnya,  menjadi indikator keterpurukan psikologis masyarakat ketika hendak melawan perubahan yang tidak pasti, dan masyarakat menikmatinya, sebagai eskapisme ketidakpastian ekonomi, politik dan ketidak percayaan atas spiritualitas dan realitas yang diyakini selama ini.  

Inilah bagian dari mitos-mitos yang dipaksakan jadi fakta, agar diyakini sebagai harapan perubahan nasib, tanpa kerja keras yang sesungguhnya dan pengetahuan keagamaan yang benar. Kelak ketika tidak terbukti, mereka hanya beralibi pada katarsis, “Memang belum takdirNya.” Sebuah wacana yang menzalimi diri sendiri, demi kepentingan instanisme yang gagal.

Paradok-paradok sosial ini akan terus berlangsung selama pendidikan dan dakwah keagamaan kita  tidak membangun landasan filosufi yang jelas, dalam hubungan  strategis  kebudayaan nusantara ini. Konflik agama dengan kekayaan kultur lokal, pernah diselesaikan oleh para Walisongo, namun akurasi informasi dan tafsiran budayanya menjadi simpang siur hingga saat ini. Yang muncul selalu wilayah abu-abu dengan kerancuan spiritual atas nama agama dan kearifan lokal.

Dalam fakta sosiologis, pandangan hidup antara wilayah spiritual dan material, antara rasionalisme dan religi,  bahkan Peran Tuhan dan kemanusiaan,  seringkali rancu dalam konflik horisontal yang hingga saat ini tidak diselesaikan tuntas oleh para pendidik dan Ulama,  kecuali sekadar menyerah pada tradisi Jabaretisme (serba takdir Allah swt) , walaupun Ulama NU dan Cendekiawan Muhammadiyah telah menggelorakan Islam Moderat (tawassuth dan tawazun) , pada kenyataannya Jabaretisma moderat sangat dominan dalam kultur nusantara kita. 

PERLAWANAN AKAL SEHAT

Dalam situasi demikian, gerakan ala Dimas Kanjeng akan  selalu muncul sebagai perlawanan budaya akal sehat, untuk sekadar  tampil lebih suprematif dalam kehidupan sosial, bukan lagi soal kelaparan atau kemiskinan, tetapi status baru yang kemudian menjadi antiklimaks atas dakwah keagamaan yang menjanjikan harapan instan, baik secara politik maupun ekonomi.  Akal sehat  (bashirah) akan menjadi ruang sunyi yang tersingkir begitu saja,  karena mitos telah berubah jadi dogma.

Apakah ini bentuk kegagalan tafsir agama atas budaya lokal yang dipelihara? Atau karena ketakberdayaan menghadapi situasi struktural  yang tidak memihak nasib rakyat di bawah? Atau ini bentuk oposisi kultural atas kemapanan yang tidak mampu merubah nasib mereka? Lalu apa bedanya dengan munculnya ISIS dan para teroris, yang juga gagal dalam menafsirkan teks agama? Atau bangsa kita telah lama sakit, lalu menikmati romantisme penyimpangan dan kejahatannya sebagai khazanah yang dibanggakan?

Untuk menjawabnya butuh kejujuran intelektual  yang cerdas, karena di satu sisi kita menghadapi  mitos “jahiliyah kultural” dan di sisi lain akal sehat modernitas yang diunggulkan di dunia pendidikan masih merujuk pada  sekularisme masyarakat modern yang nestapa.  Akal sehat yang yang tercerahkan sesungguhnya, pasti melahirkan pencerahan atas semua tafsir keagamaan dan kebudayaan, sekaligus mereposisi peran masing-masing dalam bangunan organisme karakter psikologis. Tanpa reposisi peran agama, peran budaya, peran kreativitas manusia dan alam, bangsa kita akan terus menerus di awang-awang, lalu peradaban  membusuk di tong sejarah. Inilah yang membangkitkan gerakan-gerakan alternatif spiritual semu yang sangat memuakkan itu.

Komunitas-komunitas instanisme  adalah pasien-pasien rumah sakit jiwa bangsa ini, sebagai model kegilaan spiritual, yang jauh dari citra kemanusiaan dan  ajaran agama yang diperankan oleh para pejuang dan pewaris para Nabi. Pada akhirnya pasti menuntut hadirnya para dokter spiritual, dan pengobat moral , yang mampu memberi terapi psikhologis pesakitan-pesakitan itu.  Trilogi manajemen dakwah Islam yang  melandaskan cara pandang Jalan Tuhan yang penuh hikmah, dan nasehat yang bajik serta argumentasi yang lebih logis, di negeri ini tidak pernah terukur oleh indikator yang jelas. Sehingga gerakan-gerakan dakwah selalu muncul seperti industri spiritual, muncul bak jamur dengan produknya   seperti supermarket yang bisa dinikmati siapa saja melalui media massa oleh siapa saja.

Semua berujung pada hal yang ekstrim:  Segalanya bermerek agama dan Tuhan, -- termasuk kasus terakhir dengan Narkoba bermerek  Aktifitas Spiritual -- atau sebaliknya rasionalisme liberal yang genit dan eksotis, dengan upaya-upaya rasionalisasi dogma agama, demi janji masa depan. Sedangkan Islam Moderat yang mayoritas di negeri ini juga belum terekonstruksi dalam praktek kemodernan, namun masih  nyaman dengan  tradisi intelektual masa lampau, tanpa rekonstruksi (tajdid) yang  mampu memberi harapan dan keyakinan masyarakat modern, kecuali sekadar  argument eskapisme klasik atas pentingnya kearifan lokal, kenusantaraan dan keindonesiaan.  

NU dan Muhammadiyah  berada di garis depan Islam Moderat, tetapi masih harus membuktikan akurasi epistemologis dalam pandangan teologisnya, untuk didaratkan ke bumi nusantara yang modern. Kaum Nahdhiyyin yang mayoritas di bawah misalnya lebih banyak menjadi korban kepalsuan spiritual ala Dimas Kanjeng dan sejenisnya,  karena tradisi taklidnya  yang secara sosiologis sangat paternalistik termasuk dalam merespon harapan-harapan palsu yang berbau mitologis.  Sementara kalangan Muhammadiyah juga baru membangun arsitek kultural modern ala rumah kaca, cantik dan terpelajar, namun tidak kokoh bagi huniaan jutaan ummat, juga menjadi korban spiritualisme perkotaan yang mencoba merasionalkan agama untuk kepentingan material.

Spiritualitas keagamaan  semacam apa yang bisa mencerahkan bangsa ini? Atau rasionalitas dengan paradigma seperti apa yang bisa mencerdaskan generasi negeri ini? Tanpa kita tuntaskan dua hal tersebut, bangsa ini akan terus terkaget-kaget dalam atmosfir kelatahan spiritual yang sangat tolol, ketika menghadapi perubahan-perubahan sosial yang cepat. Tak habis-habisnya kita disuguhi tontonan teater yang mengulang tema sejarah kegalauan sosial yang sudah membusuk.

Kita memiliki agenda-agenda besar yang terus dituntut oleh sejarah, kembali kita harus duduk bersama seperti para bapak bangsa kita, saat merumuskan konstitusi kita, merumuskan kembali pandangan spirit kebudayaan, keagamaan dan kebangsaan,  yang bisa dipertanggungjawabkan di depan sejarah dan di depan Allah swt. Namun, sekarang para tokoh lebih sibuk dengan urusan kelompok dan institusi masing-masing, tanpa kesadaran spiritual yang mencerahkan mereka sendiri, kelak akan bernasib sama sebagai bangkai sejarah,  karena matahati mereka terus menerus terpejam dalam kabut hawa nafsunya. 

AGENDA SPIRITUAL BANGSA

Kongres internasional dengan tema-tema spiritual seperti yang dilakukan oleh NU dan jam’iyyah Thariqah Mu’tabarah an-Nahdhiyyah dan ormas keagamaan lainnya,  yang bertemakan peran dunia Sufi, untuk membangun ruh peradaban, tidak cukup hanya menjadi ritual sosial, manakala tidak mendaratkan aktualitasnya di bumi dan menyentuh langsung gerakan spiritual yang lebih revolusioner di era industri modern ini. 

Inilah yang menuntut para agamawan, membuat resolusi spiritual, khususnya kalangan Nahdhiyyin yang sudah akrab dengan perspektif sufismenya, kalangan cendekiawan muslim yang akrab dengan rasionalismenya, para penguasa yang memiliki otoritas hukum,  duduk bersama  untuk mereform cara pandangan spiritual keagamaan, yang bebas dari kemelut imajiner dan konsistensinya berada di “garis lurus” menuju Allah swt yang berakhir pada kerahmatan bagi nusantara.

Bukan membiarkan serba Tuhan dalam aktivitas industri materialistik yang menjebak, seperti Dimas Kanjeng,  Gafatar atau yang sejenis ekstrimitas yang berlapis peradaban kota, dengan korban para professional dan kaum terpelajar. Tanpa pencerahan yang signifikan, konflik-konflik horizontal  menjadi destruktif terhadap kemanusiaan dengan sendirinya, dan berakhir dengan kekerasan yang sangat bodoh.

Kebangkitan menuju Allah swt, sama sekali tidak mengabaikan hal yang material, tetapi juga sama sekali bebas dari simbolisasi Ketuhanan demi materialisme. Kebangkitan  spiritual  bukan hanya soal norma agama yang terus menerus dilanggar para koruptor dan penjahat kelas teri, tetapi juga harus akrab dengan anak-anak remaja kita, yang terancam oleh narkoba dan pergaulan bebas.  

 Apa yang menjadi spiritualitas politik dan ekonomi kita, apa pula yang bisa mendorong praktek birokrasi menjadi bersih dengan kesadaran spiritualnya? Apakah keadilan social ekonomi yang tak kunjung tegak, adalah produk dari rimba spiritual yang gelap? Apakah para penguasa dan politisi di Senayan juga melesat dari orbit spiritualnya, sehingga jati diri sebagai hamba Allah Swt. telah berubah menjadi hamba nafsu dan dunianya?

Paling tidak, pembersihan jiwa (tazkiyah) spiritual, dan penyucian batin (tathirul qulub) tidak bisa ditawar lagi, untuk dijadikan silabus spiritualitas pendidikan bangsa kita. Anak-anak didik kita yang masih usia tujuh hingga sepiluh tahun hari ini, tiga puluh tahun yang akan datang, menjadi para pemimpin, pendidik, professional, penguasa atau rakyat biasa,  tidak boleh lagi menyongsong tragedi spiritual yang mengerikan dengan topeng baru yang menyembunyikan kepalsuan spiritual, sedangkan akhlaqul karimah menjadi busa belaka. 

(Dimuat di Majalah Gatra, Edisi 13-19 Oktober 2016)

KHM LUQMAN HAKIM, Ph D

*Pengajar  Tasawuf and Peace Education, UNIRA,  Mudir Ma’had Aly Raduhatul Muhibbin, Bogor.

Read 4111 times Last modified on Monday, 31 October 2016 13:21

Leave a comment