Ilmu Paling Bermanfaat

Ilmu yang bermanfaat cukup banyak, dan ilmu apa pun yang membuat kita semakin cinta dan takut kepda Allah, pastilah ilmu yang bermanfaat (nafi’).

Tetapi dari deretan pengetahuan yang bermanfaat itu, ilmu apakah yang paling bermanfaat? Sebuah ungkapan hikmah luar biasa dari Syeikh Abu Madyan Al-Ghauts, “Ilmu yang paling bermanfaat adalah ilmu tentang aturan-aturan kehambaan, dan ilmu paling luhur nilainya adalah mengenal Tauhid.”

Aturan kehambaan adalah missi luhur dibalik agama yang kita cintai ini, baik aturan lahiriyah berupa syariah, maupun bathiniyah berupa  aturan hakikat. Itulah yang diburu para ahli ma’rifat, “Benar dalam menghamba kepadaNya, dan menegakkan Hak-hak Ketuhanan,” sebagaimana dioungkap Ibnu Athaillah as-Sakandary.

Bersih lahir dan batin. Secara lahir kita berperilaku akhlak syar’i yang diridhoi, secara batin jiwa kita bersih dari kemusyrikan dan kezaliman diri, sehingga batin sang hamba menjadi pantulan bagi tegaknya hak-hak Ketuhanan.

Imu Tauhid menghantar kita pada ma’rifatullah, mengenal yang kita sembah, kita abdi, kita jadikan Tempat bergantung. Dengan mengenal Tauhid secara benar, konflik psikhologis antara hamba dengan Sang Khaliq akan sirna, apalagi konflik dengan sesame makhluk. Kalau toh ada ungkapan kebenaran yang menimbulkan perbedaan, semata ungkapan kebenaran itu disampaikan penuh kasih dan rahmat. Bukan karena emosi dan nafsu.

Dua pengetahuan yang paling bermanfaat itulah yang menyelamatkan ummat manusia, menghantar manusia ke hadhiratNya, menghadap dan kembali menjadi hamba yang ditugasi kekhalifahan, atau khalifah yang dilandasi oleh kehambaan.

Jangan-jangan kita abaikan ilmu yang bermanfaat bagi kita, bahkan kita tak pernah mengenal mana yang paling bermanfaat. Semoga Allah Swt. melindungi kita dari kebodohan hati dan ketololan nafsu kita.

 

Read 2148 times Last modified on Monday, 08 December 2014 16:51