Protes Pada Allah

Dengan dengus nafas ngos-ngosan, lelaki bertubuh tambun itu memasuki kedai Cak San. Ia memesan air putih dua gelas besar, untuk mengusir dahaganya. Rupanya pagi yang dingin itu, tidak mampu menyelimuti kegerahan dadanya. 

"Dari mana Mas, kok seperti dikejar harimau?"

Sembari menegak dua gelas air putih, lelaki itu masih juga belum menjawab pertanyaan Pardi.

"Jangan tanya dari mana pada saya. Tapi saya harus bertanya lebih dulu kepada anda-anda di sini, kemana itu Kang Soleh? Saya ingin bikin perhitungan dengan dia....!"

Mendengar gertakan si gendut itu, penghuni kedai kopi cukup terhenyak. Ada apa gerangan Kang Soleh dikejar manusia heboh seperti dia ini. Apa Kang Soleh punya hutang, punya kesalahan, atau ada bratayudha antara Kang Soleh dengan orang ini? Nggak jelas.

"Sebentar lagi juga datang Pak, sabar sebentar," sahut Dulkamdi.

"Ya, saya ingin minta pertanggungjawabannya!"

"Wah, pertanggungjawaban apa Pak, kok kelihatannya penting sekali," timpal Pardi memberanikan diri mengorek masalah orang itu.

"Tanggungjawab Ketuhanan...!"

"Lhadalah! Kang Soleh p[asti bikin ulah lagi!"

"Ya, ia telah membikin saya jadi uring-uringan dengan diri saya sendiri, bahkan kalau perlu Pintu Allah akan saya gedor-gedor, lalu saya mau bikin protes kepadaNya."

Weleh-weleh, Pardi, si Tambun ini pasti agak tidak waras. Masak Tuhan diprotes, memang dia ini lahir ke dunia atas kehendaknya sendiri, lalu dibantu Tuhan itu atau bagaimana?

Belum juga tuntas imajinasi Pardi, Kang Soleh memasuki kedai itu. Dengan gaya agak acuh, ia mengambil sisi pojok seperti biasanya, sambil berdehem-dehem. Rupanya si Tambun itu juga belum kenal siapa Kang Soleh, bagaimana prejengannya. Serentak Pardi menyapa Kang Soleh, lalu si Tambun itu berdiri bersungut-sungut mendekati Kang Soleh. Ia memperkenalkan dirinya, lalu duduk di sebelahnya.

"Maaf Kang. Menurut saya Allah itu tidak adil. Kenapa saya melakukan usaha yang benar, ikhtiar yang halal, kerja keras, dan begitu hendak memetik hasilnya, malah saya ditipu oleh kawan saya yang ongkang-ongkak sejak dulu. Dan saya tidak mau menjelaskan lebih jauh, kasus yang seperti saya alami ini. Sebab banyak orang bener di dunia ini, malah bernasib tragis. Jadi mana keadilan Ilahi itu? Apa saya salah kalau saya protes kepada Tuhan?" kata si Tambun nerocos tanpa rem.

"Anda benar. Allah memang tidak adil!' jawab Kang Soleh.

Seluruh kedai itu sepertinya mau runtuh mendengar ucapan Kang Soleh yang kontroversial.

"Jadi?"

"Yah, keadilan itu tuntutan manusia. Yang adil itu manusia. Keadilan itu adalah persamaaan, keseimbangan dan samarata yang dituntut manusia. Tapi ingatlah bahwa keadilan yang diprotes dan dituntut dimana-mana pasti kehilangan cinta dan kasih sayang. Keadilan senantiasa menuntut persamaan dengan amarah."

"Jadi bagaimana donk hidup ini?"

"Ya nggak bagaimana, bagaimana... Hidup dijalani saja. Kalau hidup nuruti kehendak sampean itu, semua orang pasti berperut gendut, semua orang jualan kopi, semua gaji sama, semua pinter dan semua bodoh. Semua sama rata kayak komunis. Itu keadilan. Tetapi Allah itu memang tidak adil, jadi ada yang bodoh, ada yang pinter, ada yang cantik ada yang jelek, ada yang nyentrik ada yang lugu, ada pendusta ada yang jujur, ada maling ada yang dimalingi..."

Si Tambun itu hanya diam saja menunggu kata-kata Kang Soleh selanjutnya.

"Jadi, itulah Kemahaadilan Allah. Allah Maha Adil, tetapi tidak adil. Maha Adil itu yang seperti itu, jadi jangan protes orang kurus, kalau anda tambun. Karena dibalik kekurusan kawan anda, disana ada hikmah kasih sayang yang tersembunyi. Dibalik kemlaratan orang fakir, disana ada hikmah kedermawanan orang kaya. Dibalik kebodohan umat, ada perjuangan para Ulama. Dibalik wajah cantik perempuan tersimpan ujian bagi lelaki.  Lalu ketidaksamaan itulah muncul perjuangan cinta dan kasih sayang antar sesama."

"Lhah, kalau saya berjuang, lalu yang memetik hasil justru orang yang dzalim?" kata si tambun itu.

"Salahnya sendiri anda merasa bisa berjuang, bisa berikhtiar, bisa ini dan bisa itu. Apa anda tidak tahu, kalau rizki anda itu sudah digaris oleh Allah, jodoh dan rumah masa depan anda sudah di tulis oleh Allah, bahwa hari ini anda belum kaya itu, bukan karena anda nggak punya rizki, tetapi kekayaan anda masih disimpan oleh Allah. Allah Maha Tahu kapan, berapa, dimana dan bagaimana rizki dan kekayaan anda itu nanti diwujudkan. Anda minta perjuangan anda hari ini, besok membuahkan hasilnya, justru itulah kesalahan besar anda."

"Kesalahannya dimana Kang?"

"Ya, tadi anda merasa bisa mengandalkan jerih payah, kekuatan dan amal anda, seakan-akan syurga dan neraka itu tergantung pada amal baik buruk anda. Padahal.....Sama sekali tidak."

"Kalau begitu kenapa saya harus beramal Kang, kalau saya besok harus ditakdirkan masuk neraka, atau sebaliknya kenapa saya harus berikhtiar, kerja keras kalau garis saya tetap miskin?"

"Kalau anda ditakdirkan masuk neraka, pasti anda ingin jauh dari amal baik, dan anda semakin menuruti hawa nafsu anda. Jika anda ditakdirkan masuk syurga, pasti anda beramal baik, berusaha meraih ridhoNya. Kalau anda bekerja keras, itu pertanda anda ditakdirkan sukses. Jika sampai mati anda belum sukses, maka anak cucu andalah yang akan memetik buahnya....Sebab belum tentu kesuksesan yang anda petik hari ini bisa menyelamatkan dunia dan akhirat anda..."

"Saya harus bagaimana Kang?"

"Nggak usah bingung. Apakah ketika anda bingung itu segala nasib anda lalu berubah seketika?"

Si Tambun itu hanya diam belaka, antara faham dan tidak. Tetapi dia telah merasakan beberapa sentuhan jiwa, minimal ia akan banyak beristighfar karena teklah banyak memprotes ketidakadilan Allah.

Read 8203 times Last modified on Monday, 08 December 2014 17:18
More in this category: « Memburu Allah Kedai Sufi »

Leave a comment