Sat11012014

Last update08:13:07 AM GMT

Back Wawancara Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara

Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara

  • PDF
Article Index
Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara
Halaman 2
Halaman 3
Halaman 4
All Pages

Agus Sunyoto M.Pd
Belakangan ini, banyak studi tentang Siti Jenar meramaikan semarak tasawuf di negeri kita. Salah satunya, Novel Suluk Abdul Jalil, Perjalanan Ruhani Syeh Siti Jenar (LKiS, 2003) karya Agus Sunyoto. Cover dari

 novel tujuh jilid tersebut cukup menarik. Ada seorang pakaian putih, berkerudung daun pisang. Kepalanya tak tampak karena tertutup kerudung daun itu. Sungguh mistik, semistik kandungan isinya. Ia menggambarkan sebuah perjalanan sunyi spiritual (suluk) yang tidak harus diketahui orang, atau bahkan disesatkan masyarakat sekalipun.

Yang menarik, novel hasil riset ini merujuk kepada teks Jawa-Baratan yang melihat Siti Jenar lebih manusiawi. Hal yang berbeda dengan mitos di Jawa-Tengahan. Di belahan ini, Siti Jenar dianggap evolusi mistis dari cacing yang "mencuri ilmu" pengajaran Sunan Bonang atas Sunan Kalijaga. Menarik, karena Agus Sunyoto mampu menemukan aspek gerakan politik egalitarian yang mengobrak-abrik feodalisme Rajadewa di Jawa. Satu pembaruan politik yang mungkin sangat modern, karena wahdatul wujud kemudian melahirkan kontrak sosial selayak demokrasi klasik.

Apakah ini yang membuat ajaran Siti Jenar disesatkan? Betulkah ia melampaui syari'at? Kenapa harus bersitegang dengan Walisongo, dan benarkah ketegangan itu? Bukankah Dewan Wali juga sudah mencapai maqam manunggaling kawula gusti? Dan bagaimana aplikasi ajaran Siti Jenar terhadap kegersangan spiritual urban di era materialistik ini? Berikut ini wawancara Cahaya Sufi dengan salah satu pendekar peradaban Nusantara asal Surabaya, yang sangat hafal lekuk sejarah, bahasa, dan kebudayaan Hindu-Jawa tersebut. 

Sejak kapan mas Agus melakukan riset tentang Siti Jenar, dan kenapa memilih tokoh ini sebagai objek riset? Adakah momen spiritual spesial, yang menggerakkan mas untuk menulis novel Siti Jenar?
Saya mulai kenal nama Syaikh Siti Jenar (SSJ) sejak kakek saya bercerita tentang tokoh tersebut. Kakek orang asal desa Ploso, Jombang, santri Tebuireng angkatan pertama. Kakek saya cerita kalau ajaran SSJ beliau peroleh dari KH Hasyim Asy'ari. Sejak menulis cerbung Kyai Ageng Badar Wonosobo di Jawa Pos tahun 1987-1988, saya sudah ngumpulkan data tentang SSJ.

Penelitian intensif saya terhadap ajaran SSJ lewat Thariqat Akmaliyyah saya  mulai tahun 1999. Momentum saya nulis cerita  SSJ dipicu oleh  terjadinya peristiwa  2 November 2001 yang 'melukai' jiwa saya. Saat itu saya diundang teman-teman aktivis NU di Jogja untuk bicara geopolitik-geostrategi pasca jatuhnya Gus Dur. Dalam acara itu, saya dapati sekulerisme dan rasionalisme yang empirik materialistik sangat menguasai cara pandang anak-anak muda NU. Mereka lebih yakin kebenaran gagasan Karl Marx, Georg Lukac, Antonio Gramsci, Jacques  Derrida dalam filsafat dan teori-teori  sosial daripada kebenaran  agama. Bahkan mereka anggap term-term iman dan taqwa dalam perubahan sosial sebagai 'takhayul' yang tidak bisa dijadikan pijakan analisis sosial.

Saat itu saya terilhami untuk memberi alternatif teoritik dalam filsafat dan perubahan sosial yang khas Nusantara kepada anak-anak muda NU ini, yaitu momentum sejarah di era Walisongo yang dimotori SSJ. Dari 7 jilid buku SSJ yang saya tulis, konsep filosofis dan sosiologi saya tuang di buku 3-4-5 dengan titel Sang Pembaharu. Jadi lewat buku SSJ saya memberi alternatif pilihan bagi kawan-kawan aktivis NU dalam penggunaan teori sosial dengan asumsi dasar, paradigma, dogma, doktrin, mitos yang khas Nusantara-Islam (maaf, selama ini orang Indonesia yang dididik di sekolah  selalu mengekor teori-teori Barat & tidak mampu membangun teori sendiri).


Jika ini riset, kenapa dituangkan dalam bentuk novel? Apakah penulisan ilmiah kognitif tidak memadai bagi pengalaman spiritual?
Konsep penulisan ilmiah kognitif adalah hegemoni Barat dalam pengetahuan. Saya menolak itu. Sebab konsep itu hanya berpijak pada ilmu akal (rasio). Sementara pengetahuan Islam dan Timur, mengenal dua sistem pengetahuan:
1) Ilmu Akal/Nalar yang berpusat di otak manusia;
2) Ilmu Qalbu/ Kaweruh yang berpusat di qalbu manusia.

Sepanjang saya pelajari sejarah, hampir semua naskah dari era Kalingga sampai Majapahit menggunakan bahasa sastra seperti

  1. Perjalanan Hayam Wuruk dalam reportase Pu Prapanca yang diberi judul Negarakertagama ditulis dalam bahasa sastra;
  2. Sejarah Perang Bubat ditulis dalam bahasa kidung;
  3. Penegakan awal  Majapahit hingga pemberontakan Ranggalawe ditulis dalam sastra yaitu Kidung Panjiwijayakrama yang isinya identik dengan isi  prasasti2; di kitab ketatanegaraan seperti Nitipraja ditulis dalam bentuk sastra. Hanya KUHP seperti Kutara Manawa yang ditulis tidak dalam bahasa sastra.
Lewat institusi  sekolah, Barat sudah menghegemoni pikiran kita, dengan asumsi dasar bahwa karya-karya sastra adalah karya imajiner yang tidak ilmiah. Ini sangat hegemonik dan konyol, karena karya-karya fiksi seperti Republic yang ditulis Plato, The Utopian Island yang ditulis Thomas Moore, City of The Sun yang ditulis Tomasso Campanella, Also Sprach Zaratushtra yang ditulis Nietzsche, bahkan teori Karl Marx yang imajiner tentang masyarakat komunis dianggap karya filsafat. Sementara kalau karya reportase, sejarah, tatanegara, filsafat, hukum  ditulis dalam bentuk sastra oleh bangsa kulit berwarna dinilai karya imajiner. Itu ras diskriminasi. Kita yang bodoh dan bermental inlander saja yang menerima dan mengekor pandangan Barat itu dengan membuta. Jadi sebagai seorang yang sadar akan eksistensi diri manusia merdeka,  saya tulis hasil penelitian saya dalam bentuk novel sebagai resistensi saya terhadap hegemoni Barat dan sekaligus membangkitkan budaya lama Nusantara. Lantaran itu karya-karya novel saya selalu disertai exegese dan daftar pustaka. Dan ternyata, masyarakat Nusantara  lebih mudah memahami penjelasan lewat bahasa sehari-hari yang saya sampaikan daripada jika saya gunakan bahasa ilmiah ala Barat (baca novel saya Rahuvana Tattwa).

Apa penemuan baru yang mas temukan dalam riset tersebut, mengingat Siti Jenar merupakan simbol kontroversi dalam sejarah tasawuf kita? Apakah ia sebatas mitos, yang ditulis untuk menggambarkan pergulatan kebudayaan Islam Jawa, ataukah sebagai person sejarah, ia nyata ada?
Karena penelitian yang saya lakukan menggunakan pendekatan kualitatif yang sebenarnya sudah digunakan sarjana-sarjana muslim di masa silam, maka obyek-subyek yang saya teliti adalah tarikat-tarikat yang menisbatkan ajaran kepada SSJ. Itu berarti, SSJ bukan tokoh fiktif karena meninggalkan ajaran tarikat yang riil diikuti masyarakat hingga di jaman ini.

Temuan saya yang unik tentang ajaran tarikat SSJ itu, sbb:
  1. tidak ada mursyid dalam wujud manusia karena mursyid ada di dalam ruhani manusia (seperti konsep Dewaruci dalam ajaran Sunan Kalijaga);
  2. menafikan semua pengkultusan terhadap manusia, benda-benda bertuah, makam-makam keramat,  dan makhluk gaib;
  3. tidak mengenal konsep jama'ah dalam mujahadah sehingga dilakukan sendiri-sendiri karena itu ajaran  jadi tertutup dan terrahasia;
  4. mengajarkan filsafat sebagai ilmu akal dalam memahami konsep Tauhid untuk memulai perjalanan ruhani sebagai pijakan awal dalam memasuki ajaran ruhani yang hanya menggunakan ilmu qalb;
  5. SSJ tidak mengajarkan cara menuju surga maupun menghindari neraka karena keduanya dianggap makhluk, sehingga inti ajarannya hanya terfokus pada bagaimana cara menuju Allah;
  6. tidak ada doa-doa dan wirid-wirid maupun hizb yang memberi peluang pamrih bagi manusia untuk meminta nikmat kepada Allah;
  7. SSJ hanya mengajarkan dzikir dan tanafus dalam rangka menuju Allah. Saya kira, dengan ciri-ciri ini, wajar jika ajaran SSJ jadi kontroversial dalam sejarah tasawuf di Nusantara.

Mohon penjelasan tentang ajaran Siti Jenar, terkait sasahidan, sangkan paraning dumadi, awang-uwung, dan manuggaling kawula gusti.
Yang dimaksud Sasahidan adalah ajaran tentang  persaksian dalam perjalanan ruhani mendaki (taraqqi) menuju Allah. Persaksian al-murid menuju Al-Murid melalui maqam-maqam.

Puncak dari  persaksian adalah saat keakuan seseorang sudah lenyap (fana') tenggelam  dalam Allah.  Saat itulah   seluruh makhluk mempersaksikan bahwa keakuan yang lenyap itu telah bersemayam di dalam Dzat Tuhan Yang Mahasuci dan karenanya memiliki sifat-sifat Ilahi. Itulah tahap penyatuan Ruh Ilahi  yang bersemayam di dalam diri manusia saat ditiupkan (nafakhtu)  pada waktu penciptaan dengan Allah yang meniupkan-Nya. Itulah tahap kembalinya Ruh al-Haqq kepada Al-Haqq.

Itulah tahap puncak kembalinya unsur Ilahiyyah di dalam diri manusia (Ruh al-Haqq) kepada Sang Pencipta (ini tidak bisa dijabarkan secara ilmiah karena merupakan pengalaman ruhani yang tak terwakili oleh bahasa manusia. Ini sama dengan peristiwa ruhani Isra' wa Mi'raj yang tidak bisa dijabarkan secara ilmiah).


Yang dimaksud Sangkan Paraning Dumadi adalah ajaran yang memutlakkan Huwa sebagai Dzat Mutlak yang Azali yang menjadi Sumber segala sumber penciptaan. Huwa itu tak terjangkau akal. Tak terjabarkan konsep. Tak terbandingkan. Huwa adalah Huwa. Tan kena kinaya ngapa. Tidak bisa diapa-apakan. Laisa kamitslihi syai'un. Dia dilambangkan dengan Suwung. Hampa. T