Fri05182012

Last update06:05:04 AM GMT

Back Psikologi Sufi Rindu Yang Hilang

Rindu Yang Hilang

  • PDF

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Pak Kyai, saya sering mengalami fase dimana saya ingin malakukan suatu ibadah shalat. Salah satunya, hati saya begitu haru dan bergetar begitu mendengar adzan memanggil. Saya merasa

inilah shalat terakhir saya, saya rindu dengan Allah, tapi pak kyai setelah saya masuk dalam ritual shalat malah otak saya jadi blank, kosong, tiba-tiba rasa yang tadi saya rasakan hilang begitu saja tanpa bekas.

 

Saya merasa sedang berdiri di depan pintu rumah yang tak berujung dan berpangkal begitu luas, saya coba ketuk pintu tersebut dan terbuka tapi aneh tak ada siapa. Disana kosong hanya kabut tak bertepi yang menyambut saya masuk,padahal tadi saya mendengar ada yang mempersilahkan saya masuk tapi kemana hilangnya. Saya gelisah rasa ini selalu terjadi pada saya. Tolong pak Kyai ada apa dengan saya. Apakah itu menandakan dosa-dosa saya yang begitu bertumpuk, apa yang harus saya lakukan.
Atas tuntunannya saya ucapkan jazakalllah khoiron katstir.

Wasalamu’alaikum Wr. Wb
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

Jawab:
Anda kan lagi sholat, kenapa harus menikmati bayangan-bayangan dibalik blank-mu itu. Sholat itu menghadap Allah, bukan supaya muncul getaran atau keharuan. Apa bisa menciptakan rasa rindu, rasa haru dan getaran? Toh semua itu dari Allah Swt, terserah Dia, apakah dimunculkan atau tidak.

Karena anda sering terpantul oleh perasaan-perasaan seperti blank, suasana fenomena, maka anda jadi narsis dalam beribadah (shalat). Karena itu anda gelisah ketika fenomena itu sirna, dan kegelisahan anda tidak lebih dari nafsu anda yang menyertai shalat anda. Karena itu anda harus melawannya, kalau tidak syetan akan merasukinya.

Lebih dari itu, anda masih beri’timad (mengandalkan) amal ibadah anda, karena tanda seseorang masih mengandalkan amalnya, menurut Ibnu Thaillah as-Sakandary, adalah hilangnya harapan kepada Allah ketika seseorang berbuat salah atau dosa.

I’timad itu hanya kepada Allah, bukan kepada amal ibadah. Karena amal ibadah itu juga makhluk, bukan Khaliq.

Orang yang I’timad kepada Allah, pasti ahli ibadah, tetapi tidak sebaliknya yang kelihatan ahli ibadah itu pasti I’timad kepada Sang Pencipta Ibadah.

Kalau anda bisa beribadah, lihatlah fadhal dan rahmatNya menyeliumuti anda, bukan melihat usaha dan ikhtiar serta amal ibadah anda.

 

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com